Seperti biasa, sabtu dan minggu sore adalah waktu kesenangan saya karena ada acara Nanny 911 dan Super Nanny di Metro TV. Saya suka acara itu karena acara itu memberikan pada saya asupan dari gambaran penerapan psikologi di kehidupan nyata. Tapi, ada satu hal menarik yang baru diperhatikan oleh otak saya yang lambat mencerna informasi pada saat saya nonton acara-acara itu minggu ini: konsep acara yang sedemikian rupa dari acara-acara itu menyebabkan peran antagonis dan protagonis di kedua reality show itu menjadi terbalik.
Kalau diperhatikan, porsi terbanyak dari kedua acara itu adalah rekaman perilaku si anak. Dari awal, si anak memperlihatkan perilaku nakal. Lalu, ditengah acara (dan ini merupakan porsi terbesar dari acara), diperlihatkanlah si anak mendapatkan perlakuan untuk memperbaiki perilakunya. Akhirnya, di penghujung acara, diperlihatkan si anak berubah jadi anak yang bisa di atur.
Konsep acara seperti ini membuat si anak terlihat sebagai orang yang memegang peran antagonis. Mereka diperlihatkan sebagai manusia-manusia kecil yang sulit diatur, yang berkata kasar, dan sering melakukan tindakan diluar aturan. Tapi ada satu hal yang sering kita lupakan. Kausalitas.
Pernahkah terpikirkan oleh kita, apakah hal yang menyebabkan anak-anak “nakal” itu berperilaki seperti itu? Menurut saya yang cukup mencintai Pavlov, penyebabnya adalah pemeran lain yang seringkali digambarkan sebagai korban, dua orang yang sering terlihat kelelahan, dan patut dikasihani: kedua orang tua mereka.
Yep! Sebenarnya, penyebab dari kenakalan anak-anak itu adalah orang tua mereka. Anak-anak yang tak bisa di atur adalah hasil dari orang tua yang tak berhasil menjalankan disiplin. Anak-anak yang memukul saudara mereka sendiri adalah hasil dari orang tua yang tak berhasil mengajarkan rasa kasih sayang pada saudara. Anak-anak yang berkata kotor adalah hasil dari orang tua yang tak mengajarkan cara berbicara yang baik. Kesimpulannya, anak-anak itu adalah hasil dari orang tua yang tidak kompeten.
Harusnya, acara tersebut memiliki konsep seperti ini:
Pada adegan awal, diperlihatkan kesalahan-kesalahan pengasuhan orang tua.
Lalu, diperlihatkan orang tua yang mulai memperbaiki perilaku mengasuh mereka.
Akhirnya, diperlihatkanlah orang tua yang berhasil belajar menjadi “orang tua sebenarnya”.
Tentu saja, nama acaranya harus diganti menjadi “Parents’ Boot Camp 911” dan “Super Parent Trainer”.
Kalau diperhatikan, porsi terbanyak dari kedua acara itu adalah rekaman perilaku si anak. Dari awal, si anak memperlihatkan perilaku nakal. Lalu, ditengah acara (dan ini merupakan porsi terbesar dari acara), diperlihatkanlah si anak mendapatkan perlakuan untuk memperbaiki perilakunya. Akhirnya, di penghujung acara, diperlihatkan si anak berubah jadi anak yang bisa di atur.
Konsep acara seperti ini membuat si anak terlihat sebagai orang yang memegang peran antagonis. Mereka diperlihatkan sebagai manusia-manusia kecil yang sulit diatur, yang berkata kasar, dan sering melakukan tindakan diluar aturan. Tapi ada satu hal yang sering kita lupakan. Kausalitas.
Pernahkah terpikirkan oleh kita, apakah hal yang menyebabkan anak-anak “nakal” itu berperilaki seperti itu? Menurut saya yang cukup mencintai Pavlov, penyebabnya adalah pemeran lain yang seringkali digambarkan sebagai korban, dua orang yang sering terlihat kelelahan, dan patut dikasihani: kedua orang tua mereka.
Yep! Sebenarnya, penyebab dari kenakalan anak-anak itu adalah orang tua mereka. Anak-anak yang tak bisa di atur adalah hasil dari orang tua yang tak berhasil menjalankan disiplin. Anak-anak yang memukul saudara mereka sendiri adalah hasil dari orang tua yang tak berhasil mengajarkan rasa kasih sayang pada saudara. Anak-anak yang berkata kotor adalah hasil dari orang tua yang tak mengajarkan cara berbicara yang baik. Kesimpulannya, anak-anak itu adalah hasil dari orang tua yang tidak kompeten.
Harusnya, acara tersebut memiliki konsep seperti ini:
Pada adegan awal, diperlihatkan kesalahan-kesalahan pengasuhan orang tua.
Lalu, diperlihatkan orang tua yang mulai memperbaiki perilaku mengasuh mereka.
Akhirnya, diperlihatkanlah orang tua yang berhasil belajar menjadi “orang tua sebenarnya”.
Tentu saja, nama acaranya harus diganti menjadi “Parents’ Boot Camp 911” dan “Super Parent Trainer”.



2009 Januari 11 21:24
cmiiw, tapi sepanjang gw nonton nanny 911, yg diomelin duluan jg ortunya...
so, source nya yg dibenerin duluan toh?
2009 Januari 12 00:23
Iyah. Setuju sama Vendy. :)
Memang anak lebih difokuskan karena lebih menarik, yah bagian dari script-lah. Menurut gue acara Nanny itu lebih untuk hiburan dan bukan edukasi! Jadilah script yang dibuat harus sedramatis dan sesadis mungkin!
Hehehe.. lagipula non-sense banget tuh acara. Sehari sebelum final day, anak2nya masih pada bandel eh pas final day semua seakan beres sempurna banget! :D
2009 Januari 12 02:38
iya, yang diomelin duluan ortunya. tapi porsinya lebih sedikit dari rekaman-2 anak-anaknya. jadi, bagi orang awam, fokusnya ke kenakalan si anak.
2009 Januari 12 06:03
Setahu saya dari awal memang orang tuanya yang disorot kok. Saya ga pernah lihat episode yang menitik beratkan pada kenakalan anak2nya.
2009 Januari 22 01:51
...
Dan kemudian kausalitas memunculkan kepalanya lagi. "Apa penyebab sang orangtua berbuat demikian?"
Mungkin, seharusnya tidak ada satu pihak yang disalahkan. No, no, i don't point on innocence.
Mungkin, kalau ini akan dijadikan bagian dari edukasi, lebih baik lagi melibatkan semua pihak sebagai pelaku tanpa korban; atau semua korban tanpa pelaku; atau semua korban dan pelaku.
Ah, bigger picture, bigger picture.
2009 Februari 1 02:11
Semenjak nonton ini, gue jadi gak pengen punya anak (lho, kesimpulan yang salah). Hehe.