Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.

Ilmu pengetahuan selalu berkembang seiring berjalannya waktu, hal ini terjadi dalam semua bidang ilmu. Demikian halnya dengan ilmu psikologi. Setelah mengenal beberapa mazhab seperti psikoanalisis, bihavioristik dan humanistik, kini dunia psikologi memperkenalkan psikologi transpersonal. Dalam tulisan ini akan dijelaskan secara singkat mengenai mazhab keempat dalam ilmu psikologi yaitu psikologi transpersonal.

Psikologi Transpersonal dikembangkan pertama kali oleh para ahli yang sebelumnya mengkaji secara mendalam bidang humanistik seperti Abraham Maslow, C.G. Jung, Victor Frankl, Antony Sutich, Charles Tart dan lainnya. Dengan melihat dari para tokoh awalnya maka dapat diketahui bahwa psikologi transpersonal merupakan turunan langsung dari psikologi humanistik. Yang membedakan antara psikologi humanistik dan psikologi transpersonal adalah didalam psikologi transpersonal lebih menggali kemampuan manusia dalam dunia spiritual, pengalaman puncak, dan mistisme yang dialami manusia. Beberapa kalangan berpendapat bahwa bidang spiritualitas dan kebatinan hanya didominasi oleh para ahli-ahli agama dan juga praktisi mistisme, namun ternyata dalam perkembangannya, kesadaran akan hal ini dapat diaplikasikan dan dibahas dalam ilmu pasti.

Secara garis besar seperti yang dikemukakan oleh Lajoie dan Shapiro dalam Journal of Transpersonal Psychology didefinisikan psikologi transpersonal sebagai studi mengenai potensi tertinggi dari manusia melalui pengenalan, pemahaman dan realisasi terhadap keesaan, spiritualitas dan kesadaran-transendental. Psikologi transpersonal juga melepaskan diri dari keterikatan berbagai bentuk agama yang ada. Namun walau demikian dalam penelitiannya psikologi transpersonal mengkaji pengalaman spiritual yang dialami oleh para ahli spiritual yang berasal dari berbagai macam agama sebagai subjek penelitiannya.

Psikologi transpersonal berpendapat bahwa potensi tertinggi dari individu terdapat dalam dunia spiritual yang bersifat non-fisik, hal ini ditunjukkan dengan berbagai pengalaman seperti kemampuan melihat masa depan, extrasensory perception (ESP), pengalaman mistik, pengembangan spiritualitas, pengalaman puncak, meditasi dan berbagai macam kajian yang bersifat parapsikologi atau metafisik. Dengan menyadari betul tentang keadaan manusia yang bukan hanya terletak pada dunia fisik semata dan meyakini bahwa inti terpenting dari individu terletak pada dunia spiritual yang bersifat kasat mata dan abstrak. dengan kata lain psikologi transpersonal memandang kita sebagai makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia dan bukanlah manusia yang memiliki pengalaman spriritual.

Dengan berbekal teori dan juga penelitian yang sesuai dengan sifat keobjektifan ilmu pengetahuan, maka dalam perkembangan pengkajian terhadap berbagai macam hal-hal mistis dan kebatinan tidak lagi menjadi suatu hal yang tabu untuk dibahas dan bahkan dipelajari, selama dalam penggunaannya memberikan manfaat yang baik dan berguna bagi perkembangan kehidupan manusia. Dari hasil penelitian Telah dibuktikan bahwa Individu cenderung untuk tidak membicarakan pengalaman puncak mereka dengan orang lain. Alasan yang paling banyak adalah bahwa mereka merasa pengalaman itu bersifat sangat personal, intim, dan tidak ingin mereka bagi; bahwa mereka tidak mempunyai kata-kata yang memadai untuk menceritakannya; atau mereka ketakutan jika orang lain akan melecehkan pengalaman itu atau menganggap mereka tidak waras atau sejenisnya.

Psikologi transpersonal mengkombinasikan ketiga mazhab psikologi yang telah ada sebelumnya dengan cara mendialogkan semua teori dengan keadaan manusia sebagai makhluk spiritual. Meski selalu mendapat tentangan keras dari mereka yang beraliran positivis dan juga materialis dilain sisi psikologi transpersonal mendapatkan tempat yang baik dalam bidang akademik dengan dimulainya berbagai macam penelitian yang bertujuan mengkaji dimensi spiritual manusia, dengan ini maka era milennium ini yang disebut-sebut sebagai era aquarian benar-benar telah terwujud.

