Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.

Ayu Utami, penulis yang memulai karirnya sebagai wartawan di zaman Orde Baru. Jangan heran jika novel-novelnya selalu memiliki aroma kemiliteran dan pemerintahan.
Seperti novel Bilangan Fu ini, yang memiliki 536 halaman. Beruntung kertasnya cokelat, bukan HVS 80 gram, karena akan sangat pas untuk memukul orang yang Anda kasihi.
Kali ini, Ayu Utami memberikan nafas spritualisme kritis pada novelnya. Ia mengangkat wancana spritual - keagamaan, kebatinan, maupun mistik. Novel ini bercerita mengenai seorang pemanjat tebing yang bernama Yuda - seseorang yang mengabaikan nilai-nilai lama, takhayul, budaya, dan sangat membenci televisi ini - memiliki sahabat baru yang misterius bernama Parang Jati. Melalui Parang Jati, cara pandangnya mulai berubah. Ia mulai melihat nilai-nilai budaya yang selama ini ia abaikan, ia belajar menghormati alam, ia belajar menghormati apa yang biasanya ia sebut sebagai takhayul (misalnya sesajen, Nyi Rara Kidul, dan lainnya) hanya sebagai bentuk penghormatan dan rasa terima kasih terhadap alam, bukan untuk dipuja sebagai berhala. Novel ini juga menggambarkan bagaimana tokoh yang bernama Kupu, seorang muslim fanatik, yang digambarkan seperti sekelompok orang di Indonesia (you know, lah). Jelas novel ini berisikan tidak kesetujuan Ayu Utami akan monetheisme, tidak setuju dengan orang-orang yang mencari kebenaran ilahi melalui cara-cara kekerasan. Ayu Utami pun dengan kritisnya menambah berbagai macam pengetahuan dari mulai Babad Tanah Jawi (sejarah Jawa berdasarkan kisah kerajaan) sampai ilmu pengetahuan alam mengenai pembentukan tebing, dan lainnya.
Jujur, novel-novelnya Ayu Utami itu sangat sulit dicerna oleh pemula, baik Saman maupun Larung. Rasanya saya baru saja membaca sekumpulan essay yang diracik menjadi sebuah novel. Tapi Ayu Utami bisa meracik dengan sedemikian baik sehingga orang yang membacanya tidak akan merasa diceramahi, digurui, atau didakwahi.
Bagi saya, novel ini sangat bagus. Penulis sepertinya ingin membedakan mana sisi agama dan mana sisi spiritual manusia. Agama formal adalah seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibebankan secara eksternal. Agama bersifat top-down, diwarisi dari rasul, pendeta, nabi, dan kitab suci atau ditanamkan melalui keluarga atau tradisi - seperti novel ini yang menampilkan bias yang kuat antara agama dengan tradisi. Dosen filsafat saya pernah bilang, "Tidak agama di dunia ini. Agama hanya ada di akhirat. Di dunia hanya ada budaya agama." Saya tidak sepenuhnya setuju sampai sekarang, mengingat beliau mantan atheis :)
Sedangkan spiritual manusia adalah kemampuan internal bawaan otak dan jiwa manusia, yang sumber terdalamnya adalah inti alam semesta sendiri. Oleh karena itu, meskipun seorang atheis, saya pikir ia pasti memiliki keinginan untuk mencari Tuhannya, karena di setiap otak manusia terdapat bagian yang dinamakan 'God spot'. Saya setuju bahwa semakin dekat manusia dengan Tuhannya, manusia akan semakin dekat dan memiliki pemahaman tentang siapa dirinya (seperti Syekh Siti Jenar dalam buku Manunggaling Kawula Gusti) dan apa makna segala sesuatu baginya, dan bagaimana semua itu memberikan suatu tempat di dalam dunia manusia kepada orang lain dan makna-makna orang lain.
Dalam psikologi, dimensi spritual manusia direduksi menjadi sebatas insting hewani dan beragam mekanisme pertahanan diri. Namun ketika mahzab ketiga muncul, psikologi humanistik mencoba membangkitkan pandangan manusia sebagai totalitas yang terdiri dari tiga dimensi: fisik, psikologis, dan spritual. Salah satu tokohnya adalah Viktor Frankl yang yakin bahwa dimensi spritual (noos) mengandung semua sifat khas manusia, seperti keinginan manusia untuk memberi makna, orientasi tujuan, kreativitas, imajinasi, intuisi, keimanan, dan lainnya. Frankl juga yakin bahwa pencarian manusia akan makna merupakan motivasi penting dalam hidup manusia. Pencarian inilah yang menjadikan manusia makhluk spritual dan ketika kebutuhan makna ini tidak terpenuhi, hidup akan terasa dangkal dan hampa. Bagi sebagian besar manusia saat ini, kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dan krisis mendasar di zaman ini adalah krisis spritual. Banyak orang yang mencari uang sebanyak-banyaknya, banyak orang yang melarikan dirinya ke narkoba atau alkohol, banyak orang yang melakukan seks bebas, tapi mereka sendiri tidak tahu mengapa mereka melakukan itu. Manusia modern mencoba mengisi kehampaan dengan melakukan kegiatan-kegiatan untuk memenuhi kenikmatan.
Saya kagum dengan isi dan cara penulisan di novel Bilangan Fu ini. Saya jadi membayangkan proses kreativitas ketika ia menulis. Pastinya tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana proses itu berlangsung. Mungkin ketika manusia telah berhubungan dengan alam, detaknya sejalan dengan detak alam, manusia bisa menceritakan apa saja. Dan pastinya Ayu Utami telah melakukan riset yang sangat panjang dari studi literatur sampai benar-benar ikut panjat tebing agar novelnya hidup, yaitu novel yang saya rekomendasikan untuk dibaca agar manusia lebih menghormati budaya dan dekat dengan dimensi spritualnya.


(Nia)

Saya mengenali diri saya sebagai orang yang mudah terpukau dengan tampilan visual. Mudah terpukau dengan sesuatu yang menurut saya indah, menurut saya menarik. Saya bisa membiarkan dan memanjakan mata saya hanya untuk menikmati segarnya pemandangan embun pagi yang sedang menyentuh ujung daun, desain rumah di salah satu jalan dekat rumah dengan paduan warna tidak biasa, gaya berpakaian teman yang berhasil menggabungkan warna-warna yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya hingga tampilan angka-angka statistik yang menurut saya menarik.


Statistik menjadi menarik buat saya ketika sudah menjadi hasil akhir, terlihat seksi dan menginspirasikan saya untuk terus bertanya: bagaimana seandainya hasil A ternyata lebih signifikan untuk kondisi B, dibandingkan kondisi C, D, E dan seterusnya. Tetapi sebaliknya, ketika saya harus mengenal statistik dari awal, sebagai bahan mentah dan saya harus belajar berbagai metode untuk mengolahnya, saya menemukan diri saya selalu kehilangan selera. Rasanya dunia berjalan sangat lambat, seperti episode sinetron yang walaupun diberikan berbagai improvisasi, walaupun terus berganti topik, tetap tidak menarik.

You’ve got mail, film lama Tom Hanks dan Meg Ryan, yang kembali saya tonton ketiga kalinya semalam, kembali membuat saya berpikir: sejauh mana saya menghargai proses belajar? Poin yang cukup menyentuh saya adalah ketika Kathleen harus menutup toko bukunya. Ternyata bangkrut setelah toko buku warisan tersebut berdiri selama 42 tahun, bukan akhir dari segalanya. Kebangkrutan adalah hidup baru, memulai sesuatu yang baru, tergantung darimana kita melihatnya. Ada proses yang memberikan kita kekuatan tak terduga, ada proses yang membuka mata kita mempelajari hal-hal baru yang tidak pernah kita kenal sebelumnya dan ada proses yang membuat kita mampu membuat sesuatu yang kembali baru.

Sebuah masakan juga menarik bagi saya, apalagi ketika diolah dengan berbagai masakan lain, yang kemudian dikenal dengan istilah masakan peranakan. Dan ketertarikan saya terhadap proses masak-memasak makin meningkat dan menyenangkan setelah menonton bagaimana Oliver James di channel Discovery travel and living menyajikan proses memasak menjadi seksi dan menyenangkan. Walaupun ketertarikan saya menghargai prosesnya agak rancu memang, karena proses memasaknya atau karena Oliver James-nya.

Dalam beberapa perjalanan saya, yang umumnya saya lakukan dengan impulsif (karena saya belum pernah belajar jadi backpackers), proses belajar mengenalkan saya untuk ikut ”melihat mata orang lain”. Melihat bagaimana orang lain melihat sesuatu. Selalu ada cara yang unik dari teman-teman seperjalanan saya dalam membaca rute subway yang rumit, mencari solusi ketika kita tersesat, menghadapi supir taksi yang mencoba menipu dengan berputar-putar hingga menebak-nebak apa yang sedang dipikirkan oleh orang-orang dalam kereta yang seolah memandang kita sebagai orang asing (dan memang kita sedang menjadi orang asing di kota mereka).

Proses belajar juga mengantarkan saya untuk menghargai hal-hal kecil, yang ternyata juga bisa menjadi hal besar. Dalam suatu iklan yang pernah saya tulis, karena kurang teliti, saya pernah salah menulis awalan yang seharusnya dipisah dengan kata dibelakangnya. Walaupun EYD adalah panduan sehari-hari saya, tetap saja ada kesalahan ”kecil” yang berdampak besar. Karena iklan tersebut ada di billboard kota-kota seluruh Indonesia, koran, majalah dan televisi. Bagaimana kalau dibaca oleh anak SD yang baru mendapat pelajaran tata bahasa Indonesia? Pasti bukanlah contoh yang bagus. Disinilah saya belajar, tidak ada hal yang kecil dalam sebuah proses belajar.

Saya ingat cerita dari salah seorang guru olahraga saya ketika SMP, tentang seorang yang belajar KungFu di salah satu perguruan di bukit, yang saya lupa namanya. Sekian tahun ia cuma disuruh belajar bagaimana melipat dan meremas kertas yang sangat besar sampai menjadi sangat kecil dalam genggaman. Sampai suatu hari ia bosan dan putus asa, pulanglah ia ke rumah. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan sang ibu di pasar. Saking rindunya, ia berlari menembus kerumunan. Ajaibnya, tangannya tiba-tiba menjadi sangat kuat untuk menembus kerumunan di pasar. Ia pun sadar, itu bukanlah kekuatan yang tiba-tiba datang. Itu melalui proses yang bertahun-tahun.

Tidak ada Andy Warhol yang instan dengan karya-karyanya, tidak ada keajaiban dunia yang terjadi dalam semalam, tidak ada pemikir besar yang langsung jadi pemikir besar dan kehidupan tidak pernah membiarkan kita untuk cepat puas dengan cepat, kecuali secepat merebus mie instan (yang almarhum penemunya juga melalui proses belajar dalam menemukannya).

Jadi, kalau hari ini buat saya mengenali hingga menguliti statistik rasanya masih tidak menarik, saya harus belajar bagaimana mencintainya. Bukan hanya karena saya sedang mengerjakan thesis, tapi karena ada sesuatu yang lebih besar di masa depan, yang menjadi bagian dari proses belajar saya.

(Novi Kresna)

Siang hari ketika matahari sedang terik menyinari bumi, seorang mahasiswa bernama Loki sedang duduk menikmati lembar demi lembar dari buku yang ia pegang, kopi menemani keasikkan diri. Hiruk pikuk terjadi disekelilingnya, maklum ketika itu adalah saat makan siang di kantin kampus, walaupun tidak seramai biasanya karena sedang bulan puasa.
Dibelakang Loki duduk bapak-bapak, yang dari penampilannya tidak terlihat seperti mahasiswa, bapak tersebut bernama Antiq (yang secara tidak sengaja memiliki sikap negatif terhadap kaum homoseksual).
Dari jauh terlihat Gae sedang tergopoh-gopoh menuju tempat Loki.

Gae : ”Lok, lo harus ke labkom sekarang.”
Loki : ”Eitz, tenang. Ada apa neh?”

Gae masih mengambil nafas sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya.

Gae : ”Buka forum”
Loki : ”Ah, ga mau. Pasti ga penting deh, tentang perdebatan mengenai homoseksual khan?”
Gae : ”Lah, kok Lo tau?”
Loki : ”Iyalah, apalagi. Buat apa sih masih diperdebatkan lagi. Mau argumen sampai mulut berbusa pun, orang-orang yang anti homoseksual tetap saja tidak akan pernah menerima kalian-kalian ini (Gae adalah teman Loki yang kebetulan juga homoseksual).”
Gae : ”Iya sih. Tapi kan, gue kesel juga gara-gara dijelekin mereka sampai segitunya.”
Loki : ”Sampai sepeti apa memang? Dan apakah hal tersebut mempengaruhi jati diri lo sebagai seorang gay? Engga khan. Terus kenapa pendapat orang-orang itu harus lo pikirin?”

Gae terdiam.

Loki : ”Nih, gue kasih tau lo aja. Mereka semua ga pantas menghakimi lo atas apa yang lo lakukan! Mereka hanya iri. Tau ga, hampir seluruh mitologi di dunia ini menaruh kedudukan tinggi pada dewa yang memiliki sifat maskulin dan feminin seimbang. Bahkan kata Jung, si salah satu bapak psikoanalisa itu, setiap manusia memiliki ketidaksadaran gender yang bertolak belakang dengan yang ia miliki, jadi misalnya lo adalah seorang laki-laki, lo tuh memiliki ketidaksadaran wanita yang disebut anima. Orang-orang homoseksual adalah orang-orang yang telah berhasil mengeluarkan ketidaksadarannya tersebut dan menjadi manusia yang utuh! Well, see, you are better than me! You have the masculine and feminine aspect all over in you. Isn’t that a great thing?”

Loki berapi-api mencoba mengangkat harga diri temannya itu kembali, mencoba tetap menjadikan gae, yang seorang homoseksual itu, “manusia”. Dilain pihak, ternyata bapak Antiq yang sedang duduk dibelakang mereka mendengarkan dengan seksama percakapan Loki dan Gae tentang homoseksualitas.

Loki : ”Kenapa diam? Mereka itu hanyalah orang-orang yang dengan sangat percaya diri menunjuk orang lain sedangkan keempat jari yang ia gunakan untuk menunjuk sebenarnya menunjuk pada dirinya sendiri. Seperti kata Matius 7 ’Mengapakah engkau melihat selumbar dimata saudaramu, sedangkan balok didalam matamu sendiri tidak diketahui??’.”

Gae masih terlihat muram.

Loki : ”Kenapa lagi? Mereka tidak pernah merasakan menjadi dirimu, sehingga mereka tidak akan pernah mengerti. Mereka tidak bisa merasakan apa yang kau rasakan, sehingga dengan mudahnya mereka menghakimi kamu. Toh jelas-jelas dalam kitab suci dikatakan manusia tidak memiliki hak untuk menghakimi ’Matius 7:1 – Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”

Ternyata Bapak Antiq yang daritadi mendengarkan sudah sangat panas untuk berpendapat, sampai akhirnya ia mendatangi kedua sobat yang sedang berbincang itu.

Antiq : ”Nak, kamu boleh mengatakan apapun juga. Tapi tetap saja kitab suci mengutuk perbuatan homoseksual. Dan jelas-jelas dikatakan bahwa homoseksual adalah ’dosa’”.

Bapak Antiq melihat Gae dengan pandangan kritis. Loki dan Gae dengan wajah terbingung-bingung dan dalam hati bertanya-tanya ’kenapa lagi neh orang ikut campur urusan orang aja’. Hahaha.

Loki : ”Oke. Kitab suci mengatakan demikian. Benarkah? Memang apa sih yang dilakukan oleh homoseksual??”
Antiq : ”Jelas-jelas melakukan hubungan sejenis!”
Masih panas Bapak Antiq ini menjawab karena sebenarnya sudah tidak tahan untuk mengungkapkan pendapatnya sejak awal percakapan ini.

Loki : ”Dosa? Apakah mereka menyakiti orang lain? Apakah mereka merugikan pihak lain? Yang saya lihat justru kaum gay mencinta. Dan apa salahnya dari mencinta? Tidak seperti saya atau Anda yang jelas2 sering mencuri dengan mengunduh dari internet, merugikan orang lain, nah itu baru dosa. Nyata lagi, ada yang dirugikan. Ayo sini, yang merasa dirugikan oleh keberadaan kaum gay, coba tuntut mereka. Ga ada yang rugi kayanya, tak ada yang tersakiti, coba bandingkan dengan penghakiman Bapak akan kaum gay yang menyakiti mereka, atau koruptor yang merugikan rakyat. Kenapa justru kaum gay yang selalu ditunjuk2 dosanya?? Karena ayat kitab sucikah?

Kenapa kita harus selalu menunjuk orang lain, mengapa tidak menunjuk diri sendiri? Ketika kita menggunakan satu ayat untuk menghakimi orang lain bahwa mereka berdosa, bukankah lebih baik kita merefleksi diri dengan beribu ayat lain yang mungkin menyatakan bahwa diri kitalah yang berdosa. Mengapa harus dimulai dengan menunjuk orang lain, dan bukan diri sendiri??

Bukankah juga kita melakukan dosa? Bukankah juga kita selalu menilai orang lain? Baik. Seperti ini. Aku mengalami banyak hal dalam hidupku sampai saat ini walaupun mungkin usiaku masih sangat hijau bagi kebanyakan orang, namun aku menyadari perubahan sikap-sikap yang membentuk aku dari hari ke hari, dan aku selalu merefleksi setiap nilai-nilai yang aku pegang. Ketika aku remaja aku memiliki sikap yang sangat negatif pada perilaku merokok. Aku selalu secara terang-terangan menyatakan kebencianku atas mereka yang ’bodoh’ karena merusak diri sendiri. Sampai aku sendiri jatuh pada lubang tersebut. Dan aku mulai menjustifikasi diriku. Aku mulai mencari pembenaran atas kesalahan yang aku lakukan. ’aku merokok karena stres banget nihh, perlu pelampiasan!’
Bukankah kita semua mengalami perubahan nilai? Dan ketika nilai itu berubah, bukankah kita juga selalu mencari pembenaran atas kesalahan yang kita lakukan. Saya rasa sangatlah munafik ketika orang lain melakukan yang buruk maka kita menghujat, tapi ketika diri sendiri melakukan hal buruk, maka mencari pembenaran. Saya malu dengan diri saya sendiri. Sejak saat itu saya mencoba seminim mungkin ’menunjuk’ dosa orang lain. Karena saya tidak pernah menjadi mereka, dan saya tidak pernah tahu pembenaran apa yang mereka miliki.”

Loki tersenyum, namun Bapak Antiq terlihat tidak mau kalah dengan pandangannya.

Antiq : ”Tidak juga. Saya merokok. Dan saya tahu itu dosa karena merusak diri sendiri.”
Loki : ”Ya. Dan yang menghakimi Anda pada akhirnya adalah......?”

Bapak Antiq terdiam.

Loki : ”Tuhan.” Loki mengucapkan kata tersebut dengan perlahan namun pasti.
”Apakah Anda akan merasa senang jika Anda ditunjuk orang lain dan dikatakan berdosa (bukan hanya merokok, tapi juga gosip, mengambil milik orang lain, tidak tepat janji, bohong, selingkuh, seks diluar nikah, batal puasa, dll)? Aku rasa Anda akan menjadi kesal, dan memulai segala bentuk pembenaran diri untuk mengatasi kekesalan Anda itu.”


Kita selalu membenarkan diri kita sendiri atas kesalahan yang kita lakukan. Namun ketika orang lain yang melakukan kesalahan (bahkan mungkin kesalahan yang sama seperti yang kita lakukan), kita dengan semangat menghakimi dan mencela mereka. Coba Anda ingat-ingat lagi terakhir Anda melakukan pembenaran diri, pasti you will pay your whole life for them to understand what you feel? Won’t you? Ketika itu Anda akan berharap dunia bisa mengerti yang Anda rasakan, mengerti dan dapat menerima pembenaran diri Anda. Anda akan berharap empati dari mereka (atau tidak perlu empati, at least menerima justifikasi dari ’dosa’ Anda).

Sekarang, ketika saya memberikan pembenaran diri saya. Kaum gay memberikan pembenaran dirinya. Ulama yang poligami memberikan pembenaran dirinya. Artis yang bercerai memberikan pembenaran dirinya. Remaja yang hamil diluar nikah memberikan pembenaran dirinya. Masakah kita tidak bisa menerimanya? Masakah kita menghakimi mereka, ketika kita pun sadar bahwa oknum terakhir yang berdiri adalah Tuhan sendiri.

Nb. Revisi ini saya buat untuk lebih menjelaskan maksud kenapa posting ini pertama kali dituliskan, karena sebelumnya terlalu terbias dengan emosi. Versi sebelumnya masih bisa dilihat di blog pribadi saya. Terima kasih.

(Lora)

“To own shadow is to be responsible of (whether or not we like it).”
-Jung, A Very Short Introduction-


Kenapa dunia selalu penuh dengan kejahatan? Kenapa dunia selalu penuh dengan prasangka terhadap orang lain? Seberapa pun banyaknya para pembela kebajikan, kejahatan itu tetap ada. Begitu juga dengan prasangka terhadap kelompok lain yang semakin hari menggrogoti hati manusia dengan insecurity dan hatred.

Manusia memiliki dua sisi didalam dirinya. Yang pertama adalah persona. Persona adalah topeng yang kita pakai sehari-hari, sebagai seorang mahasiswa, sebagai wanita karir, sebagai pengusaha sukses, sebagai pengangguran. Persona adalah topeng yang mengikuti tuntutan sosial, dan topeng sebagaimana kita ingin orang lain melihat kita. Atau dengan kata lain persona adalah social archetype atau conformity archetype. Persona terbentuk sejak masa kecil melalui ekspektasi orang tua, guru, atau teman-teman, dan akhirnya menjadi suatu bentuk ‘tampilan’ akibat proses learning, sedangkan sisanya (tingkah laku yang tidak mendapat penguatan sosial) menjadi tersembunyi atau direpresi dalam ketidaksadaran dan menjadi sisi yang bersebelahan dengan persona. Namun persona, seperti juga asal katanya ‘personne‘ yaitu topeng yang biasa dipakai aktor pada masa Yunani Kuno, bukanlah Diri yang sebenarnya.

Sisi yang bersebelahan dengan persona adalah shadow. Berbeda dengan persona yang terletak pada kesadaran manusia, shadow berada pada alam ketidaksadaran. Shadow bersifat seperti kegelapan yang selalu mengikuti, yang tidak diinginkan, yang terkadang dihiraukan, namun tetap ada. Seperti bayangan yang tidak bisa terlepas dari obyeknya. Shadow yang dihiraukan kemudian muncul dalam bentuk mimpi, terkadang mimpi yang bersifat hostile, penuh kemarahan, dan ketakutan. Di dalam shadow berisi hal-hal yang ingin kita hindarkan, keinginan-keinginan yang bertentangan dengan norma sosial.

Yang paling penting begitu juga paling berbahaya dari shadow adalah archetype of enemy, predator, or evil stranger. Archetype ini muncul sejak tahun pertama manusia hidup, ketika ibu mendekati bayi maka bayi sudah mulai berpikir mengenai attachment, ia merasa nyaman atau sebaliknya merasa takut dan defensif ketika didekati oleh orang yang tidak ia kenali. Mulai dari sinilah seorang bayi, pada spesies apapun, sudah bisa membedakan antara teman atau lawan. Haruskah penerimaan atau penolakan untuk melindungi dirinya. Ini adalah shadow complex.

Shadow tetap berada pada diri seseorang melalui dua representasi yang telah ditanamkan melalui indoktrinasi sosial, yaitu perbedaan in-group dengan out-group, atau setan/iblis sebagai musuh yang harus diperangi. Setiap manusia memilikinya sebagai suatu kesatuan utuh. Kebaikan dan kejahatan didalam dirinya yang tidak bisa dipisahkan. Konsep ini bukanlah hal baru, namun bisa kita lihat dalam cerita-cerita, misalnya Dr. Jekyl and Mr Hyde, dan tuhan pada perjanjian lama yang membinasakan sekaligus mencintai umatnya.

Kita, sebagai manusia utuh, memiliki kebaikan dan kejahatan pada satu tubuh secara bersamaan. Namun ada yang dimunculkan ke-kesadaran dan ada yang berada dibalik kesadaran itu sendiri. Ketika suatu ancaman muncul, manusia memiliki sistem pertahanan diri (ego defense-mechanism), yaitu represi, penyangkalan, dan proyeksi. Ancaman itu kemudian di represi kedalam ketidaksadaran, disangkal keberadaannya, - walaupun disangkal tetap saja ada - sehingga seseorang memproyeksikan kepada orang lain.

Hal ini menjelaskan mengapa timbul prasangka dan kebencian kepada kelompok lain. Kebencian yang direpresi dan disangkal timbul dalam bentuk baru sebagai mekanisme diri yaitu membenci orang lain, dan menjadikan orang lain sebagai the devil yang sah-sah saja untuk dibenci, untuk dimusuhi, atau lebih lagi untuk dimusnahkan. Seperti Hitler pada holocaust atau dalam konflik antar etnis pada beberapa suku di Indonesia yang menewaskan ribuan orang.

Untuk menyelesaikan mekanisme diri yang secara otomatis dilakukan manusia ini, seseorang harus berani melihat kedalam shadow-nya. Hal ini dikatakan sulit, karena didalam shadow tersimpan semua hal yang tidak diinginkan, rasa malu, perasaan bersalah, rasa benci, dll. Namun, Jung melanjutkan, seberapa sakitnya seseorang harus melihat kedalam shadownya, hal tersebut sangat diperlukan. Karena didalam shadow terletak banyak kekuatan psychic yang membantu manusia mencapai keutuhan (wholeness).

Keutuhan terletak pada The Self (dengan kapital S), yaitu tujuan dari eksistensi yang sudah tercetak didalam blue print genetis spesies manusia. The Self mungkin serupa dengan konsep Brahma pada agama Hindu. Makna hidup manusia yang paling dalam, suatu fungsi transenden. Tidak heran kita bisa menemukan seni dan agama pada setiap kebudayaan universal yang menandakan bahwa manusia mencoba mencari sosok tuhan – yang sebenarnya sudah berada didalam dirinya sendiri (Self).

JADI…

Sudahkah kamu mengatasi shadow-mu? Mungkin jika ada waktu untuk merefleksikan, lihatlah kedalam diri. Jika kamu adalah orang yang cepat marah, cepat benci, cepat prasangka, suka gosip yang ngejelekin orang, uhmm dibandingkan ngurusin orang lain, prasangka yang engga-engga terhadap out-group, akan lebih baik waktu yang berarti ini digunakan untuk melihat kedalam dirimu sendiri. Sekalian turut menciptakan ‘a better world, full of peace’. ^^

“The devil is in you. Do you want to cope it, or simply project it over and over unto the never-ending cycle of prejudice to others? You choose!”


Oleh: Lora



“The basic thing is that everyone wants happiness, no one wants suffering. And happiness mainly comes from our own attitude, rather than from external factors.”
Dalai Lama XIII


Hidup berisi ketidakpastian. Namun ada dua hal didalam dunia ini yang pasti, yaitu waktu yang akan terus bergulir dan ketidakpastian itu sendiri. Setiap detik di dunia ini, ribuan bayi lahir, dilain pihak yang tua meninggalkan kenangannya. Manusia bisa memiliki hidup yang sempurna, pendidikan, kesenangan dan cinta, namun manusia pada belahan sosial berbeda merasakan kemiskinan, kelaparan, kesedihan dan ketakutan akan apa yang akan terjadi esok. Usia manusia tidak pasti, ada yang kalah dalam penyakit, kecelakaan namun ada juga yang berhasil menjalaninya sampai sepuluh dekade lewat. Kesemuanya menimbulkan pertanyaan mendasar, apakah tujuan hidup manusia?

Banyak pemikir percaya bahwa kebahagiaan adalah tujuan hidup manusia. Kebahagiaan adalah suatu hal yang dipercayai bisa membuat hidup menjadi lebih hidup. Losta masta! Membuat hidup lebih berarti. Tetapi apakah itu kebahagiaan?

Memang kebahagiaan merupakan suatu hal yang abstrak untuk dinalar. Beberapa filosof seperti Hobbes dan Kant juga meragukan penjelasan eksplanatif atas konsep kebahagiaan. Kant mengatakan bahwa manusia tidak bisa membentuk sebuah konsep pasti sebagai kesimpulan dari kepuasan atas perasaan yang disebut kebahagiaan. Bahkan sebagian pemikir lainnya menganggap kebahagiaan adalah konsep sulit yang tidak mungkin diraih oleh umat manusia selama ia hidup.

Aristoteles mengambil salah satu dialog Solon yang mengatakan ‘No one happy until he is death’. Tidak ada manusia yang bisa bahagia, suatu konsep dasar yang diinginkan semua orang, namun konsep tersebut hanyalah keadaan ideal. Sebuah utopia. Nietszche menambah daftar filosof yang pesimistis pada kebahagiaan. Namun seberapa abstrak kebahagiaan beserta konsepnya itu, kebahagiaan tetaplah hal yang sangat diinginkan dan dituntut oleh manusia. Freud dalam bukunya Civilization and Its Discontent menegaskan bahwa lebih jauh lagi manusia berjuang untuk memperolehnya.


‘Apakah Anda bahagia?’

“Ya, saya bahagia.. Tapi akhir-akhir ini saya sedang mengalami kesulitan keuangan. Tapi kemarin anak saya sakit. Tapi saya belum belajar untuk ujian besok” Apakah Anda bahagia tanpa ‘tapi’? Tidak mungkin seseorang itu bahagia sekaligus tidak bahagia pada suatu waktu tertentu. Sebuah paradox. Pastilah ia bahagia. Atau ia tidak bahagia.

Setiap orang menginginkan kebahagiaan, tidak ada yang menginginkan penderitaan. Sebuah kebahagiaan yang menetap didalam kehidupan dan keseharian dan bukan sekedar pernyataan sesaat. Kemudian pertanyaan yang tertinggal adalah ‘Mungkinkah kebahagiaan itu nyata?’ ‘reachable’? Kemudian bagaimana memperolehnya??

Mungkin jawabannya adalah uang. Beberapa orang menganggap bahwa kebahagiaan sangat berhubungan dengan materi. Semakin banyak harta yang saya miliki, maka semakin bahagia saya. Uang bisa memberikan kesenangan, uang bisa mendatangkan teman, dan yang paling penting adalah uang bisa membeli cinta. Uang adalah kebahagiaan! Benarkah demikian? Mungkin pernyataan ini ada benarnya, dan mungkin beberapa orang akan setuju jika diberikan pernyataan ini, namun apakah uang pasti bisa menyokong hidup bahagia? Dapatkah uang membeli kebahagiaan? Mantan presiden Amerika Serikat, F.D. Roosevelt mengatakan bahwa kebahagiaan bukanlah melulu materi, melainkan kreatifitas dan pencapaian.

Pernyataan Roosevelt puluhan tahun yang lalu ternyata mendekati teori flow dari positive psychology di abad ke duapuluh. Kebahagiaan itu bukan selalu materi, melainkan ketika tercapainya kepuasan diri akan suatu pencapaian diri sejati melalui kreatifitas. Flow dapat dirasakan semua orang dari kegiatannya, apapun itu. Misalnya ketika pianis mengikatkan dirinya pada musik dan memasuki alam tarian pada tuts piano, atau peneliti yang begitu larut dengan rasa ingin tahu mengalahkan detik-detik waktu untuk tetap menyibukkan diri mencari jawaban. Ketika kegiatan apapun menghisap pelakunya masuk, dan membuatnya merasakan perasaan puncak, itulah kebahagiaan! Tidak perlu materi yang banyak untuk mencapai kebahagiaan. Semua orang, apapun kegiatannya!

Jika bukan uang, maka kebahagiaan merupakan hasil dari kemujuran. Kata ‘happy’ dalam bahasa Inggris merupakan turunan dari bahasa Finlandia ‘happ’, yang berarti keberuntungan. Banyak orang merasa bahwa keberuntungan itulah yang membawa kebahagiaan. Hal eksternal, situasi yang baik, orang lain yang berada pada waktu dan tempat yang tepat, kemudian kebahagiaan menjadi ‘hal yang terberi’, nasib yang tidak bisa kita kontrol. Kemudian manusia menunggu kejadian yang akan menjadi akil balik kebahagiaan hidupnya. Apakah nasib betul-betul mempengaruhi kebahagiaan manusia? apakah manusia tidak bisa memperoleh kebahagiaan dengan kekuatannya sendiri?

Tenzin Gyatso, peraih nobel perdamaian, pemimpin spiritual Buddhis yang lebih dikenal dengan nama Dalai Lama, mengatakan bahwa kebahagiaan lebih merupakan hasil dari sikap (attitude) dibandingkan faktor eksternal. Hal ini mengingatkan penulis pada pernyataan Shakespeare, ‘there is nothing good or bad, but thinking make it so’. Tidak ada muatan baik atau buruk, senang atau sedih pada kejadian tertentu. Namun sikap manusialah yang memberikan muatan-muatan penilaian itu. Ketika seseorang mempercayai bahwa faktor eksternal adalah penentu kebahagiaannya, maka ia telah melalaikan suatu kenyataan penting dan mendasar bahwa diri sendirilah yang sebenarnya bertanggung jawab atas semua pemikiran, perasaan dan tindakan yang dilakukan, bukan orang lain ataupun hal lain.

Berbicara mengenai orang lain, beberapa orang pun berpikir bahwa kebahagiaan itu datang ketika memiliki pasangan. Jadi jika Anda tidak memiliki pasangan, entah itu pacar maupun suami/istri, maka Anda tidak akan bisa mencapai kebahagiaan. Pendapat ini sangat berbahaya, karena jika seseorang terbiasa menganggap bahwa orang lain menyebabkan kebahagiaan pada hidupnya, maka ia juga akan cenderung menyalahkan orang lain ketika terjadi hal yang tidak sesuai dengan harapannya. Jika demikian, lagi-lagi kita melupakan tanggung jawab diri yang dimiliki untuk menentukan arah hidup kita. Dan bahwa setiap manusia memiliki pilihan untuk menjadi bahagia ataupun sebaliknya.

Buku Relationship for Dummies mengingatkan bahwa kebahagiaan adalah pernyataan subjektif dari keadaan diri, bukan karena orang lain tertentu, kejadian tertentu, barang tertentu, situasi tertentu, melainkan setiap orang bisa bahagia, apapun yang terjadi padanya. Anda, apakah jomblo, menikah, janda, cerai, Anda tetap bisa bahagia, status tidaklah mempengaruhi kebahagiaan! Diri Andalah yang mempengaruhi kebahagiaan Anda!

Banyak hal yang dipercayai sebagai mitos bahagia, namun ternyata kepercayaan-kepercayaan tersebut tidak sepenuhnya benar. Bahkan terkadang menyesatkan. Setiap orang memiliki peluang yang sama untuk meraih kebahagiaannya. Kemudian muncul pertanyaan terakhir yang wajib dipertanyakan pada hati masing-masing pembaca, ‘Bahagiakah Aku?’

(Oleh: Lora)

Gue lagi gila2nya maen Football Manager ,I mean ,orang2 yg punya ide bikin maenan kayak gini it's either fuckin' genius ato gak tau lagi gimana caranya nyalurin God complex mereka. Gue mikir kayak gini karena gue tau kalo gue punya God complex yg cukup kronis ,kalo gue pake kata kronis kok seolah-olah ini penyakit ya ? Para pembuat game ini bener2 tau cara cure semua penyakit psikologis ,mulai dari addiction ,power trip ,god complex ,sven gali complex ,illusion of power ,control freak ,and I'm happily admit kalo gue pengidap semua yg gue sebut di atas...dan yang menyenangkan dari game ini ,unlike in real world ,cheating gampang banget ,I mean ,gue memang selalu curang ,gue memang gak punya cukup dignity untuk fair play ,but sometimes in real world ,gue harus telen mentah2 kenyataan kalo orang yg sportif jauh lebih dihargain daripada yg curang ,dan ini konsep yg bener2 ngeganggu kepala gue ,I mean yg bedain sportif sama curang itu cuma persoalan imajinasi ,kreativitas ,for me ,cheaters itu orang yg think outside the box ,of course ,kalo gue dicurangin ,gue juga gondok ,tapi inside ,gue kagum sama orang yg bisa curangin gue ,karena berarti dia lebih kreatif dan lebih punya nyali karena pasti orang2 akan menganggap dia bastard ,tapi dengan dia gak mikirin apa persepsi orang ,gue rasa dia udah sukses banget...prinsipnya sama kayak "you have to be deep to admit that you're shallow". Seru banget Football Manager ini ,I mean where else you can fuck someone's career and get away with a trophy ? I know ,mungkin ini gak real ,but at least apa yg dikasih untuk inside gue is something that is really real...

Mengenai regret ,selama ini gue selalu consider diri gue sebagai manusia yg gak punya regret ,buat gue ,regret are for pussies...But lately ,kayaknya gue mulai harus secara bertahap mengakui kalo ternyata gue juga memiliki apa yg disebut regret...terutama karena gue mengalami kesulitan untuk nyari kerjaan...sekarang kayaknya untuk punya apa yg disebut decent job ,or any job ,setiap orang minimal harus punya ijazah D3...sementara gue ini a very successful college drop out ,karena setiap kali gue kuliah ,gue selalu berhasil untuk drop myself out dari semua kampus yg gue attend...start dari Desain Grafis Trisakti tahun '95 ,tahun '98 gue D.O. ,terus '98 gue masuk London School ,tahun '99nya gue cabut karena gue keterima di D3 UI ,dan gue keterima di 2 jurusan yaitu Broadcasting dan Advertising ,gue ambil yg Advertising UI ,too bad ,gue successfully fucked it up lagi ,pas final pertama ,gue udah cabut lagi ,abis itu tahun 2000 ,gue masuk di LaSalle Fashion Business ,lagi2 gue fucked it up ,setelah itu tahun 2002 ,gue coba lagi di LaSalle dengan majoring yg sama ,dan again ,gue fucked up lagi ,setelah itu sampe 2005 ,pas "problems" gue mulai membaik ,gue masuk ke IIFI (Indonesia International Fashion Institute) ,majoringnya gue ngambil Fashion Business lagi ,but again ,"problems" gue resurfaced dan 2006 gue harus cabut lagi...Gue gak ngerti ,tapi kayaknya gue emang harus give up di urusan sekolah ini...somehow dulu gue pernah mikir ,kenapa orang yg punya ijazah labih gampang untuk dapet kerjaan ,padahal banyak dari mereka yg kalo dibandingin sama gue ,gue sih asli jauh lebih pinter...tapi ternyata ,satu hal yg gue pelajarin ,big difference antara mereka yg punya ijazah dan gue yg gak punya ,mereka punya satu kelebihan ,yaitu mereka berhasil menyelesaikan apa yg mereka mulai ,sementara gue nggak ,gue nggak pernah berhasil untuk finish what I've started...di sisi itulah kredibilitas mereka diakui...and I mean ,kalo gue punya satu company ,pastinya gue akan hire orang yg punya kredibilitas...selama ini gue salah memiliki persepsi bahwa ijazah itu cuma a stupid piece of paper ,karena ternyata a piece of paper itulah bukti dari kredibilitas seseorang ,bukti kalo mereka bisa finish what they've started ,bukti bahwa mereka bisa get the job done...bukan berhenti di tengah2 seperti yg selama ini selalu gue buat...Orangtua gue sendiri keliatannya gak pernah mempermasalahkan kalo gue selama ini drop out melulu ,karena mereka paham sama "problems" gue ,walaupun gue tau kalo deep inside mereka pasti teramat sangat disappointed dengan situasi ini ,tapi karena mereka gak pernah put pressure ke gue yg ngebuat gue jadi ngerasa gak nyaman ,I mean gue kok berasa kalo gue ini teramat sangat ungrateful...Gue tau kalo diri gue ini tipe orang yg sangat underachiever ,hell ,dari kecil aja gue gak punya cita2 (besides kalo gue pengen jadi rockstar ,hahaha...) ,but tapi masa sih di diri gue gak ada secuil pun keinginan untuk at least do something ,apalagi kayaknya gue balapan sama sesuatu yg gak mungkin kebalap sama mobil F1 sekalipun ,gue balapan sama waktu...Sekarang kayaknya udah saatnya gue harus jadi kreatif ,kalo lapangan kerja dari orang lain untuk gue udah ketutup ,emang udah harus dari gue mikir ,gimana caranya gue sendiri yg buat lapangan kerja untuk diri gue sendiri...shit ,mikirnya aja gue udah pegel ,gimana abisnya ya ,gue emang slacker pemalas sih ya ,ideal job buat gue itu adalah gue gak perlu kerja ,orang lain yg kerja tapi gue dapet bayaran ,hehehe...but ya sudahlah ya ,udah saatnya kali gue mhelakuin some sort of reality check ,because karena yg kita semua tau ,reality bites man...Udah ah ,pegel gue....

WHAT EDUCATION IS FOR – To Be Yourself!

Untuk apa sih pendidikan itu? Setiap pagi anak-anak berangkat menuju sekolah, mengerjakan tugas, belajar, ujian, dan pulang. Kemudian keesokan paginya kembali mengulangi aktifitas yang sama. Untuk apa? Padahal jika dihitung-hitung, waktu yang telah kita, para mahasiswa, habiskan untuk sekolah dan kuliah hampir seluruh usia kita sampai saat ini loh!

Pernahkah kamu berpikir mengenai hal tersebut?

Hidup berisi sumber yang tak pernah bisa kita telusuri dan syukuri secara penuh. Apa itu hidup, dan untuk apa hidup itu? Hidup yang berisi tawa dan air mata. Hidup yang berisi kebaikan dan didalamnya juga terdapat keburukan. Hidup yang extraordinary beautiful!

Pernahkah kamu berpikir mengenai kehidupan?

Hmm, sayangnya orang biasanya hanya mempersiapkan sudut kecil dari kehidupan yang luar biasa indah ini. Kuliah. Lulus ujian. Mendapatkan pekerjaan sempurna. Menikah. Memiliki anak. Lalu? Sehari-hari semakin menyerupai mesin. Melakukan hal yang sama tanpa arti, tanpa arti akan kehidupan yang ‘kaya’ dan ‘sesungguhnya’. Sampai akhirnya ia menjadi tua. Is that all?

Pendidikan akan berguna ketika seseorang benar-benar mempergunakannya untuk lebih mengenal kehidupan lebih jauh. Keindahan sampai dengan kesengsaraannya, termasuk didalamnya alam yang begitu sempurna. Mungkin pendidikan bisa mendatangkan gelar, beberapa tambahan huruf pada nama kita, yang bisa berguna untuk mendapatkan pekerjaan, setelah itu? Menjadi semakin menyerupai mesin??? ^.^

Untuk apa pendidikan ketika ia hanya membawa ‘kebodohan’ bagi kita? Sehingga perasaan cemas, takut, dan khawatir akan hidup tetap menempel pada diri. Jadi, -menurut Khrisnamurti - selagi muda carilah makna kehidupan sedalam-dalamnya. Milikilah intelegensi, yaitu berpikir bebas, tanpa takut, tanpa rumus.

Jadilah dirimu sendiri untuk menemukan arti hidup yang sebenarnya. Jangan pernah takut untuk berbeda. Jangan pernah takut untuk mempertahankan ide. Ketika kesemua hal tersebut kita dapatkan dari berpikir bebas tentang hidup. Berpikir bebas bukan sekedar melakukan apa yang kita sukai, tapi lebih dari itu adalah untuk mengerti keseluruhan proses kehidupan!

Sayangnya lingkungan kurang mendukung kita untuk berpikir bebas. Sejak SD misalnya, kau tidak didukung untuk bertanya (apalagi tentang tuhan dan tradisi, ketika bertanya ‘mengapa?’ bisa langsung ditabok dan bilang ‘Udah ikutin aja! Who’s the master?!’ Haha). Padahal untuk berpikir sebebas-bebasnya diperlukan sebuah atmosfer kebebasan, tanpa rasa takut.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka (yang tidak berpikir bebas) takut kalau ada orang-orang berpikir bebas, maka akan membawa bahaya bagi ‘kesalahan’ –pola pikir- mereka. Bahkan orang tua dan lingkungan mengurung kita untuk sebuah ‘comfort zone’ yang telah terbentuk berabad-abad. Hidup secara aman, tanpa kecaman pihak lain, namun tidak bebas. Tapi itu bukanlah hidup! Just immitating what’s been earlier! Hidup adalah mengetahui untuk dirimu sendiri apa yang benar!

To be educated is to discover, not to immitate! To LIVE is to discover the truth.

To LIVE is TO BE YOURSELF..

(Oleh: Lora berdasarkan buku ‘Think on These Things’ ; Khrisnamurti)




Foto: Vygotsky (dari tiger.towson.edu), Carl Rogers (dari merlincounseling.com), Howard Gardner ( dari edge.org)



Kita hidup di jaman yang memberikan penghuninya kesempatan terbaik untuk mendengarkan dirinya. Sekarang manusia bisa mendapatkan apa yang benar-benar dia inginkan. Mulai dari makanan apa yang dia sedang menarik seleranya, lengkap dengan bagaimana cara makanan tersebut dimasak. Pekerjaan apa yang dia inginkan. Sampai, bagaimana cara bagi dirinya untuk mendidik dirinya sendiri untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Manusia di jaman ini benar-benar mendapatkan kesempatan untuk mengatur hidup dan meraih impiannya. Manusia di jaman ini mendapatkan kesempatan sebesar-besarnya untuk menjadi bahagia karena dapat menjadi dirinya sendiri.

Kondisi yang membebaskan ini tidak serta merta dimiliki oleh manusia, tapi juga didukung oleh perkembangan teknologi serta –yang lebih penting— perkembangan cara berpikir manusia. Maka, tentu saja pembicaraan mengenai pentingnya mendengarkan diri sendiri harus dimulai dari pembahasan sejarah mengenai bagaimana usaha manusia hingga sampai pada titik di mana mereka menyadari pentingnya mendengarkan diri sendiri. Pembahasan mengenai hal ini penting agar, selain kita mengetahui pentingnya mendengarkan diri sendiri, kita juga menyadari bahwa kondisi yang membuat kita bebas mendengarkan diri sendiri tidak datang begitu saja, tapi telah melalui perjuangan dan pemikiran yang panjang.

Kira-kira, masa di dunia berdasarkan kebebasan manusia untuk mendengarkan diri sendiri dapat dibagi kedalam tiga kategori jaman, yaitu, (1) jaman dimana manusia harus mencocokkan diri dengan dunia sekitarnya, (2) jaman dimana manusia mulai menyadari pentingnya menjadi diri sendiri dan mendengarkan diri sendiri, dan (3) jaman dimana manusia mulai menjadi diri sendiri. Ketiga kategori ini adalah hasil observasi pribadi penulis, dan mungkin saja di kemudian hari akan terbukti salah.

JAMAN PERTAMA
Jaman pertama dimulai sejak pertama kali manusia memiliki pekerjaan sampai pada pertengahan abad ke-20 (yang saya maksud abad ke-20 adalah sejak 1900 dan berakhir di tahun 1999). Tentu saya tidak akan membahasnya semenjak masa hanya ada dua pekerjaan di dunia: berburu dan membesarkan anak. Saya hanya akan membahas akhir jaman pertama ini. Dengan memperlakukan peneliti psikologi sebagai seorang sejarawan, menurut saya peneliti yang paling mewakili jaman ini adalah Lev S. Vygotsky (1896-1934).

Vygotsky menemukan bahwa budaya amat mempengaruhi kesuksesan belajar anak. Anak yang sukses adalah anak yang dapat mengikuti keinginan budayanya. Maksudnya, anak yang sukses adalah anak yang dapat bekerja atau menciptakan sesuatu yang dapat diterima oleh budayanya. Anak harus mengikuti tuntutan budayanya. Misal, anak yang hidup di pantai akan sukses jika dia dapat menjadi seorang nelayan atau menciptakan sesuatu yang dapat membantu pekerjaan sebagai nelayan.

Pada jaman Vygotsky ini, seseorang akan lebih sukses jika mengikuti tuntutan masyarakatnya daripada menjadi diri sendiri. Orang itu beruntung jika tuntutan masyarakat sesuai dengan keinginannya. Jika tidak, pilihannya adalah menyerah pada tuntutan lingkungan, atau memberontak dan harus berani hidup dalam kategori “tidak sukses”. Jaman ini ditandai dengan adanya kategori pekerjaan yang “sukses” (misal, pengacara, dokter atau insinyur) dan “tidak sukses” (misal, seniman).

JAMAN KEDUA
Tapi kemudian jaman bergerak dan memasuki era baru. Era dimana manusia mulai menyadari pentingnya menjadi diri sendiri. Jaman ini diwakili oleh Carl Rogers (1902-1987) dan berkembang di akhir abad ke-20 (1950-an ke atas). Pada jaman ini, Rogers –melalui pengalaman praktek bertahun-tahun— menemukan bahwa orang yang memiliki gangguan kesehatan psikologi adalah orang yang menemukan ketidakcocokan antara dirinya (organismic experience) dan gambaran dirinya yang dia dapat dari harapan orang lain (bagian dari self-concept).

Gangguan kesehatan psikologis ini hadir karena tuntutan yang diberikan kepada dia (conditions of worth) membentuk gambaran diri (self-concept) yang berbeda dari siapa dirinya sebenarnya. Dan saat dirinya harus menjalani hidup yang berbeda dari keinginannya, dia tidak merasa bahagia. Tapi, mau tidak mau dia harus menuruti tuntutan lingkungannya (misal, perintah orang tua bahwa untuk jadi sukses, dia harus menjadi dokter dan meninggalkan keinginannya menjadi pelukis) karena dengan menuruti harapan lingkungan, baru dia merasa dihargai oleh lingkungannya.

Jaman ini ditandai dengan manusia yang mulai menerima dirinya sendiri, walau masih dalam bentuk hobi (misal, orang yang merasa memiliki darah seni akan meluangkan waktu dengan melukis atau karaoke). Orang yang bahagia di jaman ini adalah orang yang dapat mendengarkan dirinya sendiri.

JAMAN KETIGA
Jaman ketiga ini berkembang pada awal abad ke-21. Mungkin mereka yang dapat mewakili jaman ini adalah Martin Selligman (peneliti yang membahas mengenai kebahagian diri) dan Howard Gardner (peneliti Multiple Intelligence).

Selligman memaparkan bahwa kebahagiaan akan dimiliki jika manusia menerima dirinya apa adanya. Konsep ini melahirkan pendekatan Psikologi Positif, yaitu melakukan perubahan pada manusia dengan cara berfokus pada peningkatan kekuatan orang tersebut, daripada memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Hal ini dilakukan karena ditemukannya kenyataan bahwa memperbaiki kekurangan hanya akan memberikan hasil seadanya, sedangkan meningkatkan kekuatan (bakat) seseorang akan melejitkan potensi orang tersebut, padahal kedua usaha tersebut dilakukan dengan tenaga yang sama (saat ini, sudah mulai ada perusahaan di Indonesia yang menerapkan pendekatan ini pada karyawannya).

Pendekatan Psikologi Positif ditopang oleh penemuan Gardner bahwa selain kecerdasan intelektual (kecerdasan yang dikategorikan intelektual adalah logis-matematis), masih ada kecerdasan lain (linguistik, spasial, interpersonal, dll). Dan jika seseorang merasa kuat di kecerdasan yang bukan intelektual, maka –mengikuti prinsip Psikologi Positif— lebih baik orang tersebut berkonsentrasi pada bakatnya daripada memperbaiki sesuatu yang sebenarnya tak akan memberikan hasil yang memuaskan.

Jaman ini ditandai dengan makin dihargainya profesi yang tadinya dianggap sebagai profesi yang “tidak sukses” yang disebutkan di atas, serta mulai adanya orang-orang yang berpindah profesi untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka dambakan (Carl Rogers sendiri adalah orang yang melepaskan harapan orang tuanya agar dia menjadi seorang petani demi impiannya untuk menjadi praktisi dan peneliti psikologi).

Sebagai penutup, jaman ini adalah jaman dimana menjadi diri sendiri sudah tidak dianggap sebuah pemberontakan, tapi dianggap sebagai sebuah kekuatan. Untuk menyadarinya, manusia memerlukan waktu bertahun-tahun (lihat saja pergeseran dari “jaman satu” ke “jaman dua” yang memakan waktu lima puluh tahun). Oleh karena itu, kita harus merayakan kemajuan cara berpikir manusia –yang merupakan pertanda terus berlanjutnya evolusi pemikiran— dengan menanyakan pada diri kita “mau jadi apa kita?” dan membiarkan anak kita berkembang sesuai dengan potensinya.

Begitu banyak pengaruh dari luar diri kita yang mengarahkan diri kita pada keputusan-keputusan kita. Untuk keputusan yang berhubungan dengan masa depan, selain oleh diri kita sendiri, kita juga dipengaruhi oleh harapan orang-orang di sekitar kita. Untuk keputusan yang berhubungan dengan beli-membeli, serbuan iklan dan rekomendasi datang dari segala penjuru. Pun dengan hal-hal lain dalam hidup kita. Begitu banyak masukan yang datang dan mencoba untuk mempengaruhi keputusan dan cara berpikir kita.

Tapi satu hal yang harus kita ingat. Semua pilihan yang kita ambil, seberapa kuat pun pengaruh dari luar yang mengarahkan proses pengambilan keputusan, harus kita pertanggungjawabkan seorang diri. Semua langkah yang kita ambil pasti membawa konsekuensi, dan kitalah yang menanggung konsekuensi tersebut, bukan orang lain (mungkin mereka yang memberi masukan pada saat kita memikirkan langkah tersebut juga terkena dampaknya, tapi dampak tersebut tidak sesignifikan yang kita rasakan). Seberapa kuat pun dorongan orang, pada saat kita sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu, maka semua kesalahan akan ditanggung oleh diri kita.

Maka, sebelum anda mengambil keputusan, pikirkanlah:
'apa ini yang benar-benar baik untuk saya?'
'apa ini yang akan membuat saya bahagia?'
'apa ini yang benar-benar saya inginkan?'

'apa saat saya akan membuat keputusan, saya sudah MENDENGARKAN DIRI SAYA SENDIRI?'

Psi! Goblog

Join us

Psikologi Indonesia Goes Blogging terbuka bagi para pembaca yang ingin turut berpartisipasi untuk menyumbangkan tulisan atau pendapat yang berhubungan dengan Psikologi. Kirim Email ke Khrisnaresa@gmail.com dan anda langsung kami berikan keleluasaan untuk menulis di psigoblog.com

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags