Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nggak Capek Nyari Kambing Hitam Buat Kurban?

Nggak Capek Nyari 'Kambing Hitam' Buat Kurban?

Nggak Capek Nyari 'Kambing Hitam' Buat Kurban?

Menyalahkan orang atau hal lain sudah seakan 'lumrah' di kehidupan kita. Masyarakat kita memiliki kecendrungan untuk menyalahkan orang atau pihak lain atas apa yang terjadi atas diri mereka. Ketidakmampuan ekonomi yang mereka alami, adalah kesalahan pemerintah. 

Bahkan, dari kecil anak sudah di ajari untuk menyalahkan sesuatu atas apa yang terjadi dengan mereka. "Aduh, adek jatoh ya? Dasar ini batunya bikin adek jatoh, nanti mama pukul batunya".

Budaya ‘kambing hitam’ masih melekat erat pada masyarakat kita. Bukti keengganan untuk berkaca terhadap kesalahan diri.

Tempat kerja juga tak luput dengan budaya ini. Pasti salah satu dari kita pernah mendengar pernyataan-pernyataan seperti: "Ah, teman-teman Saya saja nih yang pada sirik dan suka ngadu ke bos, sehingga Saya masih sering dimarahin si bos" atau "Atasan Saya orangnya sulit, sukar diajak bicara, makanya prestasi kerja Saya ya begini-begini aja tidak bisa berkembang apalagi selama dia yang menjadi atasan Saya" atau "Perusahaan tempat Saya kerja pelit tidak bisa menghargai karyawannya, makanya gaji Saya ya segini-segini aja, nggak pernah cukup buat kebutuhan keluarga".

Jika kata-kata seperti di atas masih atau sering terdengar di tempat kerja kita atau bahkan kita sendiri yang seperti itu maka waspadalah, artinya 'kambing hitam' masih jadi piaraan favorit. Memang paling mudah menimpakan kesalahan pada orang lain dan bertindak seakan-akan kita tidak punya andil dalam kesalahan yang terjadi. 

Umumnya orang berbuat seperti ini untuk menghindari sanksi, cemooh atau vonis atas kesalahan yang telah diperbuat entah sengaja maupun tidak atau bisa juga karena faktor gengsi, malu karena telah berbuat salah. Sikap seperti ini justru akan berdampak negatif terhadap diri kita sendiri, karena orang lain justru tidak akan respek, disamping itu sikap mencari kambing hitam ini akan menutup ruang bagi diri kita untuk melakukan introspeksi terhadap diri kita. 

Kenapa? Karena waktu kita akan habis untuk mencari 'kambing-kambing hitam' mana yang bisa 'disembelih' untuk dijadikan kurban. Akan lebih produktif jika waktunya kita gunakan untuk mencari cermin dimana kita bisa berkaca dan melihat dimana letak kesalahan maupun kekurangan yang kita miliki. 

Faktor penyebab dari semua hal yang terjadi sebenarnya dapat kita golongkan menjadi dua yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor ekternal tentunya adalah hal-hal diluar diri dan kendali kita, seperti kebijakan pemerintah, kebijakan perusahaan, instruksi atasan, kondisi mental lingkungan, dll. Faktor internal adalah semua hal yang bersumber dari diri kita sendiri dan ada dalam kendali kita.

Faktor eksternal ada diluar kendali kita sehingga sangat sulit kalau tidak mau dibilang tidak mungkin bagi kita untuk merubahnya menjadi selaras dengan keinginan kita. Sebaliknya faktor internal ada dalam kuasa kita untuk mengendalikan, merubah sesuai yang kita inginkan. 

Orang-orang yang cenderung melihat kesalahan orang/pihak lain tergolong orang yang hanya mau melihat faktor eksternal sebagai penyebab. Padahal kalau kita mau sedikit merenung, jika kita hanya berkonsentrasi terhadap faktor eksternal akan sangat minim hasil yang bisa kita dapatkan. 

Adalah hal yang sangat sulit untuk merubah hal-hal diluar kendali kita, contoh kasus apakah mudah merubah keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM, walaupun banyak elemen masyarakat demo di sana-sini pemerintah tetap pada pendiriannya. Mungkin hanya stress atau rasa frustasi yang akan kita dapatkan jika kita selalu berharap atau menginginkan hal-hal eksternal ini berubah. 

Lalu apa yang dapat kita lakukan? Sebaiknya konsentrasilah terhadap faktor-faktor internal dalam diri kita, karena kita punya kuasa untuk merubahnya menjadi selaras dengan kondisi dan alam sekitar kita. Jika kita tidak dapat membuat pemerintah merubah keputusannya menaikkan harga BBM, ya berarti kitalah yang harus fleksibel melakukan berbagai perubahan semisal memperketat dan mengefisiensikan pos-pos pengeluaran.

Dalam konteks dunia kerja atau di kehidupan sehari-hari misalnya, kita harus berani berhenti menyalahkan atasan, perusahaan, pemerintah, atau lingkungan atas hal-hal yang terjadi terhadap diri kita. Pasti ada hal-hal dalam diri kita yang menjadi penyebab itu semua. Fokuslah pada hal-hal internal diri kita, bersikap fleksibel dan mau melakukan perubahan-perubahan yang memang diperlukan agar kembali selaras dengan lingkungan di mana kita berada.“ Jangan pernah berharap orang lain berubah, tapi ubahlah diri kita menjadi selaras dengan orang lain “