Kutipan dibawah ini diambil dari majalah rohani yang berjudul awake:

”Menurut para peneliti di Yale University, AS, anak-anak bayi bahkan yang masih berusia enam bulan telah mengembangkan ”kemampuan memberi penilaian terhadap perilaku orang sebelum mereka (dapat) berbicara”. Anak-anak bayi yang berusia antara enam hingga sepuluh bulan memperhatikan sebuah boneka bermata besar yang mencoba mendaki bukit, sementara boneka-boneka lain ada yang berupaya membantunya atau mendorongnya turun. Lalu, anak-anak itu ”disuruh memilih boneka mana yang ingin mereka ambil untuk mainan”, jelas Houston Chronicle. ”Hampir semua bayi memilih boneka yang senan membantu ketimbang boneka yang nakal.” Jadi, surat kabar itu mengatakan bahwa sampai taraf tertentu, ”bahkan anak-anak bayi sudah dapat membedakan antara teman bermain yang nakal dan yang baik, serta tahu membuat pilihan”.

Melalui penelitian diatas, kira-kira saya dapat menebak mengapa bayi-bayi tersebut memilih mainan yang ’baik’ dibandingkan mainan nakal yang tidak membantu. Tebakan klise, yaitu survival. Bayi dalam ’ketidakmampuan’nya sudah memiliki software bawaan untuk menghindari bahaya – dalam hal ini yaitu boneka-boneka yang akan menarik dirinya jika ia mendaki bukit. Sebuah fakta yang menakjubkan! Masing-masing dari kita ketika lahir kedalam dunia sudah memiliki komponen bawaan yang berguna bagi kelangsungan kehidupan!

Lalu mengapa kemudian komponen tersebut seakan-akan ’hilang’ ketika seseorang beranjak remaja (dan later development)? Kita sering keliru memilih teman yang baik.

Kita bisa melihat remaja ingin mengidentifikasi dirinya sebagai ’seorang populer dengan kekuasaan dimana-mana (dengan aktivitas bergosip, menjelekkan orang lain, being cruel, etc)’, dan setiap anak seems dying supaya bisa masuk kedalam kelompok tersebut. Atau kelompok populer lain yaitu anak bandel yang merokok, mabuk, nge-trek, pembolos, etc sebagai prototipe ’cowok keren’. Semua itu pasti pernah terbersit dalam pikiran kita, saya maupun Anda setidaknya sekali dalam hidup ini. ”It must be cool to be identified as their gang”. Tapi kemudian kita mengabaikan survival, dan membiarkan insting kematian (thanatos) kita menguasai pikiran kita. Komponen bawaan kita semenjak bayi pun akhirnya terlupakan (to choose the better instead of worse-naughty friends).

Needs, mungkin jawabannya. Jika melihat piramida kebutuhan Maslow, maka kebutuhan akan rasa aman (yang kita lihat melalui perilaku survival bayi) beranjak pada kebutuhan lain yang skalanya lebih tinggi. Sense of belongingness dan self-esteem adalah kebutuhan yang bisa diperoleh seseorang dalam keanggotaan kelompok ‘keren’ tersebut, tapi saya rasa mereka kemudian mengabaikan ‘kebutuhan’ security. Perkembangan manusia setelah anak-anak menciptakan sebuah ilusi yang berdasar pada kebudayaan dan kebutuhan. Dengan mengidentifikasi diri dengan kelompok, maka seseorang mungkin merasa aman, tapi sebenarnya tidak mendapatkan ‘aman’ itu sendiri. Rasa aman hanyalah ilusi dari keadaan ketidak-amanan yang sebenarnya. Sehingga kebutuhan diatasnya pun juga hanyalah ilusi belaka.

”So prepare your ammunitions. Get out of the illusions. Identify your self as a man that we are human meant to be by the evolution.”

Oleh:
Lora ^^

Sebetulnya, kemampuan membaca pikiran orang lain dapat terjadi secara sadar. Namun ada kondisi-kondisi yang harus dimiliki seseorang agar dia dapat melakukannya. Seseorang harus memiliki jenjang pendidikan yang tinggi (agar bisa menangkap maksud tersirat dari kata-kata dan bahasa tubuh), intelijensi tinggi (khususnya kepintaran verbal), pikiran yang terbuka dan kesehatan mental yang baik (agar dia tak mencampuradukkan antara emosi orang lain yang “tertangkap” dan emosi yang dimilikinya). Selain itu, ada beberapa kiat agar dapat membaca pikiran orang lain dengan lebih baik.

Kiat pertama, kenali orang yang hendak kita baca pikirannya. Dengan mengenali orang tersebut, kita tahu arti tersirat dari kata-kata yang dikeluarkannya dan bahasa tubuhnya. Selain itu, kita juga tahu konteks dari petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh orang itu kepada kita.

Kiat kedua, latihan. Mintalah umpan balik dari kesimpulan dari hasil mindsight yang kita lakukan. Dengan begitu, kita tahu simpula kita yang salah dan yang benar.

Kiat ketiga, perhatikan mata dari orang lain. Biasanya, emosi yang bersifat dasar sedih, senang, marah, dan jijik) dapat terbaca dari mata.

Kiat keempat, jadilah orang yang ekspresif. Keekspresifanbersifat menular. Saat kita bersikap ekspresif, orang lain juga akan lebih ekspresif. Dengan begitu, lebih banyak petunjuk yang diberikan oleh orang tersebut.
Kiat kelima, rileks. Karena kita dapat merasakan emosi orang, artinya orang dapat merasakan emosi kita. Jika kita merasa tegang, emosi tersebut bisa di-copy oleh orang yang hendak kita baca pikirannya, sehingga membuat emosi dirinya yang sebenarnya menjadi tertutup.

aku bermimpi tentang kita semalam
bersama kita di taman ria
melepas kepergian balon udara jingga tak bertuan
dengan gembira kita tiupkan gelembung-gelembung udara untuk mengantar kepergiannya
namun, apa maksud kepergian balon udara jingga itu kita tak tahu
aku juga tak tahu kenapa kita segembira itu melepas kepergiannya
mungkinkah ia membawa serta kepedihan masing-masing dari kita?
aku tak tahu
tapi aku tahu aku ingat satu hal
kau mengenakan gaun mini berwarna senada dengan sang balon udara
apakah itu artinya sang balon udara belum sepenuhnya membawa kepedihan hatimu?
050908


Puisi ini adalah sebuah fenomenon yang cukup menarik karena menstimulus sebuah pertanyaan dalam diri saya, “benarkah seoranng manusia bisa membaca pikiran orang lain?”.

Puisi ini dikirimkan oleh seorang teman saya (mulai sekarang kita sebut sebagai “P”) kepada temannya yang lain (kita sebut “N”). Isinya cukup jelas, tentang mimpi P pada malam sebelumnya. Di mimpi tersebut, P dan N sedang di taman ria. Mereka merasa gembira saat melepas sebuah balon jingga. Tapi, N ternyata mengenakan gaun berwarna sama dengan balon tersebut.

Setelah P terbangun, dia mencoba untuk mencari tahu arti dari mimpi tersebut. P ingat bahwa akhir-akhir ini, mereka berdua (P dan N) sedang mengalami masa-masa sulit. Tetapi, perlahan P kembali pulih. Begitu juga yang terlihat pada N. Maka, P menyimpulkan bahwa balon udara berwarna jingga tersebut adalah simbol dari masa sulit mereka yang telah meninggalkan mereka. Tetapi, dalam mimpi tersebut, N memakai baju yang serupa dengan balon udara yang menjadi lambang masa sulit mereka. P berpikir, mungkin hal ini juga menandakan sesuatu. Mungkin, dibalik yang terlihat, N masih merasakan kesedihan dari masa sulit yang dia alami dulu. Mungkin N masih belum pulih sepenuhnya sejak meninggalkan masa sulit tersebut.

Kemudian, P pun menulis puisi di atas. Dia lalu mengirimkannya pada N beserta pemikirannya mengenai arti dari mimpi tersebut. Tanpa pernah diceritakan secara langsung oleh N mengenai kesedihan N yang belum pulih, rupanya tebakan P benar. Oleh karena itu, saya menyimpulkan bahwa P telah membaca pikiran N. Perlu dicatat di sini bahwa P bukanlah seorang mahasiswa psikologi, yang artinya, dia tidak pernah mendapatkan latihan khusus mengenai empati.

Selama beberapa bulan setelah kejadian ini, saya terus memantau mimpi-mimpi yang dimiliki oleh P. Walau dengan teknik observasi dan wawancara informal, saya menemukan bahwa mimpi-mimpi P terkadang cukup tepat dalam menebak kondisi internal orang lain, walau pun banyak juga yang merupakan gambaran dari pandangannya terhadap suatu masalah.
Proses Membaca Pikiran
Apakah yang disebut dengan kemampuan membaca pikiran? Daniel Siegel, seorang psikiater dari UCLA, menganggap kemampuan membaca pikiran sebagai kemampuan untuk mempersepsi isi pikiran orang lain dengan mengartikan petunjuk-petunjuk yang diberikan (baik secara sadar atau pun tidak sadar) oleh orang tersebut. Siegel memberi nama kemampuan ini mindsight, atau kemampuan otak untuk membuat peta dari kondisi mental orang lain. William Ickes dari University of Texas memberikan konsep lain, yaitu Empathic Accuracy, yaitu kemampuan untuk secara tepat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Kemampuan membaca pikiran orang lain ini sebenarnya dimiliki oleh setiap orang. Mungkin kita ingat kalau kita kadang menebak mood orang lain sebelum kita meminta sesuatu darinya, ini adalah contoh dari kemampuan membaca pikiran. Tapi, memang tidak mudah untuk membaca pikiran orang lain. Tingkat keakuratan seseorang untuk membaca pikiran orang yang baru pertama kali dia temui adalah 20 persen. Tingkat keakuratan membaca pikrian antar teman baik atau suami-istri adalah 35 persen. Hampir tak ada orang yang memiliki tingkat keakuratan membaca pikiran di atas 60 persen. Tetapi, kemampuan ini adalah kemampuan yang cukup penting dalam kehidupan sosial, dan merupakan kemampuan yang dapat dilatih.

Bagaimana proses P membaca pikiran N? Ada dua pendekatan yang terjadi. Yang pertama adalah melalui bantuan indera. Yang kedua, dengan kemampuan manusia untuk menangkap emosi dari manusia yang ada di dekatnya. Kedua pendekatan tersebut bersifat saling melengkapi. Pada pendekatan pertama, P mendapatkan informasi mengenai kondisi internal N melalui hal-hal yang dapat ditangkap oleh indera P. Misalnya, P mungkin menangkap maksud dari perkataan-perkataan N yang bersifat tersirat mengenai keadaan dirinya (bahkan yang N sendiri tak sadar bahwa itu adalah sebuah curahan isi hati). P mungkin juga menangkap adanya tanda-tanda kesedihan dari bahasa tubuh atau getaran dan nada suara yang dikeluarkan N. P juga mungkin saja menangkap adanya kesedihan dari ekspresi wajah N (khususnya mata yang sangat ekspresif karena dikelilingi oleh banyak otot yang tentunya dipengaruhi oleh kondisi emosi).

Pada pendekatan kedua, P mengetahui kondisi N karena P menyamakan frekuensi emosinya dengan N. Manusia memang memiliki kemampuan untuk melakukan hal ini. Saat kita mengikuti perkataan, ekspresi, gerak tubuh, dan sikap fisik orang lain, kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Bahkan, dengan berada di dekat orang lain saja, kita dapat “menangkap” perasaan orang lain dan menyalinnya menjadi perasaan kita sendiri dengan mengubah kondisi fisiologis tubuh kita agar serupa dengan orang tersebut. P mungkin menangkap sinyal emosi sedih yang dikeluarkan oleh N.

Jika diperhatikan, usaha dari menjelaskan fenomenon membaca pikiran yang dialami oleh P didominasi oleh kemungkinan-kemungkinan. Hal ini disebabkan karena P sendiri tidak menyadari bahwa dia telah membaca pikiran N. Informasi-informasi dari indera dan emosi N yang tertangkap bersifat terlalu halus sehingga hanya dapat ditangkap oleh alam bawah sadar P. Sesuai dengan fungsinya, mimpi –- yang menjadi alat penghubung antara alam sadar dan alam bawah sadar— digunakan oleh alam bawah sadar P untuk memberitahukan alam sadar P mengenai apa yang diketahuinya. Akhirnya, alam sadar P pun tahu kalau P telah menangkap kesedihan N.
Kesimpulan
Mungkin konsep “Membaca Pikiran” yang terjadi pada fenomenon P ini tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh anda (yaitu, kemampuan psychic atau kemampuan superhero di dalam komik Marvel atau DC). Tetapi, sampai saat ini, memang belum ada suatu alat yang dapat mengukur secara tepat apakah seseorang dapat melirik ke dalam pikiran orang lain, sehingga apakah kemampuan itu ada atau tidak di dunia ini masih belum dapat dibuktikan. Dalam kasus P, yang terjadi hanyalah P secara tepat menangkap sinyal-sinyal hasil sampingan dari pikiran otak, dimana kemudian P dapat secara tepat merekonstruksi ulang proses berpikir orang tersebut. Kesimpulan terjauhnya adalah, P memang memiliki tingkat sensitifitas tinggi terhadap apa yang dipikirkan orang lain, dengan mengartikan (secara tidak sadar) sinyal-sinyal yang dipancarkan orang tersebut. (Dion)


Saya baru mengerti mengapa saya disekolahkan oleh keluarga saya. Selain untuk mengenyam pendidikan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik (terutama dalam luasnya khazanah pengetahuan), namun faktor yang paling ditekankan adalah untuk membentuk jalan pikir seseorang.

Mari kita bandingkan dua orang yang berpendidikan sama dengan yang tidak berpendidikan. Kebetulan saya mengenali keduanya:

A adalah seorang pengusaha. Ia adalah ibu dari dua orang anak. A alumni ITB, bisa bahasa Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, dan Jepang. Selain pendidikan yang baik, A juga memiliki keahlian terutama dalam bidang seni. Seni inilah yang mengantarkannya ke luar negeri.
Latar belakang A adalah A dilahirkan dikeluarga yang berpendidikan. Keduanya orang tuanya berprofesi sebagai dosen di universitas ternama di Bandung. Dan saat ini, suaminya pun seorang dosen di universitas sangat ternama di Bandung. Heu heu.

B adalah seorang ibu rumah tangga yang berprofesi sebagai pelatih model anak kecil. Ia juga ibu dari dua orang anak. B keluaran SMA dan tidak bisa berbicara asing. Dan suaminya bekerja di A.

A memiliki ambisi bisnis yang sangat besar sedangkan B memiliki ambisi mengeluarkan uang sangat cepat. Namun sayang, mungkin harapan B memiliki suami kaya tidak tercapai, B sering stress dan memiliki tekanan darah tinggi. Belakangan ini sering terjadi KDRT. Sering memaki, saling menganjingi, beradu kekuatan fisik, dituduh selingkuh, dan lainnya. Pernah pundung kembali ke kampung halamannya, namun akhirnya balik ke Bandung juga.

Suatu saat, A mengusulkan agar menyekolahkan anak B karena anak B hanya sampai SMA. Namun B malah berkata, "Alaaah, sok mau menyekolahkan. Kesinikan saja duitnya!". Tentu saja A sakit hati dan tidak jadi menyekolahkan anaknya.

Perlu dicermati, wahai pembaca, tentang apa yang dikatakan B berdasarkan latar belakang pendidikannya. Setelah lulus SMA, B menikah dan tidak mengenyam pendidikan atau pelatihan apa-apa. Jalan pikirannya sempit, hanya bagaimana cara mendapatkan uang dan bagaimana menghabiskannya. Ia tidak memikirkan sebuah proses panjang namun akan berbuah hasil yang baik (dan tidak melulu uang) yang bernama pendidikan. Contohnya manusia belajar matematika dari akar, aljabar, logaritma, dan integral dengan cara manual bukan semata-mata untuk berhadapan dengan masalah yang akan ditemui sehari-hari. Hey, sekarang sudah ada kalkulator! Tapi matematika dimaksudkan untuk membentuk jalan pikir seseorang untuk menyelesaikan masalah. Manusia diajarkan membalikan keadaan/situasi dalam pikirannya untuk melihat akar masalahnya dimana.

Yang saya perhatikan, walaupun tidak semua, orang yang berpendidikan jarang melakukan kekerasan. Orang yang berpendidikan kebanyakan menggunakan cara yang tidak kotor misalnya korupsi, menipu orang, stab from the back, dan lainnya. Mereka melakukan itu karena mereka tahu strateginya. Ya memang ada saja sih, tapi kalau diperhatikan lebih teliti, di berita kriminal itu kan kebanyakan dilakukan oleh orang yang menengah ke bawah karena masalah ekonomi sehingga tidak bisa sekolah tinggi. Mereka yang ingin mendapatkan uang secara cepat, dengan menggunakan cara kotor, mereka membunuh atau mencuri. Mereka yang ingin dipuaskan secara seksual, memperkosa orang lain. Tidak bisa membayar pelacur, ya terpaksa anaknya. Menurut saya, ini dikarenakan jalan pikir yang dangkal dan mau enaknya mendapatkan sesuatu. Seperti yang Anda tahu, wahai pembaca, biaya semester kuliah itu sangat mahal! Katanya negeri, tapi bayarnya sama seperti swasta. Ironis, pendidikan hanya bisa dikenyam oleh orang kaya. Sekedar modal motivasi saja tidak bisa karena untuk mendapatkan beasiswa, orang harus pintar.

Maksud saya menceritakan ini adalah jika manusia Indonesia tidak berpendidikan karena mahalnya biaya pendidikan, ini bisa gawat! Padahal, menurut KKBI, pendidikan artinya proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Jika tidak berpendidikan, mereka akan berpikiran X=Y, Y=Z, maka X=Z padahal tidak selamanya X=Z. Oh pemerintah, tolonglah turunkan harga pendidikan. Jangan premium saja yang diturunkan lima ratus rupiah.

Nia


Pernahkah anda bertemu dengan seseorang yang memberikan rasa aman dan nyaman ketika keberadaan dirinya berada ditengah-tengah anda. Dimana dengan berada dekat dengannya kita juga merasakan ketertarikan, kalau dirasa-rasa hanya dirinya yang menjadi pusat perhatian kita, walaupun mungkin secara rasional ada banyak orang lain lebih dari dirinya entah itu lebih cantik, lebih ganteng, lebih wangi dan lebih bersih??? Atau mungkin anda adalah seseorang yang cenderung digemari oleh lawan jenis anda secara berlebihan, misalkan di “tembak” berkali-kali, atau memiliki pemuja tetap padahal anda tahu bahwa anda bukanlah artis, rockstar, model ataupun pemain sinetron, tapi banyak orang-orang yang tergila-gila terhadap anda setelah mengenal anda...???

Kepribadian yang menarik serta sikap baik hati yang dilandasi ketulusan terhadap orang lain pastilah disukai oleh setiap orang, ramah tamah, tata krama yang nampak dan juga perhatian khas serta kharisma yang dihasilkan oleh individu merupakan daya tarik yang ampuh bagi individu dalam menghadapi lingkungan sosial dan juga dalam hal pencarian pasangan. Namun adakah hal lain yang menyebabkan seseorang tertarik terhadap orang lain...???

Pheromone adalah jawabannya, zat Pheromone yang berasal dari dalam tubuh, dihasilkan secara alamiah dan ditujukan kepada spesies yang sama, ya, zat pemikat alami, begitulah tanggapan yang melekat pada zat yang satu ini. Pheromone merupakan senyawa kimia alami yang ditemukan pada setiap serangga, hewan dan manusia. Secara alami zat ini memang dihasilkan oleh tubuh, baik itu laki-laki ataupun perempuan. Pada manusia konsentrasi pheromone paling tinggi di temukan di daerah bawah pinggang dan juga daerah ketiak, bercampur bersama keringat dan distribusikan oleh udara kepada orang-orang disekitar anda, yang dengan kata lain pheromone terletak pada bau badan alami manusia (odor). Ketika pheromone tersebar diudara dan terhirup oleh lawan jenis maka akan mempengaruhi perilaku seksual dan juga menarik perhatian lawan jenis. Oleh karena itu ketika kita berada disekitar orang yang memiliki konsentrasi pheromone yang tinggi maka Vomeronasal Organ (VNO), merupakan perangkat alami manusia untuk mendeteksi pheromone, yang terletak pada belakang lubang hidung, akan mendeteksi dan memberikan rangsangan kepada otak untuk terpikat atau tertarik kepada si penghasil pheromone.

Pheromone diperkenalkan pertama kali oleh Peter Karlson dan Martin Lüscher pada tahun 1959 dalam penelitiannya mengenai zat kimia alami yang dihasilkan oleh ulat sutra betina dalam menarik perhatian dan simpati lawan jenisnya. Dari titik awal ini maka para ilmuwan mencari apakah ada penggunaan pheromone dalam interaksi sosial manusia, didapati manusia juga memiliki odor natural yang berfungsi sama. Dalam suatu studi terhadap manusia menunjukkan bahwa individu dapat mengasosiasikan isyarat bau badan dengan sistem imun yang berguna untuk memilih pasangan yang tidak memiliki hubungan dekat dengan dirinya. Dengan menggunakan teknik pencitraan otak, pelaku riset asal Swedia menunjukkan bahwa otak pada pria homoseksual dan pria heteroseksual memberikan respon yang berbeda terhadap dua jenis bau badan yang disamarkan dalam membangkitkan aktifitas seksual, dan pada pria homoseksual itu menunjukkan respon yang sama dengan wanita heteroseksual. Studi diperluas dengan menyertakan wanita homoseksual dan hasilnya sesuai dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya, wanita homoseksual tidak memberikan respon terhadap bau badan pria, melainkan respon mereka terhadap bau badan wanita serupa dengan pria heteroseksual.

Dari hasil penelitian yang dikembangkan maka dengan mengandalkan kepandaiannya, manusia kini mampu menghadirkan pheromone kedalam bentuk wewangian atau perfume dengan membubuhinya dengan pheromone sintetis yang terbuat dari olahan bahan kimia. Dengan konsentrasi yang lebih tinggi dan menjadikan setiap pemakainnya seorang yang memiliki daya tarik yang tinggi. Mungkin cinta bukan berasal dari pandangan pertama tetapi dari hendusan bau badan pertama. 

Sumber:
http://www.sciencedaily.com/releases/2003/03/030317074228.htm
http://www.webmd.com/balance/news/20030319/mens-sweat-may-soothe-womans-soul
http://cas.bellarmine.edu/tietjen/Human%20Nature%20S%201999/what_are_pheromones.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Pheromone

Odllirama

iseng-iseng ikut demo! tapi bukan ama mahasiswa melainkan ama tukang ojek dan temen2 SMA! walhasil, kami mendapat banyak makanan karena meniru orang-orang rendahan yang melakukan penjarahan!
mulai dari tukang ngobat garuk2 bekas-bekas nyipe' gak keruan ampe ke preman terminal..
mulai dari anak mami berseragam SMA, ampe bapak-bapak berseragam SMA (kagak lulus-lulus)
mulai dari timer, tukang parkir, ampe supir angkot,
mulai dari pecundang jalanan masa depan gak jelas ampe satu keluarga lengkap dengan anak-anaknya yang sudah remaja..
sibuk menjarah!

dan semua gue saksikan habis termakan lalapan api Supermarket Yogya di Klender, Jakarta Timur.

Indonesia berdarah!
Indonesia yang biadab!

tapi apalah arti Indonesia pada pikiran segerombolan anak-anak SMA yang kurang kerjaan..??
setau kami sekolah diliburkan..
setau kami jakarta kerusuhan..
setau kami, ada penjarahan..
dan karena sekolah dihentikan pukul 10 WIB, kami punya kesempatan keliling2 jakarta timur melihat kesibukan rakyat..
entah sebuah pesta, entah sebuah perayaan..
entah fenomena kesurupan kolektif, atau sekedar reaksi balik..
buat kami yang kenyang pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) atau PPKN serta Penataran P4,
buat kami yang kenyang pendidikan agama dan rohani sejak SD sampai SMA,
Kejadian itu sama sekali tidak kami lihat dari sudut pandang moral mengenai salah dan benar!

Hampir setahun kemudian gue lulus, namun GAGAL UMPTN!
Masuk salah satu Universitas Swasta di Depok waktu itu hanya formalitas..
sekadar sebuah status supaya dibilang pemuda terdidik..
pemuda terpelajar..
MAHASISWA!
ngerasain yang namanya OSPEK
percayalah ketika gue ngomong bahwa: OSPEK--PSAU disini sama sekali gak manusiawi..
sama sekali gak menunjukkan wajah akademisi, perilaku terdidik..
dan kesan-kesan sains pun berganti dengan warna-warna permabokan, pemalakan dan lain sebagainya.
entah gimana caranya gue survive.
punya muke nyolot ternyata ada gak enaknya juga! heheh..

pelan tapi pasti, gue males ngapa-ngapain!
males kuliah..
gue dah tau seluk beluk perjudian dan permabokan ini kampus dan dah mulai bosen!
3 bulan duduk di bangku kuliah gue cabut!
uang kuliah gak gue bayar, tapi gue gunakan untuk macem-macem yang gak beres..
walau 1/10-nya gue gunakan juga untuk daptar bimbel..
namun itu juga cuman sekedar menghilangkan rasa bersalah dalam hati..
yah sedikit-sedikit gue masih bisa ngerasa sesuatu lah!

gantian gue berada di posisi mereka yang biasa disebut 'wong cilik' itu..
nganggur gak ada kerjaan, jadi timer, tukang parkir dan lain sebagainya!
apapun lah.. yang jelas gue bilang ke rumah bahwa gue kuliah,
dan setelah ketahuan bahwa gue dah gak kuliah, gue bilang bahwa gue bimbel!

bla bla bla... and so on.. and so on..
intinya melalui keberuntungan, entah kenapa gue lulus UMPTN!

gak ding.. gue bo'ong..
gue tau kenapa gue lulus, dan apa penghayatan gue waktu itu..
tapi kalo gue tulis disini, jatoh2nya jadi curhat colongan!


Maksud gue adalah bahwa informasi di atas sudah lebih dari cukup untuk memberikan gambaran bagaimana mahasiswa UI kemudian dipandang dari kacamata gue yang ngalamin keseharian sedemikian rupa dan mempunyai nilai-nilai sedemikian rupa!
semacam stereotype terhadap kutu buku mengenai sekumpulan anak mami berkacamata yang taunya cuman baca, tulis, ujian bagus dan lain sebagainya.
sebuah stereotype yang gue punyain..
gue yang ngerasa kaya udah jagoan!
gue yang ngerasa above anything else!

Psikologi Universitas Indonesia.
for your information, gue tertarik masuk sini gara-gara guru Bimbel gue..
bernama Sintong, guru senior, seorang yang sepertinya bisa memahami jalan pikir gue, jago memotivasi, jago menghibur!
tapi diantara semua yang dia ajarkan kepada gue, dia jago membuat gue diem!
dia jago bikin gue ato mancing gue untuk mikir!
sepertinya bukan gue aja, tapi anak-anak muda lain respek sama dia..
dia jago memperlakukan orang lain, membuat lawan bicaranya merasa dihargai sekaligus mempraktekan wibawa dan kharisma, memberi sinyal bahwa dia juga gak bisa dimacem-macemin..
melalui sebuah proses yang panjang mulai dari sebulan sebelum UMPTN ampe semester satu berakhir, gue masih sering ngobrol dan dinasehatin olehnya.

Awal-awal masuk psiko, berkenalan dengan dosen-dosen.. Hoooaaahhmmm..
kegiatan mabim, gak boleh makan di kantin, outbound..
semua menjemukan kecuali satu..
pengumuman oleh seseorang yang bertampang ramah, berkaca mata..
Diumumkan sebagai Pudek III kita..
Budi Hartono..
harus gue akui dia sangat ramah..
dan dia menyinggung sebuah topik, bahwa fakultas psikologi mempunyai kebiasaan.
satu fakultas diajak kemping, api unggunan, kambing gulingan.

Kemping? kayak apa sih? palingan gitu2 aje! pengen tau gue kaya apa anak-anak psikologi bikin kemping!"
-kata si sotoy dan si so' jago yang mulai bicara sembari dengan sombong mengenang-ngenang pengalaman kemping dan hiking yang pernah dia alamin waktu SMA!


tapi tergiur juga oleh kambingnya sih..
bahkan kambing guling adalah satu-satunya berita baik hari ini!
karena dikemudian hari gue dengar ternyata kempingnya tidak disukai..
banyak gosip bahwa hal itu merupakan ospek terselubung.
banyak senior ngomong hal-hal yang jelek tentang itu..
dan gue menemukan bentuk pertama dari apa yang namanya politik..
golongan anu dan golongan itu..
busuk-busukan..
pembedaan-pembedaan..
motif-motif..
kepentingan..
dan bahkan di kegiatan PJ--acara kebaktian jum'at yang diselenggarakan oleh POSA bagi mahasiswe protestan saat itu (gue berani bilang karena gue ikut!), gue belajar atau disarankan untuk membenci sesuatu, waspada terhadap sesuatu!
bahwa 'kaum kita' diserang..
diremehkan..
diasingkan, dilanggar hak-haknya.

ke-sotoy'an dan sok jago gue berteriak:
"halah.. mau berapa orang ngeroyok gue hayu' dah!"
dan dengan demikian gue diselamatkan oleh dua suara itu dari ancaman sesuatu yang laten! sesuatu yang berbahaya..
dan sepanjang pengetahuan gue, walau banyakan mudarat dari manfaat, pada saat itu gue ditolong oleh ke-sotoy-an dan ke-so' jagoan'yang gue punyai!


walau begitu kita gak pernah dilarang kemping sih..
kita gak pernah ditakut-takutin mengenai ospek terselubung, diprovokasi oleh isu-isu bullying yang akan dilakukan.. di cemarkan oleh isu-isu bahwa itu adalah acara hedon, maksiat dan lain sebagainya.
(kalaupun iya, gue yang waktu itu bahkan mungkin malah tertantang dan ikutan!)

seiring mabim yang aneh dan menjemukan itu, dimulailah kuliah..

Bagus Takwin adalah orang yang pertama kali ngebentak gue..
dia marah luar biasa..
gue gak tau juga mo gimana waktu itu (malu juga diliatin ama satu kelas!)
"yah kau terima sajalah.. minta maap kalo bisa!", teringat saran yang paling sering keluar dari mulut pak sintong.

saat itu song4camp.. sebuah acara unik yang dilakukan untuk menggelar pengumpulan dana PsyCamp!
beneran unik, gue takjub sama cara mereka galang dana dengan ngerangkul konsep tanatos-nya si Sigmund Freud!!

Disitulah gue diamuk untuk kedua kalinya
Alex Sihar'94 nama tuh makhluk..
dia bentak gue waktu gue perform song4camp!
rencananya mencoba mengadaptasi puisi seperti seniman-seniman di kereta api..
gue teriak, "TAPI SEMUANYA TIDAK PERDULI!!"
dia bales teriak, "APAAAAA! MEMANGNYA KNAPA??!"
gue bingung.. (perasaan kalo di kereta gak ada skenario macam gini dah..)
kesel, takut, malu, campur aduk..
sebagai maba tahun 2000, gue hanya siap ngelawan satu dua tahun di atas!
tapi kalo 'senior macan kampus' begitu mah.. mikir-mikir..
takut, terbirit-birit, tunggang langgang..
setelah cabut dan menguasai diri sebentar, dengan berkaca-kaca gue dateng ke Alex dan minta maap!

saat itu, MEMALUKAN!
tapi disini mungkin adalah titik dimana gue berkaca bahwa apa yang gue percayai mengenai apa yang gue bisa tidaklah sekokoh yang gue kira!

(kalo dipikir-pikir lagi, dipermalukan dua kali di depan umum..! bwahahahaha..)

tapi song4camp berjalan dengan lancar..
dana terkumpul..! kuliah berjalan terus.

dua hari kemudian, ketika gue beranjak pulang dengan beberapa teman keluar lapangan parkir gedung A berniat menyeberang, sebuah mobil tiba-tiba ngerem..
supir dan orang2 didalamnya bertanya: 'mo ikut nengokin edpans gak?' (belakangan gue ketahui bahwa mereka adalah kang peot, jambrong, dan mumu--alumni dan senior2 psikologi)
gue nanya, "kemana bang?"
mereka jawab, "Cijalu, Purwakarta"
gue nengok temen2 lain, menitipkan jakun dan barang2 bawaan gue dan berkata "ayok.."
disitulah gue berkenalan dengan panitia PsyCamp
berkenalan dengan gerombolan senior..
berkenalan dengan edpans..
anak-anak cowo psikologi yang kalo versi anak-anak teknik: anak-anak manja..

dan disitulah gue berkenalan dengan PsyCamp..
dengan pergaulannya sama masyarakat dusun..
perhatiannya terhadap petani dan pekebun..
persentuhannya dengan orang-orang sederhana..
interaksinya dengan orang-orang lurus..
orang-orang tanpa pretensi..
orang-orang tanpa kepentingan..
orang-orang yang tulus..
penduduk desa yang ramah..
warga dusun yang santun..
yang taunya kerja, pulang, sholat, cek giliran ronda, istirahat..
makan seadanya..
jarang ngeluh..
dan banyak bersyukur..

ck ck ck..
ternyata ini lah PsyCamp..

dan gue tertegun..

--to be continued

**********************************************************************************
"jangan pernah lupakan bahwa PsyCamp adalah mengenai masyarakat disekitarnya, sama sekali bukan hanya soal kemping!"

-longor.siha


Psi! Goblog

Join us

Psikologi Indonesia Goes Blogging terbuka bagi para pembaca yang ingin turut berpartisipasi untuk menyumbangkan tulisan atau pendapat yang berhubungan dengan Psikologi. Kirim Email ke Khrisnaresa@gmail.com dan anda langsung kami berikan keleluasaan untuk menulis di psigoblog.com