Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.


Di masa depan, kemampuan analitis saja sudah tidak cukup bagi seseorang untuk sukses. Seorang pengusaha, atau sebuah perusahaan, juga harus memiliki kemampuan sintesis.

Pengertian kemampuan analitis adalah kemampuan memecah-mecah sebuah masalah atau kebutuhan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, kemudian mencarikan jawaban kepada masalah-masalah tersebut. Contoh, untuk menjual sebuah produk, pertanyaan-pertanyaan yang harus di jawab adalah yang berkaitan dengan segmen pasar, harga yang sesuai dengan daya beli pasar, keunggulan yang dimiliki dari produk dan lain-lain. Sedangkan kemampuan sintesis adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dari berbagai elemen yang sebelumnya tidak dianggap berkaitan. Contoh, menyatukan pengetahuan seorang pengacara tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keputusan juri atau hakim dan kemampuan photoshop seorang ahli visual untuk menciptakan barang bukti foto yang menonjolkan (bukan merubah) faktor-faktor yang mempengaruhi tadi.

Kemampuan analitis adalah kemampuan yang dimiliki oleh otak kiri, sedangkan kemampuan sintesis adalah kemampuan yang dikuasai otak kanan. Oleh karena itu, di masa depan, orang dengan keunggulan di otak kiri saja sudah tidak terpakai. Yang diperlukan oleh pekerjaan-pekerjaan di masa depan adalah orang dengan keunggulan di otak kiri yang juga mendapat dukungan kuat oleh otak kanan. Ada enam kemampuan otak kanan yang harus dimiliki oleh para pekerja di masa depan (dibahas di bagian dua), yaitu kemampuan membuat desain, kemampuan membuat cerita, kemampuan menciptakan simphoni, kemampuan berempati, kemampuan bermain dan kemampuan menciptakan makna.

Ada tiga hal yang mendukung argumen bahwa di masa depan kemampuan otak kiri saja sudah tidak cukup, yaitu, Asia, Abundance dan Automation.

Asia. Dengan adanya teknologi internet, makin banyak pekerjaan eksekutif di negara maju yang dikirim keluar ke negara berkembang. Contoh, pekerjaan sebagai seorang akuntan. Saat ini, di India sudah banyak akuntan yang memiliki kemampuan setara dengan akuntan di Amerika. Oleh karena itu, banyak perusahaan akuntan yang mengirim permintaan pembuatan laporan keuangan mereka pada tenaga outsource di India. Lalu, pekerja di India cukup meng-e-mail balik pekerjaannya. Gaji para akuntan India ini lebih dari 10 kali lebih murah dari akuntan di Amerika. Oleh karena itu, orang dengan kemampuan analitis di masa depan yang sukses adalah orang yang bukan hanya mengerti sebuah keahlian (misal, akuntansi) tapi orang yang dapat membuat pekerjaan baru dari keahliannya (misal, menjadi pimpinan perusahaan akuntansi yang menggunakan jasa akuntan dari Asia).

Abundance. Saat ini, industri sudah berkembang pesat. Supply lebih banyak dari demand. Sehingga, harga barang menjadi sangat murah karena semua produk harus bersaing jika mau selamat. Lebih jauh lagi, harga produk-produk buatan desainer kini menjadi makin murah. Pembeli kini sudah mulai bergeser dari sekedar mencari fungsi barang, tapi juga mencari barang yang dapat memberikan makna bagi hidup, atau yang sesuai dengan gaya hidupnya. Oleh karena itu, kemampuan untuk membuat barang yang dapat memenuhi kebutuhan akan fungsi (kemampuan otak kiri) saja sudah tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah, selain dapat berfungsi dengan baik, barang yang dapat memberikan dampak emosi atau mempunyai makna bagi si pembeli. Contoh, handphone. Saat ini handphone sudah tidak bersaing di kemampuan fungsional, tapi di kemampuan handphone tersebut mewakili gaya hidup pemiliknya.

Automation. Makin banyak teknologi yang merebut profesi manusia. Software SPSS sudah membuat profesi ahli stastik tidak semisterius dulu. Bahkan, kini kemampuan analisa penyakit dokter di Amerika sudah mulai diambil alih oleh komputer, tentu saja dengan tingkat ketepatan lebih tinggi dari seorang manusia yang masih memiliki emosi. Oleh karena itu, profesional di masa depan bukan hanya orang yang dapat menganalisa, tapi juga dapat menyentuh sisi manusia dari orang yang membutuhkan analisanya. Contoh, karena kemampuan analisa dokter makin digantikan oleh komputer, dokter di masa depan adalah dokter yang dapat menjelaskan hasil analisa komputer dengan kata-kata awam dan penuh empati kepada pasien-pasiennya.

Kemampuan baru ini akan dikuasai jika seseorang memiliki enam kualitas otak kanan yang sudah disebut diatas (design, story, empathy, simphony, play, dan meaning). Seseorang yang memiliki enam kualitas ini akan menjadi seseorang yang high concept (mampu mensintesis) dan high touch (mampu memberikan dampak emosi pada pekerjaannya), dua persyaratan dari pekerja sukses di masa depan yang tak hanya memiliki kemampuan otak kiri, tapi juga kemampuan otak kanan.

p.s.: Bagian dua dari buku ini adalah penjelasan dan argumen lebih lanjut dari enam kualitas di atas, serta berbagai teknik untuk melatih kemampuan tersebut. (Dion)

Secara natural, ternyata manusia bukanlah mahluk yang setia. Tentunya definisi setia yang saya gunakan di sini adalah definisi setia yang sangat ketat, yaitu, benar-benar menutup diri kepada hubungan cinta (romantic relationship), atau hal-hal yang mungkin akan berkembang menjadi hubungan cinta, di luar hubungan yang telah dimiliki. Kenapa saya katakan manusia tidak setia? Karena secara natural, manusia cenderung memperhatikan lingkungannya untuk mencari orang-orang yang potensial untuk menjadi pasangan cintanya, walau pun pada saat itu dia sudah memiliki pasangan.

Nando Pelusi, seorang psikolog klinis, menemukan bahwa manusia seringkali menciptakan ‘asuransi cinta’ bagi dirinya. Yaitu, mendekati atau sekedar memikirkan orang-orang yang memenuhi persyaratan untuk menjadi pasangan dirinya, sebagai cadangan jika hubungan yang telah dimiliki manusia itu saat ini kandas. Bahkan, ditemukan bahwa ternyata banyak pemakai jasa layanan pencari pasangan di internet (online dating) sebenarnya sudah berada dalam ikatan pernikahan.

Alasan dari perilaku ini diperkirakan adalah warisan dari evolusi. Manusia, demi memastikan agar dirinya dapat berreproduksi, akan membawa dirinya sejauh mungkin dari kemungkinan tidak memiliki pasangan. Artinya, memiliki ikatan cinta dengan seseorang rupanya tidak cukup untuk membuat seorang manusia merasa aman. Dia tetap merasa harus memiliki ‘jaring pengaman’ andaikata dia terlepas dari hubungan ini.

Hanya saja, memikirkan orang lain (yang mungkin dapat menjadi pasangan anda) saat anda sudah memiliki pasangan, tidak berarti seseorang tidak dapat berkomitmen pada hubungan yang sedang dijalani. Tapi, kedua pasangan harus benar-benar memfokuskan dirinya pada hubungan yang sedang dijalani. Mereka harus secara aktif mencintai pasangannya, dan dapat menerima si pasangan apa adanya. Kalau tidak? Kita mengenal yang namanya selingkuh dan ketidaksetiaan, bukan? Apalagi, kalau mendapat sokongan dari budaya, perilaku poligamilah yang akan terjadi.

Sebagai penutup, Arriaga dan Agnew, peneliti psikologi sosial, mengatakan bahwa salah satu syarat sebuah hubungan dapat dipertahankan saat pasangan itu bertengkar adalah, bahwa orang lain yang berpotensi menjadi pasangan baru tidak “available”. (Dion)

Kini semua orang tahu mengenai Verry Idham alias Ryan dari Jombang karena akhir-akhir ini media santer memberitakannya akibat dari perilaku membunuh pasangan homoseksualnya. Diawali dari Heri Santoso yang ia bunuh dengan alasan Heri mau membayar mahal untuk bisa jalan sama pacarnya Ryan sampai kemudian ditemukan tiga mayat lainnya di rumah orang tuanya sehingga rasanya ini bukan masalah seorang homoseks yang cemburu saja.

