Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.


Dua tahun lalu dunia dikejutkan oleh ‘kenyataan yang tidak mengeenakkan’ oleh mantan wakil presiden Amerika Serikat yang juga seorang ilmuwan bernama Al Gore. Ia mengatakan bahwa bumi sekarang sedang menderita ’penyakit’ yang disebut pemanasan global (atau nge’trend dengan sebutan global warming).

Kampanye global warming ini bisa dikatakan sangat berhasil karena semenjak film dan buku ’An Inconvenient Truth’ beredar, semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya menjaga bumi dari eksploitasi manusia.

Istilah global warming memang baru nge-boom akhir-akhir ini, begitu juga dengan gerakan ’stop global warming’ yang menjamur, namun ternyata keprihatinan terhadap lingkungan hidup telah lama dikumandangkan oleh para ilmuwan dari berbagai bidang ilmu, salah satunya adalah psikologi.

Tahun 1992 misalnya, Theodore Roszak dalam bukunya The Voice of Earth memperkenalkan gerakan ecopsychology,
”At its deepest level, psychology is the search for sanity. And sanity at its deepest level is the health of the soul. In this respect, psychology, whatever techniques it may use, is necessarily a philosophical pursuit…at some point, the healthy animals we once were..lost that primal sanity and grew up to become the bad mothers and fathers who made all the bad institutions.
Within the framework of an echopsychology, we raise the question: how did a psyche that was once symbiotically rooted in the planetary ecosystem produce the environmental crisis we now confront?

Mengapa manusia seakan mengambil jarak dengan lingkungan? Menganggap hubungan dengan bumi bersifat eksploitatif dan bukan mutualis?

Freud adalah salah satu kontributor yang memberikan pandangan modern terhadap hal ini. Freud mengatakan bahwa alam adalah seperti ketidaksadaran id yang dimiliki manusia – liar, sulit dijinakkan, perlu dibimbing, dikendalikan, sehingga sumber dayanya terus menerus tersedia bagi kita, dan jangan biarkan ia (id / alam) yang menaklukkan kita. Pandangan ini sangatlah memprihatinkan. Dalam bukunya Civilization and Its Discontent, Freud menambahkan:
”Tugas dari sebuah peradaban adalah ’kita’ melawan alam. Tidak ada seorang pun yang terlepas dari ilusi bahwa sebenarnya bumi telah kalah!”

Pandangan lain juga dikemukakan Freud mengenai hubungan manusia-alam (kayanya bagi Freud, belum afdol klo belum ada esek-esek-nya haha). Dalam perspectifnya ini, hubungan dengan alam disejajarkan dengan hubungan sexual manusia,
”Man asserts and initiates, thrusts out, explores and embraces ’Mother Nature’ while the earth receives, responds, and (re)produce.

Sekejam itukah manusia? Seburuk itukah hubungan manusia dengan alam?

Ya. Suka tidak suka memang itulah yang selama ini ras manusia, kita, lakukan terhadap bumi. Kita menggunakan defense mechanism sebagai pembenaran dan menyelimuti nafsu egoistik terhadap bumi dengan topeng menjijikan, serta menyembunyikan kenyataan dari diri kita sendiri (bahwa bumi sedang sekarat), semata-mata hanya untuk meredakan kecemasan kita.

Kita melakukan:
  1. Denial, ketika tingkah laku tidak-bersahabat terhadap lingkungan muncul (kita membenarkan tindakan kita dengan cara sarkasme, avoidance, ataupun humor), misalnya ’toh ada yang bersihin klo gue buang sampah sembarangan, lagipula gue bayar uang kebersihan!’
  2. Rasionalisasi, ketika konsumsi berlebihan kita meyakinkan diri, misalnya dengan mengatakan bahwa ’kota besar memang membutuhkan konsumsi energi yang besar, jakarta panass wajar dunk AC gue terus nyala.’
  3. Supresi untuk menghilangkan kesadaran dan rasa bersalah kita mengenai pembuangan karbon dioksida (Aku jadi ingat ketika dulu aku masih remaja dan mengingatkan orang tuaku bahwa pembuangan mobil kami – Panther Diesel – waktu itu sangatlah kotor, mereka serta merta lansung memarahi aku tanpa rasa bersalah dan tanpa kesadaran bahwa we actually are responsible).
  4. Displacement kebiasaan untuk mendaur ulang dibandingkan dengan mengurangi konsumsi (yang memang lebih sulit), misalnya ’tidak masalah menggunakan kertas, karena pada akhirnya akan didaur ulang kok – padahal hanya mencoba mencari mudahnya saja’
  5. Proyeksi dengan mengatakan apa yang dianggap baik oleh pemerintah, developer, dsb (padahal kegiatan merusak bumi, yang menguntungkan untuk kita), juga baik bagi kita, ’pemerintah masih memperbolehkan penggunaan stereoform kok’
  6. Sublimasi dengan memberikan donasi jor-jor an, menulis tulisan indah ’stop global warming’, dsb tanpa benar-benar mengubah gaya hidup dan tingkah laku kita terhadap alam!

Dan masih banyak lagi pembenaran diri yang kita lakukan ketika menyakiti bumi! Wah-wah, ternyata kesemuanya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari!

Bumi yang kita lihat sekarang adalah layar proyeksi besar dari ketidaksadaran manusia yang eksploitatif dan ’jahat’ (Lihat tulisan sebelumnya yang berjudul ’Why Prejudice’ mengenai ketidaksadaran manusia dan tingkah laku unfavorable). Untuk mengubah kenyataan ini, nampaknya manusia harus terlebih dahulu berdamai dengan ketidaksadarannya sendiri. Berusaha menjadi lebih reflektif dan lebih peka terhadap tingkah laku kita.

Memang bukanlah hal yang mudah, karena defense mechanism diatas telah terbentuk bertahun-tahun dalam diri setiap manusia, bahkan beribu-ribu tahun jika membicarakan hubungan ras manusia-alam. Sebelum semuanya terlambat, perubahan harus dilakukan sekarang! So?


”Open your eyes. Barely see our dying Mother Earth. Change our attitude, and let’s start a brand new healthy relationship with her.”

(Lora)

Sumber:
Roszak, Theodore. (1992). The Voice of Earth. New York: Simon & Schuster
Sneep, John. (2007). Ecopsychology: An Introduction and Christian Critique. Journal of Psychology and Christianity 26; 2:166-175
(Gambar diambil dari www.solcomhouse.com)



Pernahkah Anda merasa berada dalam suatu kebiasaan yang terus menerus Anda ulang? Walaupun dalam hati Anda, Anda mengetahui bahwa hal tersebut salah dan tidak baik bagi hidup Anda? Anda berusaha keluar dari kebiasaan Anda, namun berulang kali jatuh pada lubang yang sama dan seakan berada di lingkaran setan yang tidak bisa Anda hentikan siklusnya.

Dunia mengetahui konsep evolusi pertama kali ketika Darwin mempublikasikan bukunya yang berjudul
On the Origin of Species (1859). Darwin mengatakan bahwa setiap makhluk hidup berjuang untuk memperoleh posisinya di bumi kita ini melalui proses survival of the fittest, dimana makhluk yang paling tepat akan bertahan hidup.

Kemudian dunia kembali digemparkan oleh Freud yang mengatakan bahwa manusia bukan hanya memiliki insting untuk hidup (yang dalam bahasa Freud ’
eros’), namun juga memiliki insting untuk mati (’thanatos’). Benarkah demikian? Kalau begitu insting kematian sangatlah bertolak belakang dari prinsip bertahan hidup yang biasanya dimiliki oleh hewan dari species manapun! Bahkan lebih lanjut Freud mengatakan bahwa insting kematian ini memiliki dorongan yang lebih kuat dibandingkan dengan insting untuk hidup.

Apa buktinya? Yang jelas terlihat adalah kasus bunuh diri. Sisanya adalah bukti bahwa manusia sering melakukan tindakan yang sifatnya self-destructive, dengan kata lain menyakiti diri sendiri dengan cara mengulang tingkah laku yang mendatangkan ’harm’ bagi diri. Seringkali mencoba untuk keluar, namun tetap terjatuh pada kesalahan yang sama. Dan sering sekali mengeluh tentang hal tersebut!

Saya memiliki teman yang tidak bisa mengontrol pola makannya. Ia sering mengeluh ketidaknyamanan dirinya ketika mengkonsumsi banyak makanan, ’terlalu begah’ katanya. Namun dengan segala keluhannya itu, ia tetap tidak bisa mengontrol pola makannya. Tetap menikmati dalam memakan dan selalu mengeluh seusainya. Kenyataan tentang pola makan ini bukan hanya dialami oleh mereka yang kelebihan berat badan (obesitas), bahkan saya pun tidak bisa mengontrol pola makan, hehe, walaupun tubuh saya tidaklah gemuk.

Lain cerita, saya memiliki teman lain selalu mengeluhkan mengenai hubungannya dengan wanita. Ia terus menerus mengencani wanita cantik yang hanya berorientasi pada uang yang ia miliki. Saya sempat tenang ketika ia berhasil mengakhiri hubungannya dengan wanita ’matre’ pertama, namun kemudian ia kembali menjalani hubungan yang sama dengan wanita cantik lainnya yang hanya menginginkan materi darinya. Berulang kali saya mencoba menyadarkan dia, bahkan ia pun menyadari hal yang sama. Namun tetap saja tidak bisa keluar dari hubungan ’materialistik’ tersebut dan terus menerus mengeluhkan hubungannya setiap berkesempatan meneleponku. Mungkin hal serupa terjadi pada mereka yang terus menerus mempertahankan hubungan abusive dengan justifikasi cinta.

Contoh-contoh ekstrim diatas mungkin tidak dialami oleh Anda, namun salah satu dari tingkah-laku-mengarahpada-penghancuran-diri ini Anda miliki (diambil dari suite101.com):
  1. Emotional eating, or eating too much or too little
  2. Drinking too much or alcoholism
  3. Unsafe, unprotected promiscuity
  4. Drug addiction
  5. Working all the time, workaholic
  6. Constant misery, complaining, or sour attitude - a common form of repeating the past
  7. Chronically choosing the wrong man or woman
  8. Picking the same type of friends (bad ones)
  9. Chronic negativity or pessimism
  10. Trying to "make" others love us - another common form of repeating the past
  11. Constant financial struggles
  12. Persistent struggles with illness or disease
Tambahan hal sehari-hari yang bisa kita temui: perilaku agresi terus menerus (seperti marah) pada akhirnya pun membawa diri kita pada self-destructive, begitu juga dengan gosip yang bisa saja berujung pada prasangka terhadap orang lain yang akhirnya bisa menggerogoti diri Anda sampai menumbuhkan kebencian berakar dihati Anda.

Intinya setiap perilaku yang Anda ketahui buruk jika terus dilakukan, namun terus Anda lakukan, dan tingkah laku itu bisa membawa Anda ‘menghancurkan’ diri Anda sendiri, adalah
Repetition Compulsion. Mungkin selama ini belum Anda sadari, tapi tingkah laku itu perlahan-lahan mengikis kebahagiaan Anda, sampai akhirnya kesehatan dan kehidupan Anda.

Insting ini dimiliki setiap manusia.

Bagaimana cara menghentikannya?

Pertama, kita harus mengetahui bahwa pada dasarnya kita memiliki ketidak-sadaran yang mendorong kita untuk melakukan tingkah laku destructive yang sama secara terus menerus. Cara untuk menghentikannya adalah membawa ketidak-sadaran itu ke kesadaran dengan cara
self-awareness. Kenalilah diri Anda, apa yang Anda inginkan, apa yang Anda butuhkan. Jujurlah terhadap diri sendiri mengenai tingkah laku yang walaupun Anda tolak berada dalam diri Anda, namun sebenarnya Anda miliki. Setelah itu atasilah pikiran-pikiran dan perasaan Anda itu. Cari masalahnya, selesaikan masalahnya, lalu seyogyanya Anda dapat hentikan repetition compulsion ini.

Misalnya pada teman saya yang selalu jatuh cinta pada orang yang salah: kenalilah kebutuhan (kebutuhan untuk dicinta, kebutuhan untuk mendapatkan wanita cantik), mengapa? (karena ketakutan sendiri, atau tidak dicintai oleh orang lain), yang dirasakan ketika diperdaya (kesal karena tidak ada cinta, yang ada hanyalah ’pembelian cinta’ dengan materi), solusi masalah (mencari wanita yang tepat yang bisa mencinta dan bukan sekedar ’dibeli’ dengan uang).

Memang sangatlah mudah untuk mengatakan solusi, namun bagaimanapun juga perubahan yang menyakitkan dan mungkin bisa jadi perjalanan panjang ini akan berbuah hal yang manis bagi Anda:
Well-being. Keutuhan hidup yang Anda jalani, dan senyum manis pada setiap hari Anda..



”Now, it is your decision to CHANGE. Or just simply stay where you are, destructing yourself slowly by doing these repetition compulsions. You choose!”

(Lora)
(gambar diambil dari http://www.xoospace.com/myspace/graphics/19100.jpg)



Mari bermain permainan “membongkar kepribadian teman anda”. Cara memainkan permainan ini adalah dengan melihat lingkungan hidup teman anda. Coba tengok kamar tidur atau meja kerja teman anda, dan silakan membuat kesimpulan mengenai kepribadiannya. Jangan takut salah, karena psikolog Samuel Gosling menemukan bahwa ternyata manusia mempunyai kemampuan yang cukup baik untuk menebak kepribadian orang lain berdasarkan hal-hal yang berada di sekitar orang tersebut. Yang anda butuhkan adalah sedikit latihan (cocokkan tebakan anda dengan kepribadian sebenarnya teman anda, dengan mengkonfirmasi padanya atau pada rekan sejawatnya), dan anda bisa menjadi Sherlock Holmes bagi diri anda sendiri.

Ada dua set dari kumpulan pertanda yang dapat anda jadikan sebagai bahan anda untuk menyimpulkan kepribadian orang. Set yang pertama adalah “identity claims” atau hal-hal yang secara sadar digunakan seseorang sebagai simbol yang menggambarkan dirinya. Sebagai contoh, jika anda suka orang yang pintar, perhatikan taraf kesulitan dari buku-buku koleksi yang ada di kamarnya. Jika anda mencari orang yang lembut, perhatikan jika ada pernak-pernik lucu di meja kerjanya. Jika anda ingin berdekatan dengan orang yang suka bergaul, perhatikan apakah dia menempelkan foto-foto dirinya yang sedang bermain bersama teman-temannya di folder foto facebook-nya atau lihat apakah ada banyak barang-barang pribadi yang dia letakkan di tempat umum (misal, di dalam loker sekolah).

Seperangkat bukti kedua adalah sesuatu yang dikenal dengan istilah “behavioral residues”, yaitu tanda-tanda kepribadian seseorang yang ditinggalkan secara tak sadar. Kotak CD yang berserakan bisa mengungkapkan selera musik orang tersebut (serta tingkat kerapian si empunya CD). Pemilihan warna-warna yang mendominasi tempat hidup seseorang juga dapat menjadi alat untuk membongkar kepribadian. Selain dari tingkat kecerahan warna (makin cerah, makin ceria), banyaknya variasi warna yang digunakan juga memberi arti tersendiri (jika penampilan seseorang didominasi oleh misalnya, warna pink, kita bisa menebak bahwa dia sedikit bersifat obsesif).

Selain tebakan yang bersifat umum di atas, ada juga tebakan yang lebih didasarkan pada sifat orang tersebut. Concientiousness (kemandirian dalam mengambil keputusan) dapat dilihat dari kondisi ruangan yang bersih dan terorganisir. Openness (kemampuan untuk beradaptasi dengan pengalaman, cara pandang, dan kebiasaan baru) dapat dideteksi melalui pernak-pernik yang unik atau banyaknya buku-buku yang ada di dekat orang tersebut.

Masih membicarakan mengenai menebak sifat seseorang, sifat disiplin dan dapat diandalkan bisa dilihat dari hadirnya ruangan (atau meja kerja) yang bersih dan rapi. Anda juga dapat menebak stabilitas emosi seseorang dari tingkat ke-feminin-an lingkungan teman anda.

Bagaimana? Cukup mudah, bukan? Tata letak, banyaknya barang pribadi, sampai genre dari CD yang ditemukan di meja kerja, kamar, dan profile myspace teman anda memberikan petunjuk mengenai kepribadian teman anda. Silakan anda saling menebak kepribadian dengan teman anda! Kegiatan itu akan menjadi sebuah kegiatan yang cukup menyenangkan dan menambah keakraban. Atau, jika besok-besok ada seseorang yang mengajak anda kencan, anda bisa mengecek dulu kecocokan kepribadiannya dengan kepribadian anda sebelum melangkah lebih jauh. Judge a book by it’s cover! But judge it carefully. (Dion)

Psi! Goblog

Join us

Psikologi Indonesia Goes Blogging terbuka bagi para pembaca yang ingin turut berpartisipasi untuk menyumbangkan tulisan atau pendapat yang berhubungan dengan Psikologi. Kirim Email ke Khrisnaresa@gmail.com dan anda langsung kami berikan keleluasaan untuk menulis di psigoblog.com

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags