Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.

Youtube sudah menjadi web yang paling tepat untuk mencari file berupa video bagi para pengguna internet saat ini. Video Klip, video lucu-lucuan, video pribadi, bahkan sampai video yang menyerempet ke arah pornografi pun ada disana. Hampir semua jenis video ada di sana, dan hampir tidak ada batasan video yang baik ditayangkan ataupun tidak di situs youtube. Mungkin hal tersebutlah yang membuat Ron Ilan, lelaki berumur 38 tahun, membuat situs www.totlol.com, sebuah situs video khusus untuk mendidik dan menghibur anak-anak. Totlol tersebut memiliki arti tidak resmi yang berarti "Anak yang tertawa keras", dari arti kata "Tot" yang maksudnya "Toddler" atau anak kecil dalam bahasa inggris. Kemudian "lol" yang berarti "Laugh Out Loud", bahasa yang digunakan dalam chatting. Tunggu apalagi, ajak anak-anak anda untuk mengunjungi situs ini! Sayang anak.. sayang anak... (khrisnaresa)



















Tidur di siang hari merupakan salah satu dari sekian banyak anugerah dari Tuhan yang banyak memiliki manfaat.  Artikel dari Huffington Post menulis bahwa tidur siang ternyata memberikan manfaat baik psikis maupun fisik bagi kita. Disebutkan bahwa ada studi yang menunjukkan bahwa tidur siang menunjukkan kewaspadaan, kreativitas, dan produktivitas kerja pada hari yang sama setelah tidur siang dilakukan. Penelitian yang dilakukan pada pilot NASA ternyata menunjukkan peningkatan kewaspadaan mereka sebanyak 54 persen. Belum lagi penelitian dari Harvard University yang membuktikan bhawa tidur siang selama 45 menit meningkatkan kemampuan mengingat. 

Orang-orang dari negara Amerika Latin memiliki tradisi tidur siang yang dikenal dengan istilah "Siesta". Tradisi ini berawal dari istirahat siang yang ditujukan untuk pekerja yang ingin bertemu adan menghabiskan waktu istirahatnya bersama keluarga atau teman mereka. Ada juga sumber yang mengatakan bahwa tradisi "Siesta" ini muncul di zaman perang sipil Spanyol yang berakibat kemisikinan dimana-mana sehingga pendudukanya harus bekerja lebih pada jam-jam yang tidak biasa, seperti malam atau dini hari. Untuk menghemat tenaga, biasanya mereka tidur pada siang hari atau pada jam-jam kosong sebelum nantinya bekerja. 

Klik di sini untuk penjelasan mengenai tidur siang yan lebih lengkap.  (Khrisnaresa)

Cobalah berandai-andai bahwa kita adalah seorang dokter jaga di sebuah klinik SMA. Suatu hari di siang bolong, ada murid perempuan yang mendatangi kita dan meminta untuk dites kehamilan, dan pada saat mereka menemukan hasil yang negatif, mereka menunjukkan wajah yang kecewa.

Tanda tanya besar akan muncul dalam hati saya, bila hal tersebut terjadi pada saya. Namun kini tanda tanya itu sudah muncul di kepala saya, saat mengetahui bahwa ada sekelompok bermain remaja perempuan yang membuat perjanjian untuk sama-sama memiliki bayi dan membesarkannya bersama-sama. Mereka adalah remaja perempuan dari Glouchester High School di kota Massachusetts, Amerika Serikat dan kebanyakan dari mereka berusia kurang dari 16 tahun.

Hal yang mungkin menjadi pertanyaan adalah mengapa menginginkan kehamilan di usia tersebut? Respons wajar pada remaja yang mengalami kehamilan pada umur tersebut adalah "Ya ampun, apa yang akan kulakukan dengan anak ini?", atau "Bagaimana aku akan membesarkan anakku?". Satu hal yang dapat mungkin menjadi jawaban adalah budaya populer yang tersebar pada anak muda yang kurang mendapatkan arahan dari orang tua atau pihak-pihak yang lebih tua. Erik Erikson, seorang tokoh Psikologi yang memusatkan penelitiannya mengenai perkembangan hidup manusia, mengemukakan bahwa masa remaja adalah masa pencarian identitas. Mereka yang sedang di dalam masa sedang haus-hausnya mencari tahu siapakah mereka dan mempertanyakan kepada diri mereka akan menjadi siapakah mereka. Apabila para remaja tidak memiliki seseorang yang mampu mengarahkan mereka ke arah yang baik, maka remaja-remaja tersebut dapat hilang arah, seperti dalam kasus ini, remaja perempuan Massachusetts yang menginginkan hamil tanpa pemikiran panjang akan bagaimana bayi mereka dirawat dan dibesarkan.

"Apabila anda adalah remaja perempuan yang benar-benar berjuang untuk menemukan identitas diri, tanpa adanya dukungan dan arahan, maka menjadi seorang ibu adalah pilihan yang paling mungkin terjadi.", tutur Patricia Quinn, direktur eksekutif dari Massachusetts Alliance on Teen Pregnancy, saat menyikapi fenomena perjanjian hamil sekelompok remaja perempuan Massachusetts ini. Ia juga menambahkan, "Kita harus melakukan lebih untuk remaja dan menunjukkan mereka jalan yang benar."

Krisis identitas adalah salah satu hal yang terjadi saat remaja tidak menemukan seseorang yang dapat membimbing mereka dalam menemukan jati dirinya. Saat fenomena remaja-remaja Massachusetts ini membuat perjanjian untuk hamil bersama ini keluar, Sarah Brown, Komisaris Eksekutif dari National Campaign to Prevent Teen and Unplanned Pregnancy mengungkapkan bahwa ada kemungkinan terpengaruh pemberitaan tentang bertebarannya selebriti Holywood yang hamil. Belum lagi film festival indi "Juno" yang juga memiliki peran terhadap terjadinya fenomena tersebut. Film tersebut bercerita tentang remaja perempuan yang hamil akibat berhubungan seks dengan pacarnya, kemudian ia memutuskan untuk melahirkan anaknya untuk diberikan kepada pasangan suami istri yang dikaruniai anak. Hal yang menyedihkan adalah pengakuan dari Christen Callahan, seorang remaja alumni Glouchester High School yang memiliki anak saat ia berumur 15 tahun di stasiun televisi NBC. Saat ditanyakan apa yang biasanya dikatakan remaja perempuan yang hamil di umur tersebut, Callahan mengatakan, "Mereka (remaja perempuan yang hamil) biasanya akan berkata 'oh, sepertinya orang tuaku tidak akan bermasalah dengan kehamilanku, dan mereka akan membantuku."

Jalan keluar dari krisis identitas ini adalah identifying, salah satu bentuk dari konformitas sosial (baca artikel psigoblog sebelum ini). Dengan mengidentifikasikan diri mereka dengan artis atau selebritis idola mereka, para remaja ini merasa beban pencarian identitas mereka berkurang karena mereka telah membuat dirinya 'semirip' mungkin dengan idolanya.

Hari ini mungkin fenomena ini mencengangkan, tetapi bisa jadi beberapa tahun mendatang ini adalah fenomena yang biasa saja. Pergerakan budaya berarti pergerakan sudut pandang, yang aritnya apa yang hari ini salah, bisa menjadi benar esok hari. Namun apakah kita yang hidup di hari ini harus pasrah menyerahkan status quo yang ada? Tentu tidak. Hari ini kita semua harus berjuang demi peradaban yang lebih baik di hari esok,. Oleh karena itulah, Patricia Quinn dan Sarah Brown tidak tinggal diam dengan keadaan remaja dari Glouchester High School. Mereka tidak ingin remaja perempuan yang ingin hamil dan membesarkan anak menjadi hal yang dimaklumi dan diterima oleh masyarakat pada nantinya. (khrisnaresa)

*Terima kasih untuk ide dari Nadhira untuk posting ini.


Rumah saya lagi direnovasi. Otomatis banyak kuli bangunan yang berwara-wiri dan mondar-mandir kesana kemari. Di rumah saya, ada beberapa orang pegawai perempuan. Para kuli sering menggoda seperti batuk berlebihan (entah mengapa rasanya saya ingin menyumpahi agar dia TBC sekalian) atau mengeluarkan bunyi 'sit suit' atau 'tak tok tak tok', yang mana itu sangat menganggu sekali. Begitu juga saya. Saya pun tidak terlepas dari gairah gejolak muda para kuli dalam kicauan suit menyuit.
Bagi saya dan teman-teman perempuan saya, ini sangat menganggu sekali. Rasanya untuk bersimpati bahwa mereka terlalu lama hidup di dunia laki-laki dan mereka jarang melihat perempuan, itu sangat dan tidak akan pernah terjadi. Keberadaan saya, rumah saya - tempat dimana saya merasa nyaman dari saya lahir - tiba-tiba dimasuki orang lain yang baru seumur jagung membenahi rumah tapi berperilaku kurang ajar. Jelas, ruang hidup saya menyempit, ruang hidup saya terancam.
Entah dengan pegawai perempuan lain, tetapi bagi saya, ini adalah pelecehan seksual. Setelah browsing kesana kemari, saya menemukan definisi yang sama (entah mereka saling menyalin satu sama lain) dan sayangnya akan saya copy lagi disini. Website e-psikologi bilang bahwa pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi atau mengarah kepada hal-hal seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan reaksi negatif seperti malu, marah, benci, tersinggung, dan sebagainya pada diri individu yang menjadi korban pelecehan tersebut. Rentang pelecehan seksual ini sangat luas, yakni meliputi: main mata, siulan nakal, komentar berkonotasi seks atau gender, humor porno, cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu, gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual, ajakan berkencan dengan iming-iming atau ancaman, ajakan melakukan hubungan seksual hingga perkosaan.
Namun saya punya definisi sendiri. Bagi saya, dilecehkan adalah menurunnya nilai-nilai kemanusiaan saya sebagai manusia yang punya potensi, kemampuan, pendapat, pengalaman, pikiran, inteligensi, perasaan, daaann lainnya. Dilecehkan secara seksual berarti saya dianggap objek pemuas, dianggap saya tidak punya nafsu (karena ybs yang terlalu nafsu), tidak mampu melawan, dianggap pakaian saya seronok, dianggap saya kecentilan, dan lainnya. Saya tidak setuju bahwa pelecehan seksual terjadi karena perempuan yang berpakaian minim. Ah, sekarang anak kecil dan orang tua pun jadi korban pelecehan, bahkan pemerkosaan. Bahkan anak santri pun bisa diperkosa.
Anyways, saya pernah dilecehkan melalui sms jorok yang seronok. Rasanya jijik membaca dan jijik sama orang yang mengirimkan. Orang tersebut mencoba meminta maaf dan mencoba berperilaku baik, tapi ternyata sama saja. Entah apa karena ia pernah dilecehkan oleh orang lain sehingga membuatnya cacat karakter dan tanpa disadari ia merasa adanya kenikmatan ketika ia melampiaskannya kepada orang lain. Saya pun sulit memaafkan sampai sekarang karena saya merasa marah, saya merasa gusar, saya merasa... 'Bisakah kamu sopan? Bisakah untuk tidak kurang ajar? Bisakah kamu tahan nafsumu? Bisakah kamu menutup mulut dan melakukan pekerjaan kamu dengan baik dan benar? Mind your business!'
Membahas pelecehan seksual memang sangat luas, karena yang satu merasa hanya sekedar iseng atau menggoda sedangkan yang satu lagi merasa betul-betul dilecehkan. Intinya, pelecehan ini masih bersifat subjektif. Hanya dirasakan oleh yang bersangkutan. Pelecehan seperti godaan atau siulan tidak menimbulkan memar seperti baru dipukuli sehingga tidak ada bukti fisik, namun jelas "keamanan" seseorang menjadi terganggu.
Pelecehan seksual bisa terjadi karena perbedaan kekuasaan: posisi, jabatan, gender, dan lainnya. Pelecehan tidak hanya terjadi di jalan, tetapi juga di tempat kerja. Ya... misalnya seperti kasus DPR sekarang deh. Di luar kebenaran siapa yang sebenarnya melecehkan (karena sampai sekarang masih tidak jelas dan kedua belah pihak terus berkelit), saya merasa salut dengan mantan sekretaris. Bagaimana ia - yang dipaksa melayani bosnya dibawah ancaman - membuka kedoknya blak-blakan di depan media? Ia memberi tahu apa yang dilakukan bosnya, di ruang mana tempat mereka melakukannya, bagaimana strategi saling sembunyi ketika mau check in di hotel, dan lainnya. Padahal masuk ke media adalah media akan menelanjanginya, membuatnya transparan. Seperti berlian di dalam etalase, ia akan terus dilihat dan diperhatikan. "I am seen transparant, transparant, transfixed."
Saya tidak menyebutkan kalau pria yang selalu melakukan pelecehan seksual (dan saya baru menyebutnya sekarang). Tapi bukan berarti perempuan tidak melakukannya. Perempuan pun tanpa disadari melecehkan laki-laki. Terkadang perempuan berkomentar mengenai gender laki-laki, terkadang perempuan pun mengumbar humor seksual, dan lainnya. Contohnya seperti film Disclosure dimana laki-laki menjadi korban pelecehan seksual.
Jadi, hormatilah masing-masing. Bilang saya copycat, bilang saya plagiator, bilang saya tukang salin. Tapi menurut saya, ini benar: Protect yourself from sexual harassment, don't wait until it happens, but do it... now!
-Nia-

Sebagai makhluk hidup yang tidak dapat hidup sendiri, sudah pasti kita sebagai manusia membutuhkan keberadaan orang lain untuk melangsungkan kehidupan kita. Tercermin dari kehidupan bermasyarakat yang tercipta dari awal leluhur kita, yaitu membentuk kelompok dan membagi tugas di dalam kelompok tersebut adalah cikal bakal kehidupan bermasyarakat yang sedemikian kompleks saat ini. Dari kelompok-kelompok masyarakat yang ada, sebagai manusia yang tergabung di dalamnya timbul perasaan-perasaan untuk menegaskan diri bahwa kita adalah bagian dari kelompok tertentu atau perasaan tidak ingin berbeda dari yang lain. Terkadang, dari perasaan tersebut, timbullah tingkah laku yang disebut dengan konformitas sosial.

Konformitas sosial adalah proses dimana tingkah laku seseorang terpengaruh atau dipengaruhi oleh orang lain di dalam suatu kelompok. Cara seseorang terpengaruh ada bermacam-macam, ada yang secara tidak langsung ataupun tidak langsung. Memakai sepatu berwarna hitam karena ada teguran dari teman kelompok adalah contoh pengaruh langsung sedangkan memakai sepatu berwarna hitam karena semua teman kelompok memakai sepatu berwarna hitam adalah pengaruh tidak langsung yang menyebabkan seseorang melakukan konformitas. Menurut Herbert Kelman, seorang Psikolog dari Harvard University, bentuk dari konformitas dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
1. Identifikasi (Saat seseorang meniru tokoh yang diidolakan, seperti ayah atau artis)
2. Internalisasi
3. Compliance

Internalisasi atau juga disebut pengaruh informasional muncul pada saat standar sosial yang jelas ambigu. Sebagai contoh, Dodi dan teman sekelasnya ditugaskan untuk membuat tugas oleh guru, tetapi tidak ada yang tahu apakah tugas tersebut dikumpulkan esok hari atau minggu depan. Karena situasinya ambigu, Dodi bertanya-tanya pada teman sekelasnya, dan rata-rata dari mereka akan mengumpulkan tugasnya minggu depan. Karena mendengar hal tersebut, Dodi pun ikut mengumpulkan tugas tersebut minggu depan, tanpa peduli mana yang benar. Lain halnya dengan compliance atau juga disebut pengaruh normatif. Pada perilaku konform yang ini, seseorang mengikuti perilaku kelompoknya meskipun ia berpendapat berbeda dengan kelompoknya. Penelitian yang dilakukan oleh Solomon E. Asch pada tahun 1955 merupakan contoh yang baik untuk menjelaskan internalisasi.

Pada penelitian tersebut, satu kelompok partisipan penelitian diberikan 2 lembar kertas seperti di samping. Peneliti meminta semua partisipan untuk menentukan antara garis a, b, atau c yang palaing mirip dengan garis yang ada di lembar yang paling kiri. Semua partisipan kecuali satu orang, sudah diberi instruksi secara rahasia untuk menjawab salah. Hasilnya, satu orang yang tidak diberi instruksi rahasia, beberapa kali mengubah jawabannya ke jawaban yang dibuat oleh mayoritas partisipan kelompok tersebut.

Bila merujuk pada faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan perilaku konform, hal tersebut kembali pada seberapa kuat keyakinan seseorang pada dirinya sendiri terlepas dari tekanan kelompok sosial yang diterimanya. Sebagai penutup, berikut ini adalah contoh penelitian yang menunjukkan betapa kuatnya tekanan sosial terhadap seseorang dan keinginan untuk tidak berbeda dari lingkungan sekitarnya dari orang tersebut. (khrisnaresa)

Menurut saya, media sedikit banyak memiliki peran dalam penerimaan dan penolakan terhadap suatu budaya. Tak terkecuali budaya homoseksualitas.
Anggap saja saya ketinggalan, tapi saya tetap kaget melihat isi sebuah majalah gay terbitan Amerika. Majalah ini adalah majalah pertama yang ditujukan untuk gay dan lesbian dan kemudian terus berkembang untuk mengungkapkan budaya gay, seni, fashion, tren, dan komunitas gay secara umum. Yang membuat saya kaget, majalah ini sangat membuka sebuah jendela baru ke dunia homoseksualitas dengan pengungkapan dan penggambaran yang jauh dari kesan seronok atau apapun yang sejenisnya. Jauh dari apa yang saya bayangkan sebelumnya. Hal inilah yang membuat majalah ini menjadi sukses: A key ingredient in Out's success in attracting high brow advertisers who had never considered targeting the gay market before was the magazine's offering of a safe environment in which no adult material or personal classifieds were published.
Majalah ini menjadi sangat menarik menurut saya. Dengan penulisannya yang terasa dekat dengan kehidupan – terutama karena memang karena para penulisnya adalah para gay pula – majalah ini mampu mengangkat kehidupan dunia gay seakan memang merupakan kehidupan yang berkembang di dunia ini saat ini. Contohlah tulisan ini yang mengangkat fenomena gay:

On Valentine’s Day my boyfriend tells me he can’t ejaculate -- not with me, at least. “Sorry,” says Bam. “I’m saving it for the sperm bank.” Excuse me? “The appointment is all organized,” he continues with blithe indifference. “The lesbian is about to ovulate.” Blech. Spare me the science fiction.
It’s not the most romantic gesture in the world when your boyfriend leaves you on Valentine’s Day to go drop a full load at the sperm bank for a pair of lesbians hot for his genes, but he made this Faustian bargain long before we met. As potential padre to an artificially inseminated gayby -- for whom the lesbians will be primary caregivers -- Bam wouldn’t have any legal rights or responsibilities. He wants only minimal involvement. He promised it would never affect our relationship. Liar.

Atau mungkin tulisan mengenai body electric school berikut ini:

On a recent Saturday around 11 a.m., I found myself naked with 30 other men, blindfolded, lying on a towel and pleasuring myself with a spurt of coconut oil. I was at Celebrating the Body Erotic -- a course offered by the Body Electric School that is designed to teach men to “awaken the erotic energy that lies within all of us.” The group had spent the morning getting to know each other through various exercises, and two hours in we were sans clothes and fondling ourselves.
Our leader was Michael -- a spry, gray-haired man with a quick gay wit. The purpose of the blindfold, he said, was to help us get out of our heads and turn our minds inward. If you needed more coconut oil, you could raise one hand while cupping the other one at your hip, and a naked assistant would come by and squirt more into it. Along with his four or five assistants, Michael, also naked, urged us to try different areas with the oil: between the thighs, the scrotum, the stomach -- pretty much everywhere but the penis. In fact, throughout the day, as we danced, breathed, hugged, and caressed each other, we were encouraged to refrain from ejaculation.
Michael suggested we arch our backs. I thrust my pelvis into the air and tried to enjoy myself, but I felt like an amateur porn actress trying to be sexy. I couldn’t shake the thought that the Body Electric team was watching -- even if it was “without judgment.” I felt a little dumb and inhibited -- which was surprising since, as a 38-year-old single gay New Yorker, I have been in more compromising positions.

Ya, majalah ini memang telah membawa sebuah budaya mengenai dunia gay. Akibatnya? Mungkin sebuah penerimaan terhadap budaya ini. Atau malah penolakan yang semaakin meluas. Tetapi apapun yang akan terjadi nantinya, budaya seperti ini memang ada.
Tertarik dengan majalah ini? Buka aja www.out.com
hehe. =) (Tazki)

Halo para pembaca setia Psikologi Indonesia Goes Blogging. Mulai saat ini, nikmati interface baru dari psigoblog. Kalau ada komentar mengenai template mana yang lebih baik, mohon usul dan sarannya.
Selamat membaca..!


Pertama-tama, judul diatas bukanlah curhat atau pengakuan pribadi penulis. Walau pun... tidak ada masalah jika anda gay. Tapi penulis bukan gay! Sumpah, bukan!.... Eh, tidak! Penulis tidak mengatakan kalau gay itu buruk. Tapi... yang penting penulis bukan gay. Aduh, bagaimana, ya? Hahahaha...

Saat ini, homoseksualitas sudah tidak dianggap sebagai sebuah gangguan kejiwaan. Tentu saja acuan dari pernyataan diatas adalah DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder / manual –buku acuan— untuk diagnostik secara statistikal untuk menentukan gangguan kejiwaan) yang dibuat oleh ‘kiblat’ ilmu kejiwaan saat ini, yaitu APA alias asosiasi psikiatri Amerika. Di dalam DSM, yang bagi anda yang tidak familiar dengan ilmu kejiwaan saya beritahukan bahwa sekarang sudah masuk ke edisi ke empat, homoseksualitas sudah tidak masuk ke dalam kategori gangguan kejiwaan manapun. Salah satu alasannya adalah karena syarat bagi sebuah perilaku untuk diklasifikasikan sebagai gangguan jiwa dalam DSM adalah jika perilaku tersebut mengganggu kehidupan orang yang menderitanya. Dan temuan menyatakan bahwa para homoseksual dapat hidup dengan normal dan bahagia.

Situs dari asosiasi psikologi Amerika (American Psychological Association) juga mengatakan dengan tegas bahwa homoseksualitas bukan sebuah gangguan. Kesimpulan yang mereka nyatakan ini berasal dari temuan bahwa, seperti yang di pakai oleh DSM untuk menyimpulkan bahwa homoseksualitas bukanlah sebuah gangguan, orang yang berorientasi seksual homoseksual (gay) dapat hidup dengan normal seperti orang lain.

Berikut adalah sejarah dari ditariknya homoseksual dari klasifikasi gangguan kejiwaan (Mental Disorder) oleh dunia ilmu kejiwaan:

Masa Psikologi Klasik – Jung, Adler dan Freud menyatakan bahwa homoseksualitas adalah sebuah gangguan kejiwaan. Saya belum menemukan penjelasan dari pandangan Jung dan Adler, tapi menurut Freud, homoseksualitas adalah sebuah bentuk fiksasi (berhentinya perkembangan mental) dari satu dimensi dari tahap perkembangan mental seseorang, sehingga orang normal adalah orang yang berhasil berkembang menjadi seorang heteroseksual.

DSM-I (DSM versi pertama) yang diterbitkan pada tahun 1952– menyatakan bahwa homoseksualitas adalah gangguan kepribadian sosiopathik. Artinya, orang yang memiliki orientasi seksual homoseksual memiliki kepribadian yang menyimpang dari norma sosial, dan penyimpangan ini harus diperbaiki.

DSM-II yang diterbitkan tahun 1968 – menghapus homoseksual dari daftar penyakit sosiopath dan memindahkannya ke daftar Sexual Deviation (penyimpangan seks).

DSM-III yang diterbitkan pada tahun 1973 – menyatakan bahwa homoseksualitas dinyatakan sebagai sebuah gangguan HANYA jika orientasi seksual homoseksual orang tersebut mengganggu dirinya (dia tak mau menjadi homoseksual). DSM-III kemudian mengalami revisi dan pada edisi revisi ini, homoseksualitas sudah tidak dianggap sebagai sebuah gangguan sama sekali. Alasannya adalah, karena para komite DSM menyatakan bahwa adalah normal bagi seorang homoseksual untuk merasa terganggu dengan orientasi seksualnya pada saat ia pertama kali menyadari bahwa ia seorang homoseksual. Oleh karena itu perasaan terganggu yang dirasakan seorang homoseksual bukanlah sebuah gangguan.

Robert L. Spitzer, ketua komite pembuatab DSM III menyatakan bahwa homoseksualitas tidak lebih dari sebuah variasi orientasi seksual. Tidak lebih. (Dion)

Psi! Goblog

Join us

Psikologi Indonesia Goes Blogging terbuka bagi para pembaca yang ingin turut berpartisipasi untuk menyumbangkan tulisan atau pendapat yang berhubungan dengan Psikologi. Kirim Email ke Khrisnaresa@gmail.com dan anda langsung kami berikan keleluasaan untuk menulis di psigoblog.com

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags