Pada sebuah perjalanan di suatu sore yang indah, di dalam mobil yang menembus hujan gerimis dibawah sinar temaram langit yang berwarna lembayung, menuju timur jauh kota Jakarta... saya terpikirkan sebuah konsep terkait dengan psikologi konsumen. Sebenarnya konsep tersebut baru terpikirkan akhir-akhir ini dikala saya menaiki mobil yang sama saat dalam perjalanan pulang dari kampus, tapi tak dinyana lagi kejadian pada sore itulah yang menjadi pemicu dari terpikirkannya konsep ini. Konsep tersebut adalah hubungan antara psikologi konsumen dengan lagu sebagai sebuah produk industri. Mungkin saya telah menemukan rahasia bagaimana membuat sebuah lagu menjadi laku. Mungkin sebaliknya, temuan saya ini (seperti banyak temuan saya yang lain) sudah ditemukan bertahun-tahun yang lalu dan sudah secara sadar digunakan dalam industri musik. Mungkin bahkan buah pikiran saya ini salah. Tapi bagi saya pengungkapan (dan mungkin pendiskusian) konsep ini patut untuk dilakukan. Dan sebelum saya mengungkapkannya, tentu saya perlu menceritakan kembali kejadian di sore hari itu.
Seperti yang banyak teman saya ketahui, saya sangat menikmati aktivitas mengendarai mobil di malam hari. Saya menikmati sensasi melihat titik yang jauh didepan mata kian mendekat, berada pada titik terdekat dan akhirnya lari menjauh ke arah belakang setelah melewati kaca samping kursi pengemudi –khususnya jika sensasi tersebut dipayungi oleh pemandangan indah langit yang hitam yang dibercaki sinar lampu neon. Maka, jika ada seseorang yang mengajak saya melakukan sebuah kegiatan yang berhubungan dengan mobil dan malam hari, saya dengan mudah akan menyambut ajakan tersebut. Tak terkecuali pada sore hari itu, saat seorang teman memberikan saya kesempatan untuk melihat rumahnya di Jakarta Timur. Bertiga dengan pacar teman saya tersebut, kami pun berangkat dari Depok.
Disepanjang perjalanan, tentunya sesuai dengan Peraturan Internasional mengenai Pengemudi dan Penumpang (yang mayoritas teman saya tidak menghormati peraturan ini), lagu yang didengarkan adalah lagu-lagu pilihan pengemudi. Saya pun memutar CD hasil burn yang berisi lagu-lagu yang berasal dari laptop. Pada satu bagian dari CD tersebut, terdapat sebuah daerah yang bernama Dewa 19-Ahmad Band Combo, yaitu tempat di mana beberapa lagu lama dari grup band Dewa 19 (saat Ari Lasso masih bergabung) dan Ahmad Band bergantian mengisi ruang suara jika CD dimainkan. Saya dan pacar teman saya (yang, sebagai catatan, juga masuk dalam daftar teman saya) melakukan perbincangan yang membandingkan antara Dewa 19 kini dan dulu. Dan pada saat itulah pemicu pemikiran saya terlontar.
Teman saya menyatakan tidak pernah menyukai band Dewa 19. Saya dan pacar teman saya memandangi manusia yang baru melontarkan pernyataan tersebut, yang tiba-tiba berubah menjadi mahluk yang unik. “Loe nggak pernah suka lagu-lagu Dewa 19?”, saya bertanya. Teman saya menggeleng. “Bahkan lagu-lagu Dewa 19 yang lama?”, saya memastikan teman saya mengerti bahwa saya membuat sebuah garis batas yang memisahkan grup band tersebut antara yang dulu dan yang sekarang. Sekali lagi jawabannya tidak. “Kenapa?”, saya menanyakan alasan ketidaksukaannya. “Habis gue ga suka pandangannya Ahmad Dhani.” Saya terpana. Lalu kami membahas pandangan Ahmad Dhani yang ‘tradisional’ yang –berdasarkan pada data tidak valid dari infotainment dan pemaknaan tidak berdasar kami pada lirik-lirik lagu ciptaan Dhani— memegang prinsip bahwa suami masih memegang kuasa otoriter terhadap istri dan memandang wanita sebagai ‘pelengkap’ pria (seperti dalam sebuah liriknya, ‘Hawa tercipta di dunia untuk menemani sang Adam’). Pembicaraan berlanjut ke topik lain dan kami pun melupakannya.
Sampai suatu pikiran menimpa saya akhir-akhir ini, “kalau begitu, teman saya tersebut tidak pernah membeli album Dewa 19. Yang artinya, Dewa 19 menjadi satu royalti-album lebih miskin. Mereka tidak mendapatkan uang teman saya... hanya karena perbedaan pandangan?” Rupanya pandangan bisa mempengaruhi kemungkinan anda mendapatkan uang. Dan saat itulah saya melihat lagu dan lirik sebagai sebuah produk yang (sebagai sebuah produk) tentunya tunduk pada hukum-hukum psikologi konsumen.
Jadi jika diuraikan seperti ini, Konsumen (menurut Hawkins pada tahun 1983) adalah sebuah unit pengambil keputusan yang memproses informasi, mengolah informasi tersebut dalam rangka situasi yang ada, dan mengambil tindakan yang diharapkan akan mencapai kepuasan dan menunjang gaya hidup.
Maksudnya, Hawkins melihat bahwa manusia membeli produk yang menunjang gaya hidupnya, misalnya, jika gaya hidup seseorang adalah “sehat jasmani” dia akan membeli produk yang menunjang hal tersebut, seperti alat olah raga, yoghurt, kasur ortopedic dan produk lain yang akan menunjang kesehatan dirinya, karena ia memiliki gaya hidup sehat. Nah, sesuai dengan gaya hidupnya tersebut, orang tersebut akan memproses informasi dari semua produk yang ada di dekat dirinya (yang bisa ia beli) lalu mengolahnya dengan mencocokkan dengan gaya hidupnya (serta mencocokkan dengan isi dompetnya). Setelah itu, orang tersebut akan membeli produk tersebut, selain karena produk tersebut menunjang gaya hidupnya, juga sebagai pernyataan pada dunia mengenai gaya hidupnya (misal, orang yang selalu membeli yoghurt secara tak langsung membuat pernyataan ‘saya peduli pada kesehatan pencernaan saya.’).
Yang terjadi pada teman saya adalah praktek kebalikan dari teori Hawkins tersebut. Gaya hidupnya adalah “modern, dimana wanita dan pria memiliki derajat yang sama. Dia memproses informasi bahwa lirik dan pandangan seorang pemusik tidak sesuai dengan gaya hidupnya tersebut. Sehingga, ia tidak membeli albumnya karena dengan mendengar liriknya, ia merasa gaya hidupnya disalahi dan jika ia membeli albumnya, ia (mungkin secara tak sadar) takut dianggap mendukung pandangan pemusik tersebut.
Gaya hidup (seperti yang telah dibuktikan di atas) memang memiliki aspek sebagai motivator. Gaya hidup seseorang akan membuat seseorang membeli atau tidak suatu barang, karena ia mempersepsi barang tersebut sebagai pendukung self image dan manifestasi konsep dirinya atau tidak. Selain itu, gaya hidup bersifat disadari atau tidak. Sehingga untuk mempengaruhinya tidak selalu harus distimulus secara verbal (bahkan kadang pengakuan bahwa suatu produk mendukung gaya hidup tertentu akan terkesan ‘norak’ dan membuat seorang calon konsumen jadi malu membelinya).
Kita telah melihat bagaimana lirik lagu seseorang dapat mencegah seseorang untuk menjadi lebih kaya dari kondisinya saat ini. Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari kejadian ini? Tentunya, dalam kaitannya dengan musik dan lirik, adalah cara untuk membuat lirik lagu yang bisa memaksimalkan potensi kekayaan pembuatnya. Caranya? Tentu dengan memanfaatkan gaya hidup (dan aspek kepribadian lainnya). Bisa kita simpulkan seperti ini, lirik lagu yang akan laku adalah lirik lagu sesuai dengan diri dari individu-individu dalam masyarakat. Lirik lagu yang akan laku adalah lirik lagu yang akan diidentifikasikan oleh masyarakat sebagai ‘dekat’ dengan dirinya, yang akan dipersepsi sebagai gambaran hidupnya (walau pun saya akui kesimpulan ini belum valid karena belum berdasarkan data real dari masyarakat. Tapi saya siap membuat penelitiannya jika ada yang mau mensponsori, hahaha...).
Lalu sesuai dengan pengetahuan di atas, apa tips untuk membuat lagu yang laku? Tentu dengan membuka mata. Lihatlah isu-isu sosial yang sedang hangat. Gaya apa yang sedang memasuki trend, lalu buat lagu yang dapat mengikuti arus tersebut. Sebagai contoh, bukannya tak mungkin lagu yang memiliki lirik “lelaki buaya darat, busyeh...” menjadi sangat terkenal karena saat itu sedang hangat isu poligami.
Tapi ada sebuah masalah lagi, lagu (dan lirik) adalah sebuah seni yang merupakan luapan emosi dan tak dapat semudah itu difabrikasi. Seperti yang diucapkan mas Adoy, personil band Cozy Street Corner saat mengisi workshop Penulisan Komposisi Musik (di mana ini adalah hasil persepsi saya, bukan kutipan langsung): dalam membuat lagu, tuangkan apa yang benar-benar ingin kita sampaikan, sehingga pemilihan nada, irama dan lirik didorong oleh perasaan yang kita rasakan dan apa yang ingin kita sampaikan... jika kita mau membuat sesuatu yang sebenarnya tak ingin kita sampaikan, sebaiknya jangan.
Lalu, bagaimana cara agar kita bisa membuat lirik lagu yang sesuai dengan selera, gaya hidup dan pandangan masyarakat tanpa membuatnya menjadi sebuah fabrikasi tanpa sokongan emosi? Mungkin jawaban saya bisa menjawabnya: berbaurlah dengan masyarakat, lihat apa yang mereka lihat, sehingga apa yang mereka rasakan menjadi apa yang kita rasakan. Lalu buatlah lirik lagu dari apa yang kini telah menjadi perasaan bersama tersebut.
Tapi, mari kembali ke sebuah fakta penting, saya bukanlah seorang artis, hehe...
Nb: tapi lirik bukan variabel-mandiri yang menjadi satu-satunya penentu lakunya sebuah lagu atau tidak. Masih ada variabel lain seperti teknik dan packaging. Selain itu, tidaklah mudah membuat sebuah lirik yang disukai oleh SEMUA orang yang ada di masyarakat. Oleh sebab itu ada yang namanya pemangsaan pasar (bukannya memangsa manusia yang ada di pasar, tapi memilah-milah pasar sesuai dengan pangsa-pangsa tertentu).
- dibuat di bawah siraman yang bertubi-tubi, dari speaker yang dipasang sedikit terlalu keras, lagu Melky Goeslaw yang sangat tidak sesuai dengan gaya hidup saya. (Dion)
Seperti yang banyak teman saya ketahui, saya sangat menikmati aktivitas mengendarai mobil di malam hari. Saya menikmati sensasi melihat titik yang jauh didepan mata kian mendekat, berada pada titik terdekat dan akhirnya lari menjauh ke arah belakang setelah melewati kaca samping kursi pengemudi –khususnya jika sensasi tersebut dipayungi oleh pemandangan indah langit yang hitam yang dibercaki sinar lampu neon. Maka, jika ada seseorang yang mengajak saya melakukan sebuah kegiatan yang berhubungan dengan mobil dan malam hari, saya dengan mudah akan menyambut ajakan tersebut. Tak terkecuali pada sore hari itu, saat seorang teman memberikan saya kesempatan untuk melihat rumahnya di Jakarta Timur. Bertiga dengan pacar teman saya tersebut, kami pun berangkat dari Depok.
Disepanjang perjalanan, tentunya sesuai dengan Peraturan Internasional mengenai Pengemudi dan Penumpang (yang mayoritas teman saya tidak menghormati peraturan ini), lagu yang didengarkan adalah lagu-lagu pilihan pengemudi. Saya pun memutar CD hasil burn yang berisi lagu-lagu yang berasal dari laptop. Pada satu bagian dari CD tersebut, terdapat sebuah daerah yang bernama Dewa 19-Ahmad Band Combo, yaitu tempat di mana beberapa lagu lama dari grup band Dewa 19 (saat Ari Lasso masih bergabung) dan Ahmad Band bergantian mengisi ruang suara jika CD dimainkan. Saya dan pacar teman saya (yang, sebagai catatan, juga masuk dalam daftar teman saya) melakukan perbincangan yang membandingkan antara Dewa 19 kini dan dulu. Dan pada saat itulah pemicu pemikiran saya terlontar.
Teman saya menyatakan tidak pernah menyukai band Dewa 19. Saya dan pacar teman saya memandangi manusia yang baru melontarkan pernyataan tersebut, yang tiba-tiba berubah menjadi mahluk yang unik. “Loe nggak pernah suka lagu-lagu Dewa 19?”, saya bertanya. Teman saya menggeleng. “Bahkan lagu-lagu Dewa 19 yang lama?”, saya memastikan teman saya mengerti bahwa saya membuat sebuah garis batas yang memisahkan grup band tersebut antara yang dulu dan yang sekarang. Sekali lagi jawabannya tidak. “Kenapa?”, saya menanyakan alasan ketidaksukaannya. “Habis gue ga suka pandangannya Ahmad Dhani.” Saya terpana. Lalu kami membahas pandangan Ahmad Dhani yang ‘tradisional’ yang –berdasarkan pada data tidak valid dari infotainment dan pemaknaan tidak berdasar kami pada lirik-lirik lagu ciptaan Dhani— memegang prinsip bahwa suami masih memegang kuasa otoriter terhadap istri dan memandang wanita sebagai ‘pelengkap’ pria (seperti dalam sebuah liriknya, ‘Hawa tercipta di dunia untuk menemani sang Adam’). Pembicaraan berlanjut ke topik lain dan kami pun melupakannya.
Sampai suatu pikiran menimpa saya akhir-akhir ini, “kalau begitu, teman saya tersebut tidak pernah membeli album Dewa 19. Yang artinya, Dewa 19 menjadi satu royalti-album lebih miskin. Mereka tidak mendapatkan uang teman saya... hanya karena perbedaan pandangan?” Rupanya pandangan bisa mempengaruhi kemungkinan anda mendapatkan uang. Dan saat itulah saya melihat lagu dan lirik sebagai sebuah produk yang (sebagai sebuah produk) tentunya tunduk pada hukum-hukum psikologi konsumen.
Jadi jika diuraikan seperti ini, Konsumen (menurut Hawkins pada tahun 1983) adalah sebuah unit pengambil keputusan yang memproses informasi, mengolah informasi tersebut dalam rangka situasi yang ada, dan mengambil tindakan yang diharapkan akan mencapai kepuasan dan menunjang gaya hidup.
Maksudnya, Hawkins melihat bahwa manusia membeli produk yang menunjang gaya hidupnya, misalnya, jika gaya hidup seseorang adalah “sehat jasmani” dia akan membeli produk yang menunjang hal tersebut, seperti alat olah raga, yoghurt, kasur ortopedic dan produk lain yang akan menunjang kesehatan dirinya, karena ia memiliki gaya hidup sehat. Nah, sesuai dengan gaya hidupnya tersebut, orang tersebut akan memproses informasi dari semua produk yang ada di dekat dirinya (yang bisa ia beli) lalu mengolahnya dengan mencocokkan dengan gaya hidupnya (serta mencocokkan dengan isi dompetnya). Setelah itu, orang tersebut akan membeli produk tersebut, selain karena produk tersebut menunjang gaya hidupnya, juga sebagai pernyataan pada dunia mengenai gaya hidupnya (misal, orang yang selalu membeli yoghurt secara tak langsung membuat pernyataan ‘saya peduli pada kesehatan pencernaan saya.’).
Yang terjadi pada teman saya adalah praktek kebalikan dari teori Hawkins tersebut. Gaya hidupnya adalah “modern, dimana wanita dan pria memiliki derajat yang sama. Dia memproses informasi bahwa lirik dan pandangan seorang pemusik tidak sesuai dengan gaya hidupnya tersebut. Sehingga, ia tidak membeli albumnya karena dengan mendengar liriknya, ia merasa gaya hidupnya disalahi dan jika ia membeli albumnya, ia (mungkin secara tak sadar) takut dianggap mendukung pandangan pemusik tersebut.
Gaya hidup (seperti yang telah dibuktikan di atas) memang memiliki aspek sebagai motivator. Gaya hidup seseorang akan membuat seseorang membeli atau tidak suatu barang, karena ia mempersepsi barang tersebut sebagai pendukung self image dan manifestasi konsep dirinya atau tidak. Selain itu, gaya hidup bersifat disadari atau tidak. Sehingga untuk mempengaruhinya tidak selalu harus distimulus secara verbal (bahkan kadang pengakuan bahwa suatu produk mendukung gaya hidup tertentu akan terkesan ‘norak’ dan membuat seorang calon konsumen jadi malu membelinya).
Kita telah melihat bagaimana lirik lagu seseorang dapat mencegah seseorang untuk menjadi lebih kaya dari kondisinya saat ini. Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari kejadian ini? Tentunya, dalam kaitannya dengan musik dan lirik, adalah cara untuk membuat lirik lagu yang bisa memaksimalkan potensi kekayaan pembuatnya. Caranya? Tentu dengan memanfaatkan gaya hidup (dan aspek kepribadian lainnya). Bisa kita simpulkan seperti ini, lirik lagu yang akan laku adalah lirik lagu sesuai dengan diri dari individu-individu dalam masyarakat. Lirik lagu yang akan laku adalah lirik lagu yang akan diidentifikasikan oleh masyarakat sebagai ‘dekat’ dengan dirinya, yang akan dipersepsi sebagai gambaran hidupnya (walau pun saya akui kesimpulan ini belum valid karena belum berdasarkan data real dari masyarakat. Tapi saya siap membuat penelitiannya jika ada yang mau mensponsori, hahaha...).
Lalu sesuai dengan pengetahuan di atas, apa tips untuk membuat lagu yang laku? Tentu dengan membuka mata. Lihatlah isu-isu sosial yang sedang hangat. Gaya apa yang sedang memasuki trend, lalu buat lagu yang dapat mengikuti arus tersebut. Sebagai contoh, bukannya tak mungkin lagu yang memiliki lirik “lelaki buaya darat, busyeh...” menjadi sangat terkenal karena saat itu sedang hangat isu poligami.
Tapi ada sebuah masalah lagi, lagu (dan lirik) adalah sebuah seni yang merupakan luapan emosi dan tak dapat semudah itu difabrikasi. Seperti yang diucapkan mas Adoy, personil band Cozy Street Corner saat mengisi workshop Penulisan Komposisi Musik (di mana ini adalah hasil persepsi saya, bukan kutipan langsung): dalam membuat lagu, tuangkan apa yang benar-benar ingin kita sampaikan, sehingga pemilihan nada, irama dan lirik didorong oleh perasaan yang kita rasakan dan apa yang ingin kita sampaikan... jika kita mau membuat sesuatu yang sebenarnya tak ingin kita sampaikan, sebaiknya jangan.
Lalu, bagaimana cara agar kita bisa membuat lirik lagu yang sesuai dengan selera, gaya hidup dan pandangan masyarakat tanpa membuatnya menjadi sebuah fabrikasi tanpa sokongan emosi? Mungkin jawaban saya bisa menjawabnya: berbaurlah dengan masyarakat, lihat apa yang mereka lihat, sehingga apa yang mereka rasakan menjadi apa yang kita rasakan. Lalu buatlah lirik lagu dari apa yang kini telah menjadi perasaan bersama tersebut.
Tapi, mari kembali ke sebuah fakta penting, saya bukanlah seorang artis, hehe...
Nb: tapi lirik bukan variabel-mandiri yang menjadi satu-satunya penentu lakunya sebuah lagu atau tidak. Masih ada variabel lain seperti teknik dan packaging. Selain itu, tidaklah mudah membuat sebuah lirik yang disukai oleh SEMUA orang yang ada di masyarakat. Oleh sebab itu ada yang namanya pemangsaan pasar (bukannya memangsa manusia yang ada di pasar, tapi memilah-milah pasar sesuai dengan pangsa-pangsa tertentu).
- dibuat di bawah siraman yang bertubi-tubi, dari speaker yang dipasang sedikit terlalu keras, lagu Melky Goeslaw yang sangat tidak sesuai dengan gaya hidup saya. (Dion)



2009 Januari 23 07:58
Musik memiliki hubungan yang erat dalam membentuk kepuasan seseorang. Mehrabian (1974) menemukan hubungan penting antara emosional seseorang ketika mendengar musik dengan faktor-faktor seperti lamanya waktu saat belanja di toko, keputusan pembelian, dan kepuasan selama berada di lingkungan eceran. Oakes (2003) menjelaskan bagaimana musik yang bertempo lambat jika dibandingkan dengan musik yang bertempo cepat, dan tidak ada musik (no music) dalam mempengaruhi lamanya menunggu konsumen di tempat antrian dan membuat mereka merasakan lebih santai dan merasa puas selama menunggu.