tag:blogger.com,1999:blog-1088912194914232863.post-84224773028632750352009-04-04T04:21:00.000-07:002009-04-04T04:21:00.000-07:002009-04-04T04:21:00.000-07:00Yang jelas, pernyataan bahwa ateisme dan agnostisi...Yang jelas, pernyataan bahwa ateisme dan agnostisisme mempunyai kesan "keren" atau pintar bagi ybs, buat saya terasa seperti kacang goreng garing.<BR/><BR/>Maksudnya, tidak semua orang harus terjun menjadi ateis usai mempelajari filsafat. Saya yang sedang kuliah filsafat juga demikian.<BR/><BR/>Toh, bukankah para calon pasotr Katolik di seluruh dunia HARUS belajar filsafat dulu sebelum teologi? Jadi pernyataan "belajar filsafat menjerumuskan seseorang ke dalam ateisme" adalah tidak valid dengan sendirinya. <BR/><BR/>Memang ada filsuf yang ateis, tetapi <B>tidak semua</B> filsuf adalah ateis, kan? contohnya Thomas Aquinas (dan hampir seluruh filsuf abad pertengahan), Kant, Gabriel Marcel, Levinas, dll..<BR/><BR/>Lagi pula, pernahkah kamu menyadari:<BR/><B> Skeptisisme adalah kontradiksi pada dirinya? </B><BR/><BR/>Mengatakan bahwa "Yang ada hanya ketidakpastian" mengindikasikan bahwa pernyataan tersebut bersifat pasti, bukan? <BR/>Kalau semua serba tidak pasti, boleh dong saya tidak percaya pada pernyatan bahwa "Segala sesuatu itu tidak pasti". Dengan kata lain, saya menganggap skeptisisme itu sendiri tidak pasti juga!<BR/><BR/>Demikian....Hireka Erichttp://www.blogger.com/profile/11407398762946970312noreply@blogger.com