Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.

Perbincangan yang berkaitan dengan kata makan dan makanan memang tidak ada habisnya. Pertanyaan seperti “makan dimana?” atau “makan apa?” selalu menarik untuk dilontarkan. Temuan-temuan ilmiah mengenai makanan pun seperti tak pernah berhenti mengalir. Kehidupan manusia memang lekat dengan masalah makanan. Mau bagaimana lagi? Kegiatan makan dan mencari makanan memang merupakan salah satu insting mendasar manusia. Sejak pertama kali manusia menjejakkan kaki di bumi –bahkan sejak pertama kali ada kehidupan di bumi—, kegiatan mengunyah-menelan-dan-biarkan-sistem-pencernaan-mengurus-sisanya telah menjamin keberlangungan hidup manusia. Sehingga, kita bisa bilang bahwa mencari dan menikmati makanan adalah salah satu aspek mendasar kehidupan manusia. Bahkan ada bagian otak yang khusus mengatur masalah ini (akan dibahas nanti).


Tapi, bagi saya yang menurut situs pencari jodoh harus meng-klik ‘kelebihan beberapa pound’ pada bagian Deskripsi Diri, perbincangan masalah makanan tidak berhenti pada topik ‘tempat makan enak’ dan ‘resep baru’. Saya juga harus membicarakan mengenai sisi gelap dari kegiatan makan dan mencari makan ini, yaitu, masalah ‘menahan dan mengurangi porsi makan’ atau dalam bahasa sehari-harinya dikenal dengan kata DIET. Persoalan mengenai mengapa orang harus diet berkaitan dengan banyak hal yang jika dijabarkan bisa menghasilkan satu buah tulisan baru lagi. Tapi singkatnya seperti ini, diet atau mengontrol insting makan berkaitan erat dengan dua insting mendasar lainnya, yaitu, insting seks (orang yang kelebihan beberapa kilogram akan lebih susah untuk mendapatkan pasangan) dan insting mempertahankan diri (orang yang kelebihan beberapa kilogram terbukti mempunyai rentang pilihan pekerjaan yang lebih sempit, sehingga kemampuan survivalnya jadi lebih rendah).


Hanya saja, saya tidak sendiri. Bahkan “teman” saya yang sama-sama menghadapi masalah diet dan kelebihan berat badan (bahkan obesitas) sangat banyak –mungkin salah satunya adalah anda. Sebuah editorial di koran Washington Post menyatakan bahwa angka obesitas pada anak-anak di Amerika Serikat telah meningkat tiga kali lipat hanya dalam waktu dua puluh tahun. Bahkan Mary Boggiano, kolega saya sesama praktisi psikologi berani mengklaim bahwa enam puluh empat persen dari seluruh manusia memiliki masalah berat badan (yang membuat saya bertanya, ‘kalau begitu, bagaimana cara kita menentukan berat badan “normal”? Karena artinya secara normatis orang-orang memiliki berat badan diatas “normal”, kan?’).


Melenceng sedikit dari topik pembicaraan, setengah dari enam puluh persen populasi manusia yang memiliki masalah berat badan tersebut adalah sepertiga dari warga Amerika Serikat, yang membuat negara tersebut menangani masalah kelebihan berat badan secara serius. Sebegitu seriusnya sampai-sampai kadang mereka bertindak konyol. Misalnya, bulan Februari 2008 menjadi bulan yang cukup ramai di negara bagian Mississipi setelah sebagian anggota legislasi berencana mengeluarkan undang-undang negara bagian yang memberikan mandat bagi para pelayan restoran untuk menolak memberikan makanan bagi pengunjung restoran yang kegemukan. Jika undang-undang ini sampai terrealisasi, penolakan di restoran akan terjadi cukup besar-besaran mengingat tiga puluh persen orang dewasa di Mississippi dicurigai menderita obesitas.


Masih sedikit melenceng dari topik pembicaraan, pembuatan produk hukum yang berkaitan dengan makanan tidak hanya terjadi di negara bagian Mississippi. Bahkan secara nasional ada sebuah undang-undang (yang populer dengan nama Cheeseburger Bill) yang mempersulit konsumen untuk menuntut perusahaan makanan. Undang-undang ini dibuat setelah ada tiga orang pada tahun 2002 yang menuntut restoran cepat-saji (yang memiliki lambang golden arch) karena menurut mereka kandungan kalori dan lemak pada burger buatan restoran itu jauh di atas perkiraan mereka, sehingga akhirnya membuat mereka menderita obesitas. Walau pun sebelumnya pernah ada seorang konsumen yang berhasil menuntut perusahaan rokok yang menurutnya telah membuat dirinya ketagihan rokok, tuntutan terhadap restoran ini dibatalkan oleh pengadilan serta memicu dibuatnya Cheeseburger Bill tadi. Para pendukung undang-undang Cheeseburger tersebut mengatakan bahwa tidak seperti tembakau, makanan tidak membuat seseorang ketagihan dan besarnya makanan yang masuk ke tubuh sepenuhnya berada pada kendali individu yang memakannya.


Tapi benarkah begitu? Psikologi menjawab, ‘ya dan tidak’. Pembicaraan yang melenceng dari topik ini mengantarkan kita ke pembahasan utama yang mau saya sampaikan. Dimulai dari pertanyaan ‘benarkah makanan bisa menimbulkan ketagihan?’ yang dalam menjawabnya kita harus menyinggung masalah bagaimana kerja otak dalam mengatur kegiatan makan, dimana pengetahuan tentang kerja otak tersebut akan sangat membantu kita untuk memahami diet.

Untuk menjawab benarkah makanan bisa menimbulkan ketagihan, kita harus mengetahui bagaimana kerja otak dalam mengatur perilaku makan (di sini, saya melunasi janji saya di atas). Pada tahun 2007, majalah Scientific American Mind membahas masalah ini (di bawah tajuk This Is Your Brain on Food). Dalam edisi terbaru majalah Psychology Today, pembahasan ini muncul kembali dengan judul Consuming Passions. Penjelasan yang saya cantumkan di sini pada dasarnya adalah penggabungan dari kedua artikel tersebut. Artikel ini menurut saya juga menambahkan kesimpulan Diane Papalia dkk. (penulis buku Human Development, buku yang membahas kehidupan manusia dari sejak embrio hingga kematiannya) yang menyatakan bahwa penyebab utama kematian manusia sebetulnya bukan penurunan fungsi tubuh (degenerasi), melainkan lebih disebabkan oleh gaya hidup yang tidak bertanggung jawab (diantaranya, tidak menjaga pola dan komposisi makan).


Nah, mari kita bahas proses yang dijalani otak dalam mengatur perilaku makan (jika anda tidak terlalu suka penjabaran sistem fisiologis manusia, lebih baik anda melewatkan tiga paragraf kebawah, dihitung dari paragraf ini. Saya tidak marah. Sumpah!). Bagian otak yang mengatur perilaku makan bernama hypotalamus (letaknya di tengah-tengah otak). Bagian sisi-luar (Lateral) hypotalamus adalah bagian yang membuat rasa lapar, sedangkan bagian depan-tengah (Ventromedial) hypotalamus adalah bagian yang memberikan rasa kenyang.


Saat perut kosong, sebuah hormon bernama Ghrelin dikeluarkan oleh tubuh. Hormon ini kemudian, dengan bantuan darah, sampai di Lateral Hypotalamus (LH) dan membuat LH mengeluarkan zat ‘lapar’ yaitu Neuropeptide Y (zat ini memberitahukan bahwa tubuh lapar dan berselera atau ingin makan). Ghrelin juga menghambat hormon yang menginformasikan pada otak bahwa tubuh sedang merasa kenyang atau cukup (zat ‘kenyang’), yaitu Proopiomelanocortin (POMC). Sehingga, manusia pun merasa lapar (atau berselera untuk makan). Belum cukup? Tubuh mempunyai mekanisme kedua, saat tubuh kurang tenaga karena kurang makan, banyaknya gula-darah dan insulin pada darah menurun. Informasi ini diterima LH dan ikut menjadi pendorong keluarnya Neuropeptide Y dan menghambat produksi POMC. Makin lapar ‘lah kita jika otak kita tidak dituruti.


Sebaliknya, saat perut kemudian kita isi, level gula-darah dan insulin meningkat, sehingga LH kembali menurunkan Neuropeptide Y dan membiarkan POMC untuk hadir di otak (otak jadi berkata, ‘oke, kita kenyang, semua senang’). Selain itu ada juga bantuan dari Leptin, zat yang dihadirkan oleh lemak tubuh yang menghambat zat ‘lapar’ dan menambah produksi zat ‘kenyang’. Selain melalui darah, informasi bahwa badan merasa kenyang juga disalurkan langsung melalui syaraf, yaitu dengan sebuah peptida bernama Cholecystokinin (CCK) yang memberitahu otak bahwa perut sudah terisi melalui syaraf. Mungkin informasi bahwa tubuh kenyang bisa disalurkan melalui “jalan pintas” agar kita bisa segera menghentikan makan sebelum lambung terlalu penuh.


Hanya saja, manusia sering membandel. Sering kita dengar orang yang mengerjakan sesuatu, misalnya membuat PR, sampai lupa makan. Nah, tubuh pun membuat sebuah sistem lain untuk membantu dirinya mendapat jaminan makanan. Sistem ini bernama rasa nikmat. Saat makanan masuk ke dalam tubuh kita, sebuah zat bernama dopamine dilepaskan ke bagian otak sistem-limbik (yang mengatur motivasi dan kenikmatan) yang bernama striatum (bagian otak untuk merasakan kenikmatan dari makanan dan orgasme). Dopamine ini memberikan sensasi yang nikmat pada otak. Sehingga, kegiatan makan menjadi kegiatan yang menyenangkan, yang menyebabkan manusia akan dengan senang hati memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan menyebabkan tubuh mendapat jaminan bahwa manusia akan memasukkan makanan yang dibutuhkan tubuh untuk tetap hidup.


Tapi, manusia adalah mahluk yang memiliki tabiat mencari kenikmatan. Jika ia mendapatkan kenikmatan dari sebuah kegiatan, pada kesempatan berikutnya dimana ia menginginkan kenikmatan tersebut, ia akan mengulangi kegiatan tadi. Di sinilah, terjadi pemisahan antara dua bentuk lapar. Lapar pertama adalah lapar sebetulnya, yaitu lapar yang disebabkan oleh proses fisiologis diatas (melalu Ghrelin, gula-darah dan insulin) yang disebut sebagai ‘lapar perut’. Lapar jenis kedua adalah rasa lapar (selera makan) untuk mendapatkan rasa nikmat dari dopamine, yang disebut ‘lapar otak’ atau dalam budaya kita dikenal sebagai ‘lapar mata’.

Rupanya, bagian otak yang mendapatkan kenikmatan dari dopamine (Striatum) adalah bagian yang sama dengan yang mendapatkan kenikmatan dari narkotika. Pernyataan itu dibuat oleh majalah Scientific American Mind. Sedangkan, artikel dari Psychology Today mempunyai pandangan lain dengan menyatakan bahwa makanan sebetulnya adalah zat alami yang menimbulkan kenikmatan, sedangkan narkotika adalah zat yang menimbulkan kenikmatan yang berlipat ganda dari makanan. Apapun pandangan yang anda terima, dapat disimpulkan bahwa makanan dan obat terlarang memberikan kenikmatan yang sejenis (berbeda di kuatnya rasa nikmat) sehingga, makanan mungkin menyebabkan ketagihan.


Bagaimana kira-kira cara makanan menimbulkan ketagihan? Pembahasan ini akan memasuki masalah diet. Orang yang memakai narkotik dan orang yang obesitas memiliki satu persamaan, otak mereka tidak normal. Mereka memiliki reseptor dopamine yang hypersensitif, yang membuat sedikit saja ekspose terhadap hal yang mereka sukai (narkotik atau makanan) membuat mereka menjadi terobsesi untuk mendapatkannya; ekspose ini tidak hanya dengan mencicipi hal yang mereka sukai tersebut, tapi cukup dengan melihat barang tersebut atau melihat orang lain menikmati barang tersebut.


Tapi bagaimana caranya reseptor dopamine dapat berubah jadi hipersensitif? Pada percobaan di laboratorium, ditemukan bahwa gaya diet ‘balas dendam’ merubah dopamine menjadi hipersensitif. Maksud gaya diet ‘balas dendam’ adalah melakukan diet dengan mengurangi jenis makanan tertentu (biasanya yang berkalori tinggi seperti nasi). Masalahnya, ditemukan bahwa manusia cenderung akan memiliki masa ‘balas dendam’ di mana ada sebuah waktu diantara diet saat makanan berkalori tinggi masuk dalam jumlah besar. Gaya diet menahan tubuh LALU memanjakan tubuh dengan makan tanpa kontrol ini ternyata bisa membuat reseptor dopamine menjadi hipersensitif dan membuat tubuh jadi terobsesi pada makanan yang ditahan-tahan tersebut. Maka, ketagihan pada makanan pun terjadi dan orang yang sudah sampai pada tahap ini akan mengalami kesulitan untuk mengontrol pemasukan makanan ke dalam tubuhnya.


Permasalahan lain yang ditemukan adalah ternyata tubuh tidak memiliki sistem yang mengingatkan bahwa berat badan sudah mencapai over-weight atau obese. Tubuh hanya memiliki sistem yang akan panik saat berat badan menurun. Jadi, jika berat anda naik dari 60 kg sampai 80 kg, tubuh anda akan tenang-tenang saja. Tapi, jika kemudian berat anda turun dari 80 kg menjadi 79 kg, tubuh akan memerintahkan agar anda makan agar bisa kembali ke titik 80 kg.


Oleh karena itu, psikologi menyimpulkan bahwa bentuk diet yang terbaik adalah diet yang logis, makanlah dengan porsi sedikit dibawah porsi anda sekarang (dan penurunan porsi ditingkatkan perlahan) dan jangan dengarkan tubuh anda yang ‘panik’ dengan membuat anda lapar. Lalu, jangan dengan ekstrim memotong sebuah jenis makanan; lebih baik anda mengurangi semua jenis makanan tetapi dalam tahap yang berjenjang dan pengurangan yang sedikit-sedikit. Jika anda mengalami peningkatan berat badan, jangan tangani dengan mengurangi porsi makan; sebaiknya tanggulangi dengan berolahraga, walau pun pada saat itu anda sedang malas berolahraga. (Dion)

Sawitri Supardi Sadarjoen, Psikolog, menulis di Kompas minggu, 16 maret 2008 dalam rubrik konsultasi. Beliau menulis tentang Orientasi Masa Depan yang dimiliki oleh anak remaja perkotaan sekarang ini. Berikut cuplikan mimpi masa depan yang menjadi obsesi dari seorang remaja berusia 20 tahun dengan inisial O:

“Aku ingin punya rumah cukup besar berisi barang-barang dari Ace Hardware yang membuat hidupku nyaman. Punya satu mobil untuk harian dan satu mobil untuk balapan, satu mobil untuk istri dan mobil untuk anak (untuk dimodifikasi oleh anak). Punya bisnis dimana-mana yang selalu mengucurkan uang banyak sampai bingung cara menghabiskannya, jadi dermawan terkenal dan saleh tetapi tetap gaul, walaupun sudah punya istri. Istri bohay, care edan, baek, pengertian, perfect, dan punya anak-anak yang cantik dan ganteng, hidup keluarga bahagia, segala masalah keluarga dapat diatasi, naik haji bareng keluarga dan yakin suatu hari naik Sorga.”

*O sudah dua semeseter mogok kuliah tanpa sepengetahuan orang tuanya. Selama mogok, O hanya bermalas-malasan di kamar, kadang mandi kadang tidak, dan pergi bermain ke rumah temannya sampai larut malam.

*Image taken from www.dilbert.com

Sawitri Supardi Sadarjoen menuliskan bahwa remaja perkotaan menjalani hari-harinya dengan santai, tidak terarah, mengikuti alur seperti halnya air mengalir tanpa arah yang jelas, tergantung di landasan dimana air itu bisa mengalir dan akhirnya semua yang mereka alami, kesenangan menjadi pengarah utama dalam hidup mereka; malas membaca, malas belajar, bahkan malas berpikir, bersikap tidak serius, dan cenderung lari dari masalah .

Membaca artikel di rubrik konsultasi tersebut, saya setangah sependapat mengenai apa yang dialami remaja perkotaan membuat kesenangan menjadi pengarah utama dalam hidup mereka. Belum ada penelitian yang saya baca menyimpulkan hal tersebut. Namun, bila membaca testimonial dari O, cukup mengkhawatirkan untuk mengetahui apa yang menjadi pikiran si O dengan apa yang sebenarnya ia lakukan tidak sejalan. Singkatnya: Bagaimana cara untuk mendapatkan semua hal yang menjadi mimpi O kalau hari-harinya hanya bermalas-malasan.

Kisah si O tersebut hendaknya menjadi bahan penting untuk introspeksi diri kita sendiri: Bedakan Fantasi dan Cita-cita.




Jill Bolte Taylor, the Harvard-trained Neuroanatomist and a lecturer at Indiana University School of Medicine, told about what she experienced when she had stroke at TedTalks. She explained how our brain works and affects our life; what we experience and what we feel.
Check the full script.
Click here to view Jill Bolte Taylor's Bio.

Below are questions (and their answers) posed by students in Cognitive Psychology class. More will be posted if necessary.

What is the importance of visual illusion in cognition?

They are important in that they constantly confirm that perception --the process of recognizing pshysical stimuli from environments-- is influenced by prior knowledge and expectation. Meaning: perception occurs top-down. In Muller-Lyer illusion, both shapes resemble corner rooms: the previous resembles one with peceiver being inside it, and the latter outside it. Our experiences suggest that objects outside the room we are in must be smaller that objects inside. This is why we cannot help but 'seeing' the left picture having a longer vertical line than that of the right picture. (note that this means only member of cultures familiar with rectangular buildings, us included, will be deluded by this illusions).



If we know how one illusion deceives us, can we consciously avoid it?
Not without tactile intervention. When we see Muller-Lyer illusion, for example, it turns out that our mind uses our knowledge about three-dimensional world to only comprehend two-dimensional stimulus. That means, we use more knowledge than we need to. Apparently, this extra knowledge disrupts our perception accuracy, not enhance it. However, we can omit the illusion by, for example, measuring both vertical lines using two standard ruler simultaneously.

Who invented visual illusion?
There is an interesting answer to this question if you are into world history. Note that one of histories' early scientist are also artist. Artist like Da Vinci works by mimicking his visual surroundings onto his paintings. With this method he mastered visual elements essential for visual perception (You've known these by the terms monocular cues, and binocular cues). Historically, there is a surprisingly wondeful vicious cycle among mimicking, understanding, and having revelation on aesthetics.



www.similarminds.com menyediakan fasilitas bagi anda yang ingin tes psikologi dengan hasil langsung di layar kaca anda. Tes Psikologi 'instan' ini hanya menyediakan keterangan seadanya mengenai hasil tes yang telah dikerjakan. Apabila anda menginginkan hasil tes yang dapat dipercaya seutuhnya beserta konsultasi dari Psikolog, mungkin website ini bukan jalan keluarnya.

Psi! Goblog

Join us

Psikologi Indonesia Goes Blogging terbuka bagi para pembaca yang ingin turut berpartisipasi untuk menyumbangkan tulisan atau pendapat yang berhubungan dengan Psikologi. Kirim Email ke Khrisnaresa@gmail.com dan anda langsung kami berikan keleluasaan untuk menulis di psigoblog.com

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags