Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Impotensi, Gangguan Fisik atau Gangguan Psikis?

Impotensi, Gangguan Fisik atau Gangguan Psikis?


Impotensi, Gangguan Fisik atau Gangguan Psikis?


Siapa yang tidak tahu tentang impotensi. Kalaupun tidak tahu, suatu saat pasti akan tahu, karena masalah impotensi merupakan masalah yang paling dikhawatirkan oleh pasangan selain perceraian dan perselingkuhan. 

Terdapat perdebatan tentang apa penyebab ‘penyakit khas’ kaum laki-laki ini. Ada yang percaya jika penyakit ini merupakan gangguan fisik, namun ada juga yang yakin bahwa penyakit ini disebabkan karena adanya gangguan psikologis atau psikis. 

Impotensi merupakan ketidakmampuan pria melakukan ereksi pada penisnya. Jadi zakarnya (bukan buah zakar-nya) tidak mampu menegang atau tidak mampu mempertahankan ereksinya. 

Ada tiga macam impotensi, yaitu yang sifatnya organis, fungsionil dan psikoghen. Impotensi organis jarang ditemukan; yaitu disebabkan oleh cacat organik atau anatomis pada alat kelamin, atau ada kerusakan pada susunan saraf. Sedangkan impotensi fungsionil disebabkan oleh gangguan pada syaraf, oleh pemakaian obat-obatan tertentu dan narkoba (drugs) yang berlebihan. Bisa juga disebabkan oleh terlalu banyaknya kecanduan alkohol.

Sedangkan impotensi yang psikhogen paling banyak terjadi. Yaitu disebabkan oleh gangguan-gangguan psikis, gangguan emosional (rasa takut dan cemas yang hebat, kecewa, rasa jengkel, motif balas dendam, kurang kepercayaan diri dan lain-lain). Ada kalanya bisa terjadi ereksi, akan tetapi zakar menjadi lemas kembali setelah mendekati vagina, sepertinya takut pada vagian. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa cemas atau ketakutan, sebagai produk dari pengalaman traumatis pada waktu kecil dan masa muda. Adakalanya juga disebabkan karena orang yang bersangkutan berpegang terlalu ketat pada hal yang ditabukan misalnya larangan seks bebas yang keras dan dosa-dosa.

Impotensi juga bisa berlangsung karena penghinaan-penghinaan yang dilontarkan oleh istri atau partner seksnya, karena tidak bisa memuaskan pihak wanita. Penghinaan bisa juga muncul dari teman sendiri, yang sering mengejek dirinya dengan olok-olokan “lemah syahwat”, “banci” atau “betina”, dan perkataan lainnya yang bisa menimbulkan devaluasi-diri.

Lebih lanjut, impotensi juga bisa terjadi karena anggapan atau perasaan atau kepercayaan pada diri pria tersebut, bahwa dia sungguh-sungguh lemah dan impoten. Ada prose “nominasi diri” (zelfbenaming, zelfbestempelling), sehingga perasaan tadi memberikan pengaruh yang sugestif pada diri sendiri. Karena itu masalah, impotensi adalah masalah kepercayaan diri sendiri. Bila seorang pria secara terus menerus meragukan potensi seksualnya, lambat laun dia benar-benar akan menjadi impotent. Maka penghinaan dari istri, partner seks dan teman bisa merusakkan kepercayaan diri sendiri.

Kedua hal tersebut, impotensi dan kurang percaya diri saling berkaitan dan merupakan satu vicious circle (lingkaran setan). Semakin menipis rasa percaya diri seseorang terhadap kemampuan seksualnya maka semakin lemahlah syahwatnya, semakin impotenlah dirinya.

Bentuk impotensi yang tidak terlalu parah ialah ejakulasi premature atau lebih popular dengan kata ejakulasi dini atau lebih popular lagi dengan kata edi-tansil (ejakulasi dini tanpa hasil). Yaitu pembuangan sperma yang terlalu dini atau cepat. 

Ejakulasi dini ditandai dengan pembuangan sperma sebelum zakar melakukan penetrasi terhadap vagina atau pembuangan sperma beberapa detik sesudah penetrasi. Si pria tidak mampu menahan dorongan ejakulasi di dalam vagina selama beberapa detik. 

Pada umumnya ejakulasi dini tersebut disebabkan oleh rasa takut, rasa tidak aman dan kurang kepercayaan diri pada saat melakukan hubungan seksual. Rasa takut dan tidak nyaman pada saat melakukan hubungan seks akan terus terbayang pada saat berhubungan seksual lagi, sehingga lama kelamaan pria tersebut menjadi mengidap ejakulasi dini atau bahkan impotent total. Bisa juga disebabkan oleh kegagalan-kegagalan tertentu dalam kariernya, dominasi istri dalam rumah tangga, dan penghinaan yang berlebihan kepada pria tersebut.

Jika faktor penyebab impotensi tadi adalah psikhogen sifatnya, maka harus mendapatkan psikoterapi yang cukup lama dan intensif, dengan jalan re-edukasi mental, untuk memulihkan kembali kepercayaan diri. Tidak hanya itu saja, pasangan harus ikut membantu kesembuhan sang pria, yakni dengan re-learning posisi coitus (bersenggama), “Wanita berada diatas Pria”.

Untuk menghindari terjadinya impotensi bagi kamu yang belum menikah, pilihlah tempat yang aman dan terhindar dari rasa takut, karena akan berpengaruh pada ‘permainan’ kamu, dimana ‘permainan’ tersebut akan terus berulang dan menghantui kehidupan seksualmu kelak. Dan yang lebih disarankan adalah jangan pernah melakukan seks pra-nikah.