Media menyangkutpautkan Ryan dengan tiga hal: psikopat, pembunuh berantai, dan homoseksual. Entah dari mana ada asumsi ia benar-benar psikopat, bisa jadi dari kriminolog atau ahli forensik - yang sebaiknya jangan dipercaya dulu sebelum ia diperiksa oleh seorang psikolog. Tapi jika asumsi itu benar, lalu apakah itu psikopat, pembunuh berantai, homoseksual, dan apakah kaitannya?
Apa itu psikopat?
Psikopat adalah bentuk kekacauan mental ditandai tidak adanya integrasi pribadi; orangnya tidak pernah bisa bertanggung jawab secara moral, selalu konflik dengan norma sosial dan hukum (karena sepanjang hayatnya dia hidup dalam lingkungan sosial yang abnormal dan immoral).
Psikopat berbeda dengan orang normal dan berbeda dari pelaku kriminal yang 'normal'. Tidak hanya berbeda karena tindakannya tetapi berbeda secara emosi, motivasi, dan proses berpikir. Pertama, perilaku mereka bukan sekedar perilaku impulsif, tetapi hampir tanpa motivasi atau dimotivasi oleh tujuan yang tidak dimengerti. Kedua, psikopat mempunyai emosi yang dangkal. Mereka kekurangan cinta, kesetiaan, kekurangan empati, dan rasa tidak bersalah. Ketiga, mereka tidak bisa melakukan penilaian dan tidak bisa belajar dari kesalahan dalam pengalaman hidup. Psikopat tidak memikirkan konsekuensi dari perilakunya. Misalnya orang normal, ketika mendapat hukuman dari tindakannya, akan berhenti untuk melakukan tindakan tersebut atau akan mengulangnya tapi dalam cara agar tidak ketahuan oleh orang lain. Sedangkan orang psikopat, akan terus mengulang lagi dan lagi, dengan cara yang sama, meskipun mereka telah dihukum karena melakukan tindakan itu. Jadi, mungkin jika Ryan atau siapapun adalah seorang psikopat, penjara tidak akan membuatnya jera (tapi sepertinya kemungkinan dieksekusi lebih besar dibandingkan ia dipenjara 20 tahun) Terakhir, para psikopat terlihat meyakinkan dari luar. Maksudnya, karena mereka tidak memiliki perasaan cemas dan perasaan bersalah, mereka bisa berbohong, mencuri, berbuat curang, dan lainnya. Ini mendukung pernyataan seorang psikolog yang pernah diwawancara (itu lho psikolog yang duduk di kursi roda) bahwa Ryan membunuh karena dia cemburu dengan pasangan homoseksualnya itu bohong besar. Itu hanya alibi untuk menutupi perilakunya atau trigger dari perilakunya. Dan jangan percaya dengan tampilan kalem dan lemah lembutnya karena orang psikopat mampu mengontrol sikapnya.
Apa itu pembunuhan berantai?
Kebanyakan para pembunuh berantai mengalami penyiksaan ketika kecil dan ketika mereka dewasa, mereka ketergantungan pada obat dan alkohol. Mereka cenderung charming, karismatik, pintar, dan cenderung memilih tipe dari korbannya.
Kebanyakan pembunuh berantai adalah sadis dalam perilaku seksual. Mereka menyiksa dan menyakiti korbannya secara seksual. Bedanya dengan orang yang memiliki kepribadian antisosial adalah orang yang antisosial melakukan kekerasan sebagai cara untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan seperti seks, obat, uang, dan lainnya, sedangkan psikopat melakukan kekerasan untuk mendapatkan nikmatnya dari membunuh. Seorang ahli forensik bilang bahwa banyaknya sayatan dangkal di dadanya Heri Susanto. Ia berkata, "Artinya tersangka menikmati perbuatannya." Dan ada teori yang menyatakan bahwa pelaku psikopat - ketika menikmati pembunuhan - mereka teringat dengan orang yang telah melakukan kekerasan kepadanya ketika ia kecil.
