Psikologi Indonesia Goes Blogging

Blog yang berisi mengenai semua hal yang berkaitan dengan Psikologi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Psikologi kepada masyarakat Indonesia dalam bentuk bacaan ringan.


Inside and Outside

They need each other

No black without white

No sister without brother

We have no tomorrow

Without today

Speech is not possible

Without something to say

There are no wise ones

Without the fools

The nature of life

Is expressed in the dual

-Simpkins (Tao in Ten, 2002)

Yin-Yang. Feminim-maskulin. Bumi-langit. Baik-buruk. Hitam-putih. Takdir dari hidup, diekspresikan dengan pasangan. Seperti logo yin-yang, hitam putih yang berdempet, didalam hitam terhadap lingkaran kecil putih, didalam putih terdapat lingkaran kecil hitam. Keduanya memiliki esensi berbeda, namun keduanya berbagi esensi yang sama.

Begitu juga dalam keutuhan seorang manusia. Terdapat ketidaksadaran dan kesadaran. Seorang wanita memiliki ketidaksadaran pria (yang dinamakan animus), dan seorang pria memiliki ketidaksadaran wanita (yang dinamakan anima). Setiap orang yang memiliki kekurangan, pasti memiliki kelebihan lain. Setiap topeng pasti memiliki wajah asli (yang mungkin saja bertolak belakang).

Kesadaran akan adanya ketidaksadaran akan membawa kita kepada ’hidup’. Seperti pepatah mengatakan, ’kita tidak akan menghargai tawa, jika tidak ada tangis’, begitu pula diri manusia, tidaklah lengkap tanpa kesadaran akan adanya ’sisi lain’ yaitu ketidaksadaran manusia.

Ketidaksadaran ini bisa dibawa ke kesadaran dengan beberapa cara, misalnya menganalisa mimpi dan mencari arti melalui mitos.

Oleh: Lora


Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Sejauh manakah psikologi mempelajari tingkah laku manusia? Sejauh-jauhnya selama topik yang dibicarakan berhubungan dengan manusia! Bukan saja yang kelihatan, melainkan juga yang tidak kelihatan, yang sering dikenal dengan ’ketidaksadaran’. Ketidaksadaran lebih banyak dibicarakan dalam aliran psikoanalisis.

Freud menganalogikan ketidaksadaran sebagai sebuah gunung es. Puncak gunung es yang dapat kita lihat (kesadaran manusia) sebenarnya hanyalah bagian kecil dari keseluruhan gunung es yang tidak terlihat dibawah permukaan air (ketidaksadaran manusia). Ingatlah peristiwa Titanic yang menabrak gunung es, sebetulnya kapal tersebut telah berhasil mengelak dari gunung es yang terlihat, namun bagian bawah kapal ternyata menabrak bongkahan es besar yang tidak terlihat dibawah permukaan air. Begitulah alam ketidaksadaran manusia, unseen, unconscious but big yet powerful.

Now the question will be à how powerful is our unconsciousness? Well, at least it is powerful enough to make you do things you actually do not want to do (refer to Insting Kematian Manusia), powerful enough to manipulate our mind of hating self to hating others (refer to The Shadow), powerful enough to hide our True SELF from us.

Ketidaksadaran adalah kekuatan yang besar dalam diri kita. Kebanyakan didalamnya adalah hal-hal yang tidak kita inginkan, hal-hal yang kita benci, hal-hal tidak menyenangkan yang direpresi, dilupakan. Namun dilain pihak ketidaksadaran juga menyimpan suatu harta karun yang jika ditemukan dapat mengantarkan manusia kepada ’pencerahan’ hidup ketika seorang manusia semakin mendekati Self (dengan kapital S) dan dapat menyeimbangkan conscious-unconscious. Untuk itu, seorang manusia harus mengenali dirinya terlebih dahulu.

Menurut Jung, manusia memiliki collective unconsciousness yaitu sebuah ketidaksadaran kolektif, sebuah ingatan masa lalu yang terbawa sejak kita lahir. Ingatan-ingatan itu berisi primordial image (gambaran2 jadul) yang dinamakan archetype. Sebelum melanjutkan tulisan ini, kita harus mengerti konsep archetype terlebih dahulu. Archetype adalah tema-tema yang ada didalam kehidupan manusia. Tema ini mungkin bisa disejajarkan dengan ide Plato mengenai dunia ide. Archetype bisa berupa The Hero, Mother, The Wise Old Man, Anima, ataupun The Shadow.

Jung menyadari ketidaksadarannya berisi archetype ketika pada suatu hari ia sedang mengalami kegundahan didalam hati, ia merenung dan didalam renungannya ada seorang bijak yang memberikan nasihat kepada dirinya, ia menamakan orang tersebut Filemon. Ia merasa Filemon bukanlah dirinya, walaupun jelas sekali bahwa Filemon memberikan nasihat melalui dirinya didalam kesadaran maupun ketidaksadarannya. Kemudian Jung menyadari bahwa orang-tua-yang-bijak ini adalah ingatan kolektif dirinya (ketidaksadaran archetype) mengenai sebuah tema The Wise Old Man. Mungkin kita juga menemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dulu ketika saya mengalami stress yang cukup mendalam, mencoba mencurahkan isi hati pada seorang pecandu berpendidikan rendah, and what a surprise, she could gave me the best answer I could ever thought that time! Dalam peristiwa ini, teman saya itu mengeluarkan tema Wise Old Man dari ketidaksadarannya. Sampai-sampai ia berkata, ’ga nyangka juga bisa keluar dari mulut orang yang suka ineks haha.’

We all have those qualities! Suatu kualitas keseimbangan. Seandainya saja kita mencoba untuk lebih aware akan keberadaannya, kita bisa menemukan harta dalam diri. Persona vs Shadow (’kebaikan’ vs ’keburukan’). Anima vs Animus (feminin vs maskulin).

Ternyata keseimbangan ini juga ditemukan didalam literatur dan cerita-cerita masa lalu. Misalnya saja konsep utama dalam Tao yang menggambarkan keseimbangan, Yin Yang. Atau cerita Mahabarata yang mengisahkan pertempuran kebaikan dan kejahatan yang tak pernah berakhir. Begitu pula lah manusia. Mencoba mengerti ketidaksadarannya sebagai salah satu cara menyeimbangkan hidup. Mengenal dan mengerti adanya ‘the opposite’ dari setiap sisi, menjadikan seseorang lebih menghargai kehidupannya. ^^ Sederhananya, ’kita tidak akan pernah menghargai hadirnya seseorang dalam hidup ini jika kita belum pernah merasakan perpisahan’. Kita tidak akan mengenal diri secara utuh jika kita tidak mengenali ketidaksadaran kita.

“We all have the qualities of balance. Awareness of both sides can deliver us to what is called The True Self. Sharpen your consciousness and travel to the unlimited world of YourSelf, OurSelf – for we share the same heritance!”

Oleh: Lora dari berbagai sumber


Believe in God is like believing the lame government.

They both have the 'authority' to make us 'obey', but what they do? Is it worth our faith?

Let's say I do believe in Harvey Dent :p But in fact --in the end-- he could not fulfill his promise, he even be the criminal himself!

Many would say, it is different with God. He is EXTRA. His good beyond our thinking. He brings the most justice, that there will be no imbalance. But what we see? Evil, illness, suffer, catastrophe, bad parents, war in the name of religion, terrorist, disable-person, hunger, tears.

We see the TRUTH around us, when actually God, or the government, promised to care (pasal 34 UUD; and all the promises God made to love his 'children').

The politician asks us to believe that they will give the best, a 'change' for a better country, better living. God asks us to believe for the day of judgment when He gives us an eternal luxury life, peace and joy.

The truth is around. The fact is watching us (should we watch them). Gloomy world with imbalance justice!

Will you speak in the name of nationality when the 'elderly' don't even care? Will you VOTE them in the next election?

In other side, after we see lots sadness around, will you 'vote' God to be the governor in your heart?

I won't.

And for that --think long-- 'Whom should I vote for the election 2009 ya?' . Hahaha.

*The post is just my personal view (Lora)


Personality, atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan sebutan kepribadian, adalah suatu konsep yang mungkin sama tua-nya dengan bahasa manusia. Trait (atau sifat dalam bahasa Indonesia) memiliki 2 asumsi besar (Matthews, Deary & Whiteman, 2003) yaitu bahwa sifat itu stabil seiring dengan waktu dan yang kedua, sifat dipercaya memiliki pengaruh langsung terhadap perilaku.

Kita sering mempercayai sifat seseorang sebagai ’true nature’, sesuatu yang terberi. Ingatkah Anda jika menghadapi teman yang seringkali marah-marah, dan Anda mencoba berkepala dingin menghadapainya dengan menghibur diri, ”Yah maklum deh, udah dari sananya dia memang suka marah-marah.” Dalam contoh ini, sifat dilihat sebagai sesuatu yang merupakan komponen tingkah laku yang dibawa dari lahir, sama misalnya seperti belang pada harimau Sumatera. ”Sudah dari sananya”.

Namun sifat dan kepribadian ini tidak serta merta eksklusif terlihat dalam tingkah laku manusia saja loh, hewan pun memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda-beda. Sebelumnya saya pernah mendengar dari ’Kelompok Pecinta Binatang’(yang ini saya baca dari Forum Jual Beli Fauna di Kaskus),

”Jangan mengadopsi anjing karena lucu-nya saja, ingat bahwa anjing juga memiliki kepribadian masing-masing yang harus dikenali. Jangan sampai kita mencintai anjing ketika puppy karena lucu, kemudian mengabaikan mereka ketika mereka dewasa hanya karena kepribadiannya yang ’buruk’”.

Saya tidak pernah bisa mengerti kalimat tersebut sampai kesempatan kemarin saya memelihara beberapa kelinci. Selama ini total 6 kelinci yang telah saya pelihara (saat ini tinggal dua). Kelinci pertama saya bernama Poo, seekor kelinci Australia berwarna hitam. Ia sangat pintar, dalam dua hari ia sudah bisa litter dropping (pup dan pee pada tempatnya) dengan baik, jika dipanggil dari berbagai arah ia akan mendatangi kita (ia sudah dapat mengenali namanya sendiri), bahkan ia sengaja merendahkan kepalanya meminta untuk dielus, Poo adalah seekor kelinci yang suka disayang dan digendong, ia tidak pernah menolak. Sayangnya ia tidak bertahan lama. Poo meninggal dalam perjuangannya menghadapi penyakit diare yang ia derita.

Berdasarkan pengalaman memelihara Poo, saya pikir semua kelinci sama pintar dan baik seperti dia, namun betapa kecewanya saya ketika saya memelihara Embot Oren, Embot Coklat, Embot Putih, dan KoalaLa Bobotai sekarang ini. Mereka semua sangat bertentangan dengan Poo. Embot Oren tidak mendatangi ketika dipanggil, Embot Coklat sama sekali tidak suka digendong/disayang, KoalaLa Bobotai yang pup dan pee dimana-mana sampai badannya bau banget(sehingga namana Bobotai, Bau Bau Tai haha), dan embot putih yang akan saya ceritakan berikut.

Embot Putih adalah kelinci yang paling lama saya pelihara, sehingga saya paling mengenal dirinya. Dia adalah kelinci PALING BERSIH yang pernah saya temui, selalu membersihkan badannya, sama sekali tidak berbau, menolak makanan yang bau, litter dropping pada tempatnya, bahkan terkadang ia tercium wangi (dalam artian bukannya bau tak sedap, Embot Putih malah memiliki bau badannya sendiri yang bisa dibilang untuk ukuran binatang, wangi)!! Kasihan sekali dirinya harus share kandang dengan KoalaLa Bobotai yang sangat bau pesing, dan jorok. Embot putih jarang mau diganggu kalau lagi beraktifitas (lari2, dsb), namun jika ia sedang istirahat/tiduran kita bisa mengelus, menggendong, bahkan bisa meniduri dia saking miripnya dengan bantal karena gepeng dan berbulu haha. How cute.
When we admit to adopt animal, we have to accept them and say ’I love you just the way you are’. ^^ Walaupun sering kesal karena Bobotai bau, saking baunya sampai mengira dia adalah kukang yang menyamar jadi bunny haha, tapi tetap saja ‘I love her just the way she is’.

Sama seperti manusia, hewan juga memiliki sifat dan kepribadian. Baik yang (selama ini menurut pandangan sosial) ’baik’, maupun ’buruk’. Pada dasarnya mereka adalah makhluk hidup yang juga ingin dicinta apapun tingkah laku yang muncul dari dirinya.

Pengenalan akan sifat dan kepribadian binatang bisa membuat kita lebih menghargai makhluk hidup (human/non-human). Berbeda binatang dan sifatnya, berbeda pula cara kita menghadapi dirinya. Sehingga kita bisa menerima dan mencintai makhluk lain, bukan karena atribut yang menempel dan sementara (sekedar lucu, timbal balik, jelek, atau apapun) tapi lebih jauh lagi karena melihat mereka sebagai pribadi yang utuh.


“We share the same earth. We breathe the same air. Respect and love is the key to keep the balance among beings.”


[Poto kelinci berdasarkan urutan muncul: Embot Coklat, Embot Oren, Embot Putih, dan KoalaLa BoboTai (yang paling lucu dan paling bau hehe) ^^]


Oleh: Lora


Sumber:

Matthews, G., Deary, I.J., Whiteman, M.c. (2003). Personality Traits 2nd Edition. Electronic: Cambridge University Press




Psi! Goblog

Join us

Psikologi Indonesia Goes Blogging terbuka bagi para pembaca yang ingin turut berpartisipasi untuk menyumbangkan tulisan atau pendapat yang berhubungan dengan Psikologi. Kirim Email ke Khrisnaresa@gmail.com dan anda langsung kami berikan keleluasaan untuk menulis di psigoblog.com

Psikologi Indonesia Goes Blogging

Recent Posts

Recent Comments

Tags