Teori mengatakan bahwa dalam berkomunikasi, kita cenderung untuk mengamati gerak-gerik, bahasa tubuh, dan nada lawan bicara kita daripada mendengarkan apa yang dikatakannya. Saat lawan bicara kita mengatakan, "Aku tidak marah!", kita tidak akan semudah itu percaya. Nada suara, ekspresi wajah, dan gerak tubuhnyalah yang memberikan kita kesimpulan. Namun, pada pembicaraan via email atau yang sejenis (dimana kita hanya bisa melihat huruf dan kata-kata), penambahan icon emosi (emoticon) berguna untuk menyampaikan maksud dari pengirim pesan. Sejauh mana alat bantu emoticon berpengaruh pada kita?
Ternyata, kedua hal tersebut memiliki pengaruh yang berbeda pada penerima dengan kepribadian yang berbeda, menurut Byron dan Baldridge (2007). Pada penerima emoticon yang berkepribadian ekstrovert dan memiliki kendali emosi yang kuat, akan menyukai pesan yang disampaikan dengan emoticon yang tepat. Namun sebaliknya, pada penerima yang berkepribadian introvert dan memiliki emosi yang labil, emoticon tidak akan memiliki efek apa-apa, bahkan membuat penerima tersebut tidak menyukai pesan yang disampaikan.