Para psikopat yang membunuh banyak orang sama seperti orang normal. Martens (2002) bilang bahwa pelaku psikopat mencintai (love) pasangan mereka, anak mereka, orang tua, dan binatang peliharaan. Tapi tidak seperti orang sehat, mereka memiliki kesulitan untuk mencintai (loving) dan percaya dengan dunia di luarnya. Mereka hidup dengan penderitaan seperti kehidupan keluarga yang tidak baik, orang tua yang menyiksa, hubungan yang tidak baik, perpisahan dan perceraian, atau lingkungan rumah yang buruk.
Pembunuh psikopat tidak melihat perilaku mereka itu salah. Malah, mereka merasa diri mereka adalah korban. Contohnya Ryan, ia merasa jadi korban yang membela diri dan membela pacarnya sehingga ia membunuh Heri. Para psikopat percaya bahwa seluruh dunia melawannya. Ada juga pembunuh psikopat yang membunuh korbannya bukan untuk memuaskan keinginannya membunuh, tapi mereka membutuhkan seorang teman. Seperti Dennis Nilsen - pelaku psikopat - yang berkata bahwa ia merasa nyaman tinggal dengan mayat daripada hidup dengan orang lain karena mayat tidak akan mengacuhkannya. Ini menjelaskan kalau ia merasa kesepian dan mengalami isolasi sosial sebagai hal yang sangat menyakitkan, namun diekspresikan dengan kekerasan.
Hubungan psikopat dengan homoseksual?
Saya pikir, homoseksual menjadi kambing hitam sebagai akibat perlaku Ryan. Issue yang muncul adalah homoseksual itu kejam dan memiliki kecenderungan membunuh jika sudah sakit hati. Issue ini akan berbeda jika yang membunuh seorang lesbian atau kuli bangunan. Saya tidak setuju kalau ini disangkutpautkan dengan orientasi seksual seseorang. Karena bisa jadi, saya yang heteroseksual pun bisa membunuh karena sakit hati (semoga tidak). Tapi bisa jadi kejadian ini menguatkan teori dalam buku Kartini Kartono bahwa salah satu simptom (gejala) psikopat adalah sering dicirikan dengan penyimpangan seksualitas dalam bentuk homoseksual, transvestism, pedofil, fetishm, sadism, serangan atau perkosaan seksual, pembunuhan dan pengerusakan jasad karena motif seks. Kalau dilihat dari pembunuhan dan pengerusakan jasad karena motif seks, ini klop pernyataan ahli forensik itu bahwa seorang pembunuh yang merusak alat kelamin korban, pasti memiliki motif seksual.
Di Amerika, banyak kasus psikopat yang membunuh secara berantai korbannya karena motif seksual. Pembunuhan berantai pertama dilakukan oleh Gilles de Rais pada abad 15, dimana ia membunuh lebih dari 800 anak kecil. Ia memuaskan dirinya dengan memutilasi korban dan kemudian ia melakukan hubungan seksual dengan mayat-mayatnya. Tapi apakah bisa ditarik kesimpulan kalau Ryan juga melakukan hubungan seksual sebelum/sesudah dengan para korbannya, jika dilihat dari korban yang hampir semuanya laki-laki dewasa? Selain itu, banyak pembunuhan dilakukan kepada anak-anak jalanan. Bisa karena mereka anak-anak (pelakunya pedofil) dan tidak ada orang yang memedulikan anak-anak jalanan sehingga kemungkinan ditangkapnya kecil.
Btw, media itu lucu ya. Ada beberapa berita yang bilang 'Kasus RY', tapi ada yang blak-blakan bilang 'Kasus Verry Idham alias Ryan'. Rasanya, nama samaran sudah tidak ada gunanya lagi.
Anyways, walaupun membuat saya mual ketika menulisnya, kasus seperti ini sangat menarik!
-Nia-

