Pernyataan sang pembicara mengingatkan kepada para ateis dadakan yang waktu dulu sempat jadi trend di antara teman-teman saya yang saya yakin bahwa mereka menjadi ateis bukan karena landasan teori hasil kontemplasi, melainkan hanya ikutan, biar keren enggak punya Tuhan, atau biar disangka pintar, biar disangka pemikir atau calon filsuf.
Memangnya untuk jadi seorang pemikir atau filsuf, harus ateis dulu?
Mungkin lebih tepatnya itu skeptis. Bagi saya skeptis itu wajar. Manusia memiliki indera yang ditakdirkan untuk melihat benda konkrit. Benda abstrak hanya bisa dilihat melalui keyakinan dan pemahaman. Bertanya tentang apa yang menjadi agamanya itu wajar - apalagi agama sudah didogma pada manusia sedari kecil, oleh karena itu saya pernah meragukan ajaran agama saya dan saya bertanya kepada orang-orang. Namun sayang reaksi yang diterima tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Saya langsung di-judge tidak boleh ragu, dipandang sebelah mata oleh kakak kelas agamis dengan jawabannya, "Kenapa harus bertanya tentang Tuhan sih? Kenapa kamu tidak ikuti skenarionya saja?". Itu melarang hak manusia untuk berpikir, namanya.
Saya, yang sedari kecil sudah diberi agama Islam dan tidak diberi kesempatan untuk memilih agama, bertanya apakah perasaan takut pada Tuhan memang berasal dari keyakinan saya atau dari didikan yang sudah membudaya? Lalu bagaimana jika agama itu ternyata tidak ada, sengaja dibuat untuk mengendalikan hidup manusia yang kelewat bebas?
Pertama kali saya belajar filsafat, banyak tanggapan bahwa filsafat itu membuat orang ateis. Setelah membaca, ternyata beberapa tokoh seperti Nietzsche, Camus, Sartre, dan lainnya itu ateis. Karena saya berada di ranah psikologi, mari kita melihat sisi ateis melalui Sigmund Freud.
Freud melihat agama itu infantil, seperti anak kecil yang ingin menyelesaikan masalah nyata dengan wishful thinking. Manusia jadi mengharapkan keselamatan secara pasif dari Tuhan daripada mencari jalan untuk mengusahakannya sendiri dan mengembangkan potensinya. Manusia jadi mengharapkan sebuah penyelamat yang memang tidak pernah ada. Parahnya, ini dialami oleh semua orang, sehingga Freud menyebutnya dengan neurosis kolektif. Neurosis adalah dasar teori Freud. Neurosis terjadi apabila orang bereaksi tidak adekuat atas suatu pengalaman yang amat emosional. Misalnya seorang perempuan yang dengan sengaja menghilangkan ingatan akibat pemerkosaan yang pernah dialaminya. Tanpa ia sadari, konflik emosional itu dimunculkan melalui perilaku yang seperti tidak ada hubungannya. Misalnya perilaku obsesif kompulsif - terus-terusan mencuci tangan dan lainnya.
Akur dengan Nietzsche yang berpendapat bahwa agama hanyalah belenggu "manusia super", Freud beranggapan agama menggagalkan kemungkinan manusia untuk mengembangkan diri dan untuk mencapai tingkat kebahagiaan yang sebenarnya dapat saja tercapai.
Terlihat, kan, bedanya yang mana skeptis dan ateis. Apalagi ateis nge-trend.
Andai saya bertemu dengan kakak kelas saya, mungkin saya akan menjelaskan bahwa dalam agama, terdapat dimensi intelektual. Bukan untuk merasionalkan agama (karena yang rasional namanya science) tetapi untuk bertanya tentang apa yang dianutnya. Bagi saya, totalitas orang beragama bukan hanya menganut apa yang diturunkan orang tua, tetapi mendalaminya dengan pertanyaan. Dan bagi saya, kebenaran yang hakiki adalah kebenaran yang berasal dari keraguan.
(Nia)




