Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terlambat Bicara Pada Anak

Terlambat Bicara Pada Anak


Terlambat Bicara Pada Anak


Mulai bisa berbicara merupakan salah satu bukti berkembangnya kecerdasan si buah hati. Namun, terlambat bicara belum tentu kondisi yang abnormal dan belum tentu juga bukan tergolong anak yang cerdas.

Normalnya, paling cepat anak sudah mulai bisa berbicara pada umur 10 bulan. Awalnya baru kata-kata tunggal. Pada umur 18 bulan sudah mulai terdengar dia mampu merangkai kalimat yang pendek. Si anak kemudian sudah mampu menyusun kalimat yang sempurna setelah berumur 30 bulan. Tentunya ada variasi diantara umur-umur tersebut.

Bila sudah melewati umur dua tahun, namun anak masih belum mampu mengucapkan kata-kata, kemungkinan keadaan tersebut adalah awal dari terganggunya kemampuan berbicara. Penyebabnya perlu dilacak sejak dini, apakah karena faktor bawaan atau akibat penyakit lainnya. Bila kondisi itu adalah bagian dari faktor keturunan, misalnya jika ada anggota keluarga yang juga mengalami kondisi terlambat bicara, maka kasus demikian masih digolongkan sebagai slow talker.

Sangat tidak mudah untuk melacak penyebab terjadinya terlambat bicara pada anak. Penyebabnya diduga karena bawaan dari lahir, seperti keterbelakangan mental, tuli akibat campak Jerman (rubella), kerusakan otak akibat bayi lahir kuning berat (kernicterus), kelumpuhan otak cerebral palsy, atau adanya anomali pada langit-langit mulut, lidah, maupun bibir. 

Di luar faktor bawaan lahir, anak yang tidak mewarisi penyakit bawaan bisa mengalami terlambat bicara bila dia memiliki riwayat kejang, radang otak, polio, gangguan pembuluh darah otak, dan tumor otak.

Selain dengan melihat adanya gejala seperti belum bisa mengucapkan kata-kata setelah anak berusia dua tahun, kemungkinan gejala lainnya yang tampak yaitu seperti tidak bereaksi ketika diajak berbicara. Anak dengan kelainan tersebut tidak mampu mengikuti bunyi-bunyian dari lawan bicaranya. Kemungkinan kasus tersebut adalah developmental word deafness. 

Sedangkan pada kasus developmental motor aphasia, anak tidak mampu mengeluarkan suara sama sekali. Pada kondisi tersebut, IQ anak mungkin masih normal, tetapi hampir sebagian besar dari mereka mengalami keterbelakangan mental.

Anak juga tidak berkembang kemampuan berbicaranya bila ia mengalami tuli dan ketajaman penglihatannya rendah. Oleh sebab itu, upaya untuk mengamati kemampuan mendengar dan ketajaman melihat pada bayi sedini mungkin adalah suatu hal yang penting. Bayi yang tak bergeming bila diberikan suara tepukan atau bola matanya tidak rajin bergerak-gerak ketika diajak berbicara, kemungkinan memiliki kelemahan di bagian tersebut.

Terapi anak terlambat bicara dilakukan sesuai dengan penyebabnya. Bila penyebabnya adalah suatu kecacatan yang menetap atau kerusakan otak, maka keterlambatan bicaranya sudah tak mungkin lagi diperbaiki. Yang masih memungkinkan untuk dilakukan penyembuhan adalah jika penyebabnya sudah ditemukan sedini mungkin. Termasuk kasus autisme pada anak, dimana penampilannya seolah-olah seperti anak yang mengalami terlambat bicara.