Source: Picture

*spoiler alert*
Film yang memiliki latar belakang Spanyol dan dibuat oleh Pedro Almodovar ini menceritakan seorang perawat laki-laki bernama Benigno yang berteman dengan seorang jurnalis. Mereka bertemu di rumah sakit karena perempuan yang mereka cintai sama-sama terbaring koma. Perempuan yang dicintai Benigno ini bernama Alicia. Sebelum Alicia koma, Benigno sudah lama memperhatikan Alicia. Ia mengintai Alicia yang sedang latihan menari dari jendela apartment-nya, ia mengikuti Alicia sampai rumahnya, ia berpura-pura melamar pekerjaan di rumah Alicia, ia masuk ke kamar Alicia, dan mengambil jepit rambutnya. Akhirnya ia tidak melihat Alicia lagi karena Alicia kecelakaan mobil dan koma. Benigno yang pada saat itu adalah perawat yang direkomendasikan dengan baik, memiliki kesempatan untuk merawat Alicia.
Benigno memandikan Alicia (jadi film ini banyak adegan nude, namun tidak berkonotasi seksual), merawatnya, menjemurnya, mengajaknya ngobrol, dan lainnya. Berbeda dengan Benigno, sang jurnalis menyadari bahwa perempuannya itu sudah mati (brain dead) secara kedokteran dan perempuan itu tidak akan mendengarkannya berbicara. Benigno tidak setuju, ia menyangkal, "Otak perempuan adalah sebuah misteri, bahkan pada saat-saat seperti ini." Sampai akhirnya Benigno tidak tahan dan memperkosa Alicia yang koma. Benigno dikeluarkan dari rumah sakit dan dipenjara. Sampai akhirnya ia bunuh diri dengan alasan bahwa ia ingin bersatu dengan Alicia dengan cara membuat dirinya koma. Padahal saat itu Alicia sudah tersadar dari komanya dan Benigno malah kebablasan (alias mati juga). Poor Benigno...
Film ini memperlihatkan mengenai obsesi untuk memiliki seseorang dan ia sendiri mati karena mengejar obsesi itu. Obsesi adalah ide-ide atau emosi yang terus menerus melekat dalam pikiran dan hati, dan tidak mau hilang, walaupun sesungguhnya individu yang bersangkutan secara sadar selalu berusaha untuk menghilangkannya. Biasanya ide-ide tersebut tidak menyenangkan, tidak rasional, tapi tidak bisa dibendung atau dilenyapkan, dan menjadi satu keharusan. Seperti Benigno harus berada di dekat Alicia, harus memiliki Alicia, harus merawat Alicia. Bahkan ketika Benigno di penjara, ia harus tahu berita tentang Alicia. Cinta jadi alasan untuk memiliki Alicia tapi mungkin ia tidak tahu kenapa ia memilih Alicia sebagai objek obsesinya.
Disini digambarnya bahwa kehidupan Benigno itu begitu sepi. Bisa dilihat ketika film menggambarkan keadaan apartment-nya dan menggambarkan keadaan penjara. Kosong, modern, tapi sepi. Benar atau tidak, mungkin rasa sepi bisa menjadi faktor penyebab seseorang terobsesi ingin memiliki orang lain. Benigno membutuhkan keberadaan orang lain untuk membuatnya merasa tidak sendirian, merasa tidak ditinggalkan, dan merasa 'hadir' di dunianya.
Film berbahasa asing yang menang piala Oscar tahun 2002 ini layak tonton dan layak diperdalam secara psikologis. Coba deh ditonton, mungkin pembaca/penonton bisa menemukan hal-hal baru lainnya. Atau jika sulit mendapatkannya, Anda bisa menonton Cinta Fitri yang ditayangkan di SCTV ;)
-Nia-

Source: Picture


Saat saya menonton film Kung-fu Panda, terbersitlah sebuah pemikiran: “film ini tidak saintifik.”


Tidak, saya tidak menyerang kemampuan Po yang bisa melompat tiga meter demi mencuri kue almond milik Monkey. Bahkan, hal semacam ini mungkin saja terjadi jika seseorang memiliki motivasi yang tepat (saya punya teman yang pernah melompati pagar setinggi lebih dari dua meter karena dikejar anjing). Saya tidak menyerang kejadian dimana Po tidak mati karena terjatuh dari tangga istana yang jumlahnya amat banyak. Saya pernah memiliki badan yang sangat gendut, dan percayalah, lemak adalah penahan benturan yang sangat baik. Saya tidak menyerang adegan-adegan saat Po dengan lincah memperlihatkan kemampuan Kung-fu-nya dengan lincah karena saya pernah menonton adegan-adegan kung-fu yang diperlihatkan Sammo Hung.


Yang tak dapat saya percaya adalah… Po memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi.

Ini penjelasan saya. Po adalah tokoh yang banyak makan, dia harusnya memiliki kepercayaan diri yang rendah. Studi dari American Academy of Dermatology menunjukkan bahwa gula dan tepung terigu (yang banyak dimakan Po dalam bentuk mie dan dumplings) meningkatkan kadar insulin dalam tubuh. Insulin lalu membuat tubuh memproduksi berbagai macam hormon, salah satunya adalah hormon di wajah yang memproduksi minyak dan sel-sel yang berfungsi untuk membuat wajah tetap lembut dan sehat.


Jika kadar insulin dalam tubuh berlebihan, hormon di wajah tersebut juga diproduksi secara berlebihan, sehingga minyak dan sel pada wajah yang diproduksi juga berlebihan. Hal ini menyebabkan pori-pori wajah tersumbat dan menghasilkan tempat yang tepat bagi bakteri untuk berkembang. Sistem imun tubuh lalu menyerang bakteri ini dengan efek samping bagian wajah tersebut jadi membengkak dan memerah. Kita mengenalnya dengan sebutan jerawat.


Jika Po banyak makan, harusnya dia memiliki banyak jerawat. Jika dia punya banyak jerawat, dia akan memiliki krisis kepercayaan diri. Jika dia memiliki krisis kepercayaan diri, dia akan makan lebih banyak karena dia makan saat dia sedang gundah. Jika dia makan lebih banyak, dia akan memiliki lebih banyak jerawat, sehingga kepercayaan dirinya akan makin jatuh (lingkaran setan makan-berjerawat-makin banyak makan-makin banyak jerawat ini juga dirasakan oleh banyak orang di dunia nyata).


Jadi harusnya Po punya rasa percaya diri yang rendah! Film Kung-fu Panda tidak saintifik! Hehehe…

Kalau anda sering mengeluh betapa tidak menyenangkannya pekerjaan anda sekarang, coba renungkan kembali setelah anda melihat beberapa profesi yang dimiliki orang-orang di beberapa foto di bawah ini. Sambil merenung, saya beri kesempatan anda untuk berpikir mengapa mereka mau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang paling buruk ini...






artikel ini merupakan extension dari infogue.com


Jika pada artikel sebelumnya saya mengutip kata-kata dari Steve Jobs, maka kali ini saya ingin anda semua mendengar dengan lengkap apa yang dikatakan oleh Steve Jobs mengenai kisah perjalanan karirnya. Klik di sini untuk teks lengkap. Saya cukup terharu mendengar kata-kata pembukaan yang ia ucapkan di awal pidatonya di Stanford University tahun 2005 itu. Ia mengatakan:

"I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I've ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That's it. No big deal. Just three stories."

Melihat bahwa ia tidak pernah lulus dari universitas manapun, dan ceritanya bahwa ia berasal dari keluarga yang cukup sulit, ternyata ia tidak lantas menyerah begitu saja pada nasib. Dalam menceritakan pengalaman hidupnya, ia membagi pidatonya dengan 3 cerita: Connecting the dots, love and loss, dan death. Dan pesan yang terpenting dari CEO Apple dan Pixar ini adalah:
"Stay hungry, Stay foolish"

Kita menjalani SD 6 tahun, SLTP 3 tahun, SLTA 3 tahun, dan kuliah yang rata-rata 4 tahun demi mencapai pendidikan yang layak,demi persaingan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak bagi kita. Tetapi seperti apa sih sebetulnya pekerjaan yang layak untuk kita? Pekerjaan yang banyak menghasilkan uangnya?

Semuanya kembali bagaimana kita memandang pekerjaan kita.

Kembali ke hal yang paling mendasar dahulu: untuk apa kita bekerja? Mungkin dari antara kita ada yang berpendapat kita bekerja untuk hidup, untuk makan, untuk memiliki tempat tinggal yang layak. Mungkin juga sebagian dari kita ada yang menginginkan Mobil baru, membeli rumah di daerah elit, membelikan tas mahal untuk istrinya, dan lain-lain. Lebih ekstrim lagi, ada yang menjawab bekerja karena disuruh orang tua, atau bekerja karena tidak tahu mau apa. Kalau dikembalikan lagi, kita semua bekerja agar hidup kita tidak susah. Atau mungkin kata-kata itu perlu sedikit diubah:

Kita bekerja agar hidup kita tidak susah untuk mencapai kebahagiaan hidup.

Kalau begitu masalahnya, berarti pola pikir kita tentang pekerjaan harus diubah sedikit. Berikut akan ada 3 cerita berbeda dengan tokoh yang sama untuk menjadi bahan renungan.

Si A bekerja dengan tujuan utama demi mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai hidupnya. Apabila secara finansial si A aman, maka ia tidak akan lagi mau untuk melakukan pekerjaannya sekarang, dan sudah pasti ia akan mencari pekerjaan lain. Pekerjaan si A sekarang ini hanyalah untuk membiayai hidupnya belaka. Terkadang ia berharap bahwa waktu akan berlalu cepat saat ia sedang bekerja. Si A akan tidak akan memberikan saran pada kawannya atau anaknya untuk menggeluti pekerjaannya sekarang dan ia sangat ingin untuk pensiun.

Si B pada dasarnya menyukai pekerjaannya, tetapi ia tidak berharap untuk berada di tempat yang sama pada 5 tahun mendatang. Ia berencana untuk berpindah ke pekerjaan yang lebih baik. Terkadang si B berpikir bahwa ia sedang membuang-buang waktu dengan pekerjaannya yang sekarang ini, namun ia tahu bahwa ia harus mempertahankan pekerjaannya ini demi kenaikan pangkat atau jenjang karir yang lebih tinggi. Si B tidak sabar untuk mendapatkan promosi. Untuknya, promosi adalah penghargaan terhadap pekerjaannya, dan sebagai tanda kesuksesannya dalam berkompetisi dengan pekerja lain.

Pekerjaan si C adalah bagian hidup yang penting dalam hidupnya. Ia sangat puas dengan pekerjaan yang ia miliki, karena apa yang ia kerjakan adalah hal yang vital dalam menunjukkan siapa dirinya. Pekerjaannya adalah hal yang pertama ia katakan pada orang lain untuk menjelaskan siapakah dirinya. Ia cenderung membawa pulang pekerjaannya, dan saat berlibur juga. Si C merasa senang dengan pekerjaannya karena ia menyukainya. Ia akan mendorong teman dan anaknya untuk memasuki bidang pekerjaan seperti yang sedang digelutinya, dan ia pun akan kecewa bila ada yang menyuruhnya menghentikan pekerjaannya yang sekarang ini. Si C pun sama sekali tidak menunggu pensiun.

Si A memandang pekerjaannya sebagai 'pekerjaan' (job) belaka, si B memandang pekerjaannya sebagai 'karir' (career), dan si C memandang pekerjaannya sebagai 'panggilan' (calling). 'pekerjaan belaka' hanya dilakukan untuk mendapatkan uang, dan bila pekerjaan selesai, tidak ada ketidaklanjutan. Sedangkan 'karir', berarti kita melihat adanya investasi personal yang dituangkan di dalam pekerjaan yang dilakukan. Ada kontinuitas, baik segi uang maupun kekuasaan dan prestise, namun bila kontinuitas ini berakhir, kita akan mencari-cari hal lain yang dapat memenuhi kepuasan diri kita. Pekerjaan sebagai 'panggilan' berarti pekerjaan yang kita lakukan secara penuh dan berkomitmen hanya demi melakukan pekerjaan itu saja. Pekerjaan tersebutlah yang memenuhi kepuasan diri kita, bukanlah uang, peningkatan karir, atau prestise.

Amy Wrzesniewski, seorang profesor bidang Bisnis di New York University, melakukan penelitian pada pegawai pembersih di rumah sakit. Pegawai yang melihat pekerjaannya sebagai 'panggilan' ternyata bekerja lebih efisien. Mereka bahkan mengimprovisasi pekerjaannya demi kenyamanan dan kesehatan para pasien, dan juga lebih waspada. Jadi, pilihlah pekerjaan yang membuat anda senang karena melakukannya, bukan karena ada iming-iming karir atau gaji, karena yang terpenting adalah menemukan pekerjaan yang membuat kita bahagia. Steve Jobs, CEO Apple & Pixar, mengatakan dalam pidatonya pada Graduation speech di Stanford university tahun 2005:
"Jangan berhenti mencari sampai kita menemukan apa yang betul-betul ingin kita kerjakan"
(khrisnaresa)



Psi! Goblog

Join us

Psikologi Indonesia Goes Blogging terbuka bagi para pembaca yang ingin turut berpartisipasi untuk menyumbangkan tulisan atau pendapat yang berhubungan dengan Psikologi. Kirim Email ke Khrisnaresa@gmail.com dan anda langsung kami berikan keleluasaan untuk menulis di psigoblog.com

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags