Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.

Tubuh manusia yang didesain sedemikian rupa oleh Sang Pencipta agar semua fungsi badan yang dimiliki digunakan sesuai dengan 'perannya' masing-masing, ternyata pada prakteknya tidak semulus itu. Peran pria sebagai tombak yang menginspirasi pembuatan colokan listrik dan wanita sebagai landasaan yang menginspirasi stop kontak, tidak menghalangi mereka-mereka yang ingin mengubah hal tersebut. Pria dengan wanita kini menjadi pria dengan pria. "Tombak dengan tombak". Apa yang mendorong kaum adam untuk berpindah haluan sudah lama menjadi tanda tanya bagi saya, sampai akhirnya tanda tanya tersebut berubah menjadi tanda seru saat ditemukannya beberapa penjelasan mengenai hal tersebut.

Asal muasal mengapa pria dapat berubah haluan menjadi gay, ternyata ada lebih dari satu. Bailey et al (dalam Crookss & Baur, 2006) mengemukakan beberapa sudut pandang mengenai mengapa seseorang menjadi homoseksual. Pertama, dari sudut pandang genetis. Ada yang mengatakan bahwa seorang gay memiliki faktor biologis, seperti hormon, yang mendukung dirinya memiliki ketertarikan seksual terhadap sesama lelaki.

Tidak kalah serunya, gay dilihat dari sudut pandang psikoanalisis. Para tokoh yang memiliki sudut pandang psikoanalisis atau dapat disebut kaum Freudian, menyetujui bahwa bayi adalah Polymorphus Perverse, yaitu arah dari seksualitas bayi sama sekali tidak memiliki perbedaan baik laki-laki ataupun perempuan. Bayi mengarahkan seksualitasnya menuju objek yang 'pantas' dan dianggap 'tidak pantas'. Misalnya bagi bayi laki-laki, secara tidak sadar, bayi tersebut mengarahkan seksualitasnya menuju objek seperti lubang kunci, gelas, dan benda-benda lain yang secara simbolis melambangkan seksualitas perempuan. Apabila terjadi kesalahan dalam mengarahkan seksualitasnya, maka ada kemungkinan bahwa homoseksualitas akan terjadi.

Lain lagi halnya dengan pandangan dari teori belajar. Manusia adalah makhluk seksual, namun manusia bukanlah makhluk heteroseksual atau homoseksual. Jadi, hanya melalui pembelajaran, manusia mengetahui bahwa manusia tersebut akan menjadi homoseksual atau heteroseksual.

Terakhir ada pandangan yang menitikberatkan pengaruh dari lingkungan sekitar, yaitu pengaruh sosiokultural. Contoh yang paling mudah adalah pengaruh dari 'labelling'. Andaikan kita memberikan label kepada teman kita bahwa ia adalah homoseksual, lama kelamaan, meskipun teman kita adalah laki-laki normal, akan berpikir mengenai apa yang dikatakan oleh orang-orang di sekitarnya. Kemudian dari proses tersebut, ada kemungkinan bahwa teman kita tersebut memiliki kepercayaan diri yang rendah atau mudah terpengaruh kata-kata orang lain, dan jadilah seorang homoseksual.

DSM-IV sudah tidak lagi memasukkan homoseksual sebagai salah satu kategori dari gangguan psikologis seseorang. Apakah mungkin colokan listrik dan stop kontaknya pun berubah bentuk? (Khrisnaresa)

Beberapa hari yang lalu, di acara Empat Mata, mempunyai tema 'Ayahku Pahlawanku' (begitulah kira-kira). Diantara bintang tamu, Empat Mata menampilkan seorang perempuan "bertopeng" laki-laki. Ia bernama Bella.
Bella merasa dirinya perempuan. Setelah melalui proses ala Siti Nurbaya, ia dinikahkan dengan seorang perempuan. Yang membuat cerita ini menarik, si istrinya tahu bahwa ia waria! Bagaimana bisa? Kemudian istrinya meninggal karena menderita kanker rahim. Ketika ditanya apakah ia mencintai istrinya, secara tidak langsung ia menjawab ia tidak cinta karena ia adalah perempuan.
Bella mempunyai seorang anak laki-laki, yang menurut saya hebat. Saya membayangkan beban rasa malu yang ia harus ditanggungnya. Tapi ketika ditanya apakah ia malu, anak itu menjawab tidak. Kita tidak bisa naif. Mungkin pada mulanya anak itu tidak merasa malu, tapi lama kelamaan rasa malu bisa tumbuh akibat ejekan atau hinaan dari teman-temannya. Semoga tidak terjadi.
Yang pasti, Bella benar-benar merasa dirinya perempuan. Sedari dulu ia perempuan, namun pakaian perempuan baru dikenakan beberapa tahun ke belakangan ini.
Apakah Bella seorang homoseksual? Ya. Bagi orang lain, ia laki-laki dan menyukai sesama jenis. Tapi bisa juga tidak. Baginya ia perempuan dan menyukai lawan jenis. Ia menghayati dirinya sebagai perempuan, memaknai dirinya perempuan, hanya saja ia di dalam tubuh laki-laki.
Tubuh bukan semata-mata fisiologis, antara vagina dan penis. Tapi bagaimana tubuh kita menghayati tubuh kita, mempunyai makna bagi kita, dan memberi makna pada dunia. Melalui tubuh, seseorang mengekspresikan dirinya. Bisa dari tingkahnya yang kemayu, centil, lincah, ulet, dilihat dari cara berjalan - ia seolah-olah ingin memberi tahu bahwa ada perempuan di dalam dirinya. Bahkan ketika duduk, ia menopang kakinya dan menggoyangkan ke kiri dan ke kanan.
Tubuh menjadi pusat dirinya berhubungan dengan dunia. Tubuh menunjukkan bahwa dirinya mengada pada dunia. Semua fungsi dari badan seperti bergerak, mengamati, memakai alat seksualitas, adalah suatu cara mengada. Bahwa riwayat seksual seseorang ialah kunci untuk pengertian hidupnya. Ia adalah perempuan, berhubungan dengan laki-laki, dan itulah arti hidupnya.
Tentu saja ini bersifat subjektif. Untuk masuk ke dunia subjektif manusia, orang lain harus melepaskan nilai-nilai yang dianutnya. Bagi saya, ini bukan pekerjaan mudah, karena orang lain pasti sudah melalukan judgement tanpa mencoba tahu dan merasakan bagaimana rasanya menjadi Bella, bagaimana kebingungan yang ia rasakan antara keinginan yang ada di dalam dirinya sementara norma-norma masyarakat menyisihkannya, atau bagaimana bebannya berpura-pura menjadi orang yang tidak ia inginkan.

Sumber utama tulisan ini adalah dari situs American Psychological Association (http://www.apa.org/topics/orientation.html#mentalillness), buku Our Sexuality karya Crooks & Baur dan ingatan penulis tentang film Kinsey.

Seksualitas memiliki beberapa komponen, salah satunya adalah orientasi seksual –dalam orientasi seksual ini kita menemukan konsep homoseksual dan heteroseksual. Orientasi seksual adalah ketertarikan yang bersifat abadi (enduring) secara emosional, romantis, dan afeksional kepada manusia lain. Orientasi seksual bersifat kontinum –memiliki jenjang-jenjang dari satu ekstrim ke ekstrim lain— yaitu dari exclusive heterosexuality (hanya menyukai lawan jenis), sampai ke exclusive homosexuality (hanya menyukai sesama jenis). Tepat ditengah kontinum, terdapat orientasi biseksual.

Orang yang pertama kali menemukan konsep kontinum ini adalah Alfred Kinsey. Dia membuatnya ke dalam skala Kinsey, dimana angka 0 artinya exclusive heterosexual dan 6 adalah exclusive homosexual dan 3 adalah equally homosexual and heterosexual alias biseksual (dimana dalam film Kinsey digambarkan bahwa saat Kinsey pertama kali menceritakan skala ini pada murid prianya, sang murid pria mengatakan bahwa ia homoseksual dan Kinsey lalu menyadari dia biseksual, lalu mereka berciuman dan kalau tidak salah berhubungan seks).

Orientasi seksual berbeda dengan perilaku seksual, karena orientasi seksual adalah perasaan dan konsep diri, bukan perbuatan. Seseorang mungkin saja tidak melakukan kegiatan seksual yang sesuai dengan orientasi seksualnya (atau sama sekali tidak melakukan hubungan seks). Orientasi seksual seseorang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, kognitif dan biologis. Artinya, bagaimana seseorang dibesarkan (termasuk pengalaman-pengalaman seseorang yang bersifat seksual), pola pikir orang tersebut dan struktur genetis dan hormonal yang didapat sejak seseorang berada di dalam kandungan mempengaruhi orientasi seksual seseorang. Orientasi seksual seseorang pada umumnya muncul pada awal masa remaja.

Karena banyaknya faktor yang mempengaruhi orientasi seksual seseorang, APA (American Psychological Association) menyimpulkan bahwa manusia TIDAK BISA MEMILIH orientasi seksual mereka (apakah mereka straight alias heteroseksual, gay alias homoseksual, atau biseksual).

Komponen Seksualitas Lain Di Samping Orientasi Seksual
Biological Sex: Struktur seks biologis, yaitu alat kelamin (penis atau vagina).
Gender Identity: Perasaan seseorang apakah ia seorang pria atau wanita –karena bisa saja seseorang yang memiliki penis sebenarnya merasa bahwa ia adalah seorang wanita.
Social Gender Role: peran yang diberikan (dan diharapkan) oleh budaya mengenai perilaku apa yang dianggap maskulin dan perilaku apa yang dianggap feminin. Misal, di kebudayaan Amazon, wanita mengerjakan semua pekerjaan, bahkan yang bersifat maskulin (misal, membangun rumah dan menjaga daerah mereka) karena para pria tinggal di hutan dan hanya datang pada musim kawin.
nb: Gay adalah sebutan bagi seorang homoseksual, baik dia seorang pria yang menyukai pria lain, maupun wanita yang menyukai wanita lain. sedangkan lesbian adalah sebutan hanya bagi wanita homoseksual.

Kemarin ini, saya menghadiri pernikahan seorang teman yang menyatukan dua kebudayaan yang berbeda: Jawa dan Sunda. Dalam sebuah pernikahan adat Jawa yang dihadiri oleh keluarga Sunda, terdapat beberapa perbedaan seperti cara berperilaku, cara bertutur kata, cara berpikir, cara menghadapi masalah, dan lainnya. Yang Sunda merasa tersinggung dengan sikap Jawa yang tidak berbasa basi, yang Jawa merasa aneh dengan Sunda yang terlalu banyak berbasa basi. Yang Jawa duduk tegap dan berbicara dengan bahasa yang dijaga, yang Sunda duduk santai sambil melontarkan gurauan ke orang tua. Yang Jawa memakai baju muslim, yang Sunda memakai kebaya dan celana jeans. Yang Jawa mengutamakan bibit, bebet, dan bobot, yang Sunda mengutamakan latar belakang materi seseorang. Kata orang Jawa, yang penting cinta dan kasih dari pasangan. Kata orang Sunda, materi itu penting karena perempuan butuh jaminan hidup dan tidak bisa naif hanya bermodalkan cinta.

Kemudian mereka saling mengumpat, "Dasar Jawa!" dan "Dasar Sunda!"
Hanya dua kebudayaan yang menghuni pulau yang sama saja, sudah ada pertengkaran kecil yang membawa nama budaya. Lalu apa kabar Indonesia yang konon katanya punya banyak kebudayaan? Saya teringat dengan beberapa isu etnis yang menjadi topik utama di media, salah satunya Sampit.

Etnik-etnik yang terpisah secara geografis dan sosial-budaya yang berbeda, mempunyai cara dalam mengembangkan pengalaman psikologis masing-masing, yang pada akhirnya menghasilkan identitas etnik masing-masing. Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, pulau Jawa yang terdiri dari Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Solo, dan lainnya) dan Sunda (Priangan, Banten, Cirebon, dan lainnya) serta kelompok kecil seperti Madura dan Betawi saja sudah menimbulkan percekcokan.

Selalu ada prasangka yang diyakini benar dalam menilai orang lain. Ini disebut dengan stereotype. Dimulai dari gambaran seseorang tentang orang lain (personifikasi). Personifikasi adalah perasaan, sikap, dan konsepsi kompleks yang timbul karena mengalami kepuasan kebutuhan atau kecemasan. Personifikasi-personifikasi yang dimiliki sejumlah orang disebut stereotype. Ini adalah konsepsi yang diakui bersama, yaitu ide-ide yang diterima secara luas di antara anggota masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Mengubah stereotype tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena ini sifatnya turun temurun dan mengakar di pikiran individu. Dan individu sadar akan hal itu, namun ia menyakini apa yang dipikirkannya itu benar. Apalagi jika orang lain berperilaku seperti stereotype yang ia akui, maka ia merasa dikuatkan. Hanya karena perilaku satu orang, ia menyamaratakan kepada golongannya.

Ambil contoh kasus besar yang sudah ada pertumpahan darah seperti kasus Sampit antara Madura dengan Dayak.

Proses saling sangka ini menghambat akulturasi bangsa, yang konon disebut Bhinneka Tunggal Ika (bagi saya, ini konon, karena sekarang sepertinya sudah diragukan keberadaannya). Pemerintahan Indonesia ketika orde baru meneriakkan semangat sama-rata-sama-rasa demi persatuan dan kesatuan. Bahkan slogan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Namun pasca reformasi, rupanya slogan Bhinneka Tunggal Ika hanya isapan jempol belaka karena untuk sebuah kebijakan penyeragaman oleh negara, sebuah sistem kehidupan masyarakat sengaja dipaksa dan diatur. Bahkan untuk penyeragaman, harus ada penduduk yang menjadi korban, dibantai dan kepalanya diarak keliling kota Sampit. Apalagi terkait kasus dengan Madura-Dayak, beberapa sumber mencetuskan bahwa awal mula konflik ini karena transmigrasi yang waktu itu dicanangkan oleh pemerintah agar adanya penyamarataan pembangunan di semua pulau.
Sebenarnya konflik etnis sudah ada dari era pemerintahan sebelumnya namun di era reformasi kecenderungan konfliknya lebih meningkat. Setiap konflik etnik pada masa Orde Baru relatif dapat diredam. Keberhasilan menumpas setiap konflik SARA di masa Orde Baru merupakan bagian integral dari upaya mewujudkan “keamanan dan ketertiban umum” bagi seluruh lapisan masyarakat di seluruh bagian Nusantara. Ini adalah strategi utama yang diterapkan bagi rezim otoriter. Pada era reformasi, konflik bernuansa etnis/kedaerahan dan agama meningkat. Hal ini lebih disebabkan akumulasi ketidak-adilan dalam proses politik dan distribusi kekuasaan serta ketidakadilan dalam menikmati hasil pembangunan.

Dalam kasus Madura-Dayak, rupanya penduduk Madura lebih unggul satu langkah daripada orang Dayak di sektor informal sehingga menggusur penduduk asli keluar dari pekerjaannya. Sebenarnya mereka tidak unggul - seperti kriteria Nietzsche bahwa seseorang yang unggul harus memiliki kecerdasan, kekuatan, dan kebanggaan - karena dalam kecerdasan, mereka sama-sama rendah. Rupanya orang Madura yang dahulu menjadi pekerja kasar dan menderita, kini bisa lebih sukses. Ini hampir serupa dengan filsuf yang dikagumi Nietzsche – Schopenhauer – yang mempunyai pandangan ‘Orang bijak menarik hikmah dari kepedihan, bukan dari kesenangan.’ Jika Indonesia melihat ini sebagai permasalahan, tetapi tidak bagi Nietzsche karena menurutnya memang seperti itulah kehidupan yang tidak menentang kodrat alam. Di dalam hidup ini yang kuatlah yang akan menang, kebajikan utama dalam kehidupan adalah kekuatan. Permasalahan Madura-Dayak bukanlah harus diselesaikan dengan jalan perundingan, pemungutan suara, tetapi melalui darah dan baja.

Bahkan, mungkin sebelum konflik terjadi, Nietzsche sudah tidak setuju dengan slogan Bhinneka Tunggal Ika karena menurutnya slogan ini hanya untuk orang-orang yang ingin bersaing, meskipun meminta perlindungan diatas haknya. Dan slogan ini tidak akan menghasilkan pemimpin yang agung. Selain itu, kritiknya mengenai kesetaraan adalah konsep ciptaan manusia yang palsu dan ujung-ujungnya merusak itu benar karena pasca reformasi banyak bermunculan konflik etnis seperti Ambon dan Poso.

Dayak sebagai penduduk lokal yang menghargai hukum adatnya. Hukum adat memegang peranan penting bagi orang Dayak. Tanah yang mereka miliki adalah warisan leluhur yang harus mereka pertahankan. Mengikuti teori Nietzsche, jika orang Dayak sungguh-sungguh hendak menjadi pencipta, haruslah lebih dahulu menunjukkan keberaniannya untuk memusnahkan nilai-nilai lama. Seseorang harus terlebih dahulu menihilkan segala nilai lama dan mempersetankan segala nilai yang sudah mantap karena nilai-nilai lama hanya akan menghalangi untuk mencipta.

Tapi, itu menurut pandangan Nietzsche. Jangan salah mengartikan untuk menghalalkan yang namanya peperangan. Entah setuju atau tidak, ini bisa dijadikan pengetahuan.
Semoga Bhinneka Tunggal Ika masih tetap ada.

Psi! Goblog

Join us

Psikologi Indonesia Goes Blogging terbuka bagi para pembaca yang ingin turut berpartisipasi untuk menyumbangkan tulisan atau pendapat yang berhubungan dengan Psikologi. Kirim Email ke Khrisnaresa@gmail.com dan anda langsung kami berikan keleluasaan untuk menulis di psigoblog.com